UNDARISUNDARIS

Waspada (Jurnal Pengembangan Pendidikan)Waspada (Jurnal Pengembangan Pendidikan)

Artikel ini mengkaji pemikiran Muhammad Abduh, seorang tokoh sentral pembaharu Islam modern, sebagai respons terhadap stagnasi intelektual dan tantangan kolonialisme pada abad ke-19. Pendekatan menggunakan konseptual-filosofis dengan metode analisis kritis hermeunetic interpretative terhadap karya Muhammad Abduh secara tekstual, intertekstual dan kontekstual. Artikel ini menganalisis landasan filosofis, implementasi, dan pengaruh pemikiran Abduh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemikiran Abduh dibangun di atas tiga pilar fundamental: integrasi ilmu, rasionalitas kritis, dan pendidikan sebagai emansipasi. Pemikiran Muhammad Abduh relevan dengan pandangan realisme, progresivisme, rekonstruktivisme, dan humanisme religius yang menekankan pada pendidikan yang puritanis, berkemajuan (progressive), visioner dan memuliakan akal manusia. Warisan pemikirannya terbukti sangat berpengaruh secara transnasional, terutama di Indonesia, dengan lahirnya pendidikan Islam modern seperti sekolah di bawah naungan Muhammadiyah, Al-Irsyad dan Persis. Pemikiran Muhammad Abduh memiliki implikasi kuat bagi pendidikan Islam kontemporer, khususnya dalam urgensi pengembangan kurikulum integratif, pembudayaan berpikir kritis (ijtihad) dan saintifik yang berperan sebagai solusi atas permasalahan umat Islam Indonesia.

Penelitian ini melacak warisan intelektual Muhammad Abduh, dari akarnya sebagai respons terhadap jumud (stagnasi) intelektual di Al-Azhar pada abad ke-19, hingga transformasinya yang meluas dalam lanskap pendidikan Islam di Indonesia.Analisis hermeneutik-filosofis terhadap pemikiran Abduh menunjukkan bahwa gagasannya dibangun di atas tiga pilar fundamental.(1) Integrasi Ilmu, yang menolak secara tegas dualisme antara ilmu agama dan ilmu umum (sains).(2) Rasionalitas Kritis, yang berupaya menggantikan taqlid (kepatuhan buta) dengan ijtihad (penalaran independen) dan (3) Pendidikan sebagai Emansipasi, yang bertujuan membebaskan akal manusia dari kebodohan internal dan bangsa dari kolonialisme eksternal.Meskipun upaya reformasi Abduh di Al-Azhar (1895-1905) menghadapi resistensi hebat dari kubu ulama konservatif, gagasannya terbukti lebih besar dari institusinya.Warisan pemikirannya berhasil diekspor ke Nusantara melalui jaringan ulama (pelajar Jawi) dan media cetak (majalah Al-Manar).Di Indonesia, gagasan Abduh tidak hanya menjadi wacana, tetapi bertransformasi menjadi sebuah gerakan sosial-pendidikan yang konkret.Ini termanifestasi dalam pendirian lembaga-lembaga pendidikan Islam modernis seperti Muhammadiyah, Al-Irsyad, dan Persatuan Islam (Persis).Lembaga-lembaga ini secara langsung mengimplementasikan visi Abduh tentang kurikulum integratif dan rasionalitas kritis, yang pada gilirannya menciptakan medan pertempuran intelektual baru melawan Kaum Tua (tradisionalis) yang berakar pada sistem pesantren.

1. Penelitian lanjutan dapat mengkaji dampak integrasi ilmu agama dan sains dalam kurikulum pendidikan Islam modern di Indonesia, khususnya dalam konteks pengembangan pendidikan yang berbasis ijtihad. 2. Studi tentang penerapan prinsip rasionalitas kritis Abduh dalam memahami teks suci dan menghadapi tantangan globalisasi informasi di kalangan generasi muda Muslim. 3. Penelitian tentang peran pendidikan sebagai alat emansipasi dalam membangun masyarakat yang lebih inklusif dan berdaya saing, dengan mempertimbangkan konteks lokal dan global.

  1. Manfaat dan Kesehatan - IAIN PWT. manfaat kesehatan iain menu featured alya ketahui leci solusi sehat... doi.org/10.24090/jk.v7i2.3517Manfaat dan Kesehatan IAIN PWT manfaat kesehatan iain menu featured alya ketahui leci solusi sehat doi 10 24090 jk v7i2 3517
Read online
File size348.34 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test