UGJUGJ

Deiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra IndonesiaDeiksis: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Pembelajaran Bahasa Indonesia bertujuan agar siswa dapat mengembangkan keterampilan berbahasa. Dalam keterampilan berbahasa meliputi keterampilan menyimak, membaca, berbicara, dan menulis. Pembelajaran Bahasa Indonesia dapat dikatakan bahwa terampil berbahasa berarti terampil menulis. Orang yang memiliki banyak kosa-kata, maka semakin terampil berbahasa. Sebaliknya, jika seseorang hanya memiliki sedikit kosa-kata, maka akan sulit untuk terampil berbahasa. Keterampilan berbahasa membaca dan menulis memiliki keterkaitan satu sama lain. Keterampilan berbahasa menulis bergantung pada keterampilan berbahasa membaca. Karakteristik sebagian siswa sekolah menengah menunjukkan bahwa mereka masih mengalami kesulitan ketika menyampiakan ide ke bentuk tertulis, khususnya cerita pendek. Peserta didik cenderung nyaman terampil berbicara dan bercerita secara lisan dibandingkan menuliskannya. Kondisi ini sesuai temuan penelitian sebelumnya menyebutkan keterampilan menulis cerita pendek di tingkat SMA masih menghadapi berbagai tantangan, antara lain keterbatasan kosakata, minimnya latihan, rendahnya rasa percaya diri, serta kurangnya pemahaman terhadap struktur dan teknik penulisan yang efektif (Dalman, 2014; Syahputra & Ginting, 2021). Menulis cerita pendek membutuhkan banyak ide, gagasan, dan perasaan dari penulis cerita. Siswa harus diberi insentif, bimbingan, dan latihan untuk menumbuhkan minat dan keterampilan siswa dalam membaca cerita pendek, karena membaca cerita pendek dapat menambah kosa kata, ide, atau gagasan, sehingga lebih mudah bagi peserta didik menyampaikan ide-ide tertulis. Penggunaan media pembelajaran membantu tingkat pemahaman peserta didik tentang teknik penulisan cerita pendek, desain plot, pengembangan karakter, dan menulis cerita pendek yang menarik. Dengan mengetahui bagaimana penggunaan media berdampak, mereka dapat membuat pendekatan pengajaran yang efektif dan membantu siswa menulis dalam konteks literasi media yang semakin berkembang. Penggunaan media audio visual, terutama yang berkaitan dengan nilai sejarah dan budaya lokal seperti “Asal-Usul Kediri, dianggap dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang konteks cerita yang memicu imajinasi mereka. Selain itu, media audio visual memungkinkan siswa untuk lebih memahami alur cerita, karakter, dan latar dalam konteks yang nyata dan menarik. Pembelajaran berbasis audio visual sering kali menarik siswa daripada pembelajaran tertulis. Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan bahwa penggunaan media pembelajaran inovatif, termasuk media audio-visual, mampu meningkatkan keterampilan menulis dengan cara memperkaya ide dan memudahkan pemahaman siswa terhadap alur, tokoh, dan latar cerita (Murjani, 2022; Muarifin, 2017). Namun, sebagian besar penelitian tersebut lebih menitikberatkan pada media umum atau berbasis cerita fiksi populer, dan belum banyak yang memanfaatkan media berbasis budaya dan sejarah lokal sebagai sarana pembelajaran menulis. Celah penelitian inilah yang menjadi fokus studi ini, yaitu menguji pengaruh penggunaan media audio-visual “Asal-Usul Kediri. Sebuah karya yang mengangkat nilai budaya dan sejarah daerah Kediri terhadap keterampilan menulis cerita pendek siswa. Diharapkan penelitian dilakukan dapat memperkuat literasi siswa sekaligus menanamkan apresiasi terhadap kearifan lokal melalui kegiatan menulis.

Penggunaan media audio visual Asal-Usul Kediri terbukti efektif meningkatkan praktik terampil menulis cerita pendek siswa kelas XI fase F SMA Negeri 4 Kota Kediri tahun ajaran 2024/2025.Hasil posttest menunjukkan perbedaan signifikan antara kelompok eksperimen dan kontrol, dengan hasil kelompok eksperimen memperoleh rata-rata skor 82,50, sedangkan kelompok kontrol 77,14.Hal ini membuktikan bahwa media audio visual berbasis budaya lokal mampu memperkaya ide, meningkatkan pemahaman struktur cerita, dan memotivasi siswa dalam menulis.Temuan ini menguatkan pentingnya pemanfaatan media pembelajaran yang relevan dengan konteks budaya siswa untuk meningkatkan keterampilan berbahasa, khususnya menulis cerita pendek.

Berdasarkan hasil penelitian ini, kami menyarankan agar penelitian lanjutan dilakukan dengan fokus pada pengembangan media audio-visual yang lebih interaktif dan menarik untuk meningkatkan keterampilan menulis cerita pendek siswa. Selain itu, penelitian dapat dilakukan dengan melibatkan siswa dari berbagai latar belakang budaya dan sejarah lokal, untuk melihat apakah media audio-visual yang berbasis budaya lokal dapat meningkatkan keterampilan menulis cerita pendek secara lebih luas. Terakhir, penelitian dapat dilakukan untuk mengeksplorasi efek jangka panjang penggunaan media audio-visual dalam pembelajaran menulis cerita pendek, apakah peningkatan keterampilan menulis ini dapat bertahan dan terus berkembang di masa mendatang.

  1. Rancangan Eksperimen-Kuasi | Hastjarjo | Buletin Psikologi. rancangan eksperimen kuasi hastjarjo buletin... doi.org/10.22146/buletinpsikologi.38619Rancangan Eksperimen Kuasi Hastjarjo Buletin Psikologi rancangan eksperimen kuasi hastjarjo buletin doi 10 22146 buletinpsikologi 38619
  2. One moment, please.... one moment please wait request verified doi.org/10.54065/jld.4.1.2024.448One moment please one moment please wait request verified doi 10 54065 jld 4 1 2024 448
  3. Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia Youtuber Eropa pada Tataran Linguistik | Deiksis: Jurnal Pendidikan... jurnal.ugj.ac.id/index.php/Deiksis/article/view/6908Analisis Kesalahan Berbahasa Indonesia Youtuber Eropa pada Tataran Linguistik Deiksis Jurnal Pendidikan jurnal ugj ac index php Deiksis article view 6908
Read online
File size333.64 KB
Pages17
DMCAReport

Related /

ads-block-test