PTIQPTIQ

IQ (Ilmu Al-qur'an): Jurnal Pendidikan IslamIQ (Ilmu Al-qur'an): Jurnal Pendidikan Islam

Penelitian ini bertujuan untuk merinci perjalanan Islam di Kota Barus dengan maksud memahami perkembangan Islam di wilayah Nusantara. Pada tanggal 24 Maret 2017, Pemerintah Republik Indonesia secara resmi menetapkan Kota Barus sebagai tugu titik nol pusat peradaban Islam Nusantara. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan sejarah, kritik, dan interpretasi. Peneliti menggunakan skema berikut: pertama, mengevaluasi sumber informasi sejarah terkait dengan sejarah Islam di Barus, kemudian melakukan analisis, kritik, dan interpretasi terhadap informasi tersebut. Hasil penelitian ini akan mengungkapkan peran Barus sebagai titik awal penyebaran Islam di Nusantara, diikuti oleh penyebaran ke wilayah lain seperti Peureulak dan Pasai. Meskipun Barus menerima Islam lebih awal, wilayah ini tidak membentuk kekuasaan atau kerajaan Islam yang memiliki kekuatan politik.

Sejarah menunjukkan Islam pertama kali masuk ke Nusantara melalui Kota Barus pada masa Rasulullah, berdasarkan sumber Tiongkok yang mencatat kedatangan duta Khalifah pada tahun 651 M.Duta tersebut mendirikan Daulah Islamiyah di pesisir Sumatera, hanya 20 tahun setelah wafatnya Rasulullah.Barus menjadi wilayah awal penerima Islam dan menyebarkan agama ke daerah lain seperti Peureulak dan Pasai, namun tidak membentuk kekuatan politik atau kerajaan Islam.

Penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi pertanyaan apakah teknik penanggalan radiokarbon dan analisis stratigrafi dapat memperkuat bukti keberadaan pemukiman Islam awal di Barus, serta menentukan kerangka kronologis yang lebih tepat. Selanjutnya, penting untuk meneliti bagaimana jaringan perdagangan antara Barus dan wilayah Timur Tengah, khususnya Gujarat dan Arab, berkontribusi pada penyebaran agama Islam, dengan memanfaatkan data kuantitatif dari catatan pelayaran dan arsip perdagangan. Penelitian ketiga dapat menyelidiki dampak institusi pendidikan Islam tradisional, seperti surau dan pesantren, terhadap pembentukan identitas sosial‑budaya masyarakat Barus hingga masa kini, melalui pendekatan etnografi dan survei longitudinal. Kajian arkeologi komparatif antara nisan Barus dan situs serupa di Aceh dapat mengungkap perbedaan stilistik yang mencerminkan interaksi budaya. Analisis teks manuskrip kuno yang ditemukan di Barus dapat memberikan wawasan tentang perkembangan pemikiran keagamaan pada abad ke‑7 hingga ke‑10. Penelitian interdisipliner yang menggabungkan sejarah, arkeologi, dan ilmu komputer dapat memperkaya pemahaman tentang dinamika penyebaran Islam di Nusantara. Akhirnya, studi perbandingan antara model pendidikan Islam di Barus dan daerah lain dapat menilai efektivitas integrasi kurikulum modern dengan tradisi keagamaan.

Read online
File size323.79 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test