TROPICALHEALTHANDMEDICALRESEARCHTROPICALHEALTHANDMEDICALRESEARCH

Tropical Health and Medical ResearchTropical Health and Medical Research

Stunting tetap menjadi tantangan kesehatan masyarakat utama di Indonesia dan terkait dengan berbagai faktor biologis, maternal, sosial, dan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan stunting pada balita di Indonesia dan menggambarkan variasi geografis dalam prevalensi stunting di seluruh provinsi menggunakan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024. Studi observasional lintas-seksi ini menggunakan data dari 298.970 balita di 38 provinsi dan 510 distrik/kota. Regresi logistik multivariat yang ditimbang dengan provinsi sebagai efek tetap digunakan untuk memperkirakan rasio peluang disesuaikan (AOR), yang dilengkapi dengan Global Morans I, Local Indicators of Spatial Association (LISA), dan pemetaan kuantil untuk menilai distribusi geografis dan korelasi spasial. Prevalensi stunting adalah 22,7%. Laki-laki (OR 1,11), anak-anak yang tinggal di daerah pedesaan (OR 1,32), mereka yang berusia 24-35 bulan (OR 1,29), mereka dengan berat lahir rendah (OR 2,08), dan mereka yang lahir prematur (OR 1,34) memiliki peluang lebih tinggi untuk mengalami stunting. Pendidikan orang tua yang lebih rendah, suplemen besi <90 tablet, perawatan antenatal yang tidak lengkap, anemia ibu, defisiensi energi kronis, sanitasi yang tidak memadai (OR 1,44), air minum yang tidak memadai (OR 1,45), dan kepadatan hunian yang tinggi (OR 1,38) juga secara signifikan berhubungan dengan stunting (p < 0,05). Perbedaan yang signifikan dalam peluang disesuaikan diamati di seluruh provinsi (χ² = 618,977; p < 0,001), dengan AOR tertinggi di Papua Pegunungan (5,82; 95% CI: 3,55-9,56) dan Nusa Tenggara Timur (4,69; 95% CI: 3,70-5,95), dibandingkan dengan Bali sebagai provinsi acuan. Analisis spasial menunjukkan korelasi spasial positif yang signifikan (Morans I = 0,3634; Z = 2,7271; p = 0,01), dengan kluster prevalensi tinggi di wilayah timur. Stunting berhubungan dengan berbagai faktor individu, rumah tangga, dan lingkungan, dan menunjukkan kluster geografis yang signifikan di seluruh provinsi Indonesia. Strategi berbasis bukti yang ditargetkan secara geografis harus memprioritaskan intervensi dari kehamilan hingga dua tahun pertama kehidupan, literasi gizi, cakupan imunisasi, sanitasi, air minum, dan perumahan sehat, terutama di kluster spasial tinggi-tinggi.

Stunting pada anak di bawah lima tahun di Indonesia secara signifikan berhubungan dengan faktor biologis, maternal, sosial, dan lingkungan, dengan pola spasial yang menunjukkan prevalensi stunting yang lebih tinggi di beberapa wilayah timur, terutama Papua dan Nusa Tenggara Timur.Faktor yang konsisten berhubungan dengan stunting termasuk usia anak yang lebih tua, jenis kelamin laki-laki, berat lahir rendah, tingkat pendidikan orang tua yang lebih rendah, dan sanitasi dan air minum yang tidak memadai.Percepatan pengurangan stunting memerlukan fokus pada intervensi gizi dari kehamilan hingga dua tahun pertama kehidupan, peningkatan literasi gizi, dan perbaikan sanitasi melalui kolaborasi lintas sektoral di area dengan prevalensi stunting yang tinggi.Penelitian ini menyediakan bukti nasional terbaru untuk mendukung kebijakan gizi yang berkelanjutan dan berbasis bukti untuk mempercepat kemajuan menuju Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2024 dan SDG 2.Penelitian masa depan harus menggunakan desain longitudinal untuk menilai hubungan sebab-akibat dan mengintegrasikan data spasial dan perilaku untuk memahami faktor budaya dan efektivitas intervensi pengurangan stunting.

Untuk mempercepat pengurangan stunting di Indonesia, penelitian lanjutan dapat mengusulkan strategi intervensi yang lebih terintegrasi dan ditargetkan secara geografis. Studi longitudinal dapat mengeksplorasi hubungan sebab-akibat antara faktor-faktor yang berhubungan dengan stunting, seperti pendidikan orang tua, sanitasi, dan air minum yang tidak memadai. Selain itu, penelitian dapat menyelidiki peran faktor-faktor budaya dan sosial dalam menentukan prevalensi stunting di wilayah tertentu, serta efektivitas intervensi gizi dan sanitasi yang ditargetkan secara geografis. Dengan menggabungkan pendekatan multidisiplin dan analisis spasial, penelitian lanjutan dapat memberikan wawasan yang lebih dalam tentang faktor-faktor yang berkontribusi terhadap stunting dan membantu mengembangkan strategi intervensi yang lebih efektif dan berkelanjutan.

  1. Trends and factors contributing to changes in childhood stunting in Bangladesh from 2012 to 2019: A multivariate... doi.org/10.1371/journal.pgph.0004890Trends and factors contributing to changes in childhood stunting in Bangladesh from 2012 to 2019 A multivariate doi 10 1371 journal pgph 0004890
  2. Manfaat dan Kesehatan - IAINSU. manfaat kesehatan iainsu ketahui buah kelapa muda tahu daging matang... doi.org/10.33006/ji-kes.v5i1.246Manfaat dan Kesehatan IAINSU manfaat kesehatan iainsu ketahui buah kelapa muda tahu daging matang doi 10 33006 ji kes v5i1 246
  3. Client Challenge. client challenge javascript disabled browser please enable proceed required part site... doi.org/10.1186/s12889-021-12178-6Client Challenge client challenge javascript disabled browser please enable proceed required part site doi 10 1186 s12889 021 12178 6
  4. Sociodemographic risk factors of under-five stunting in Bangladesh: Assessing the role of interactions... journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0256729Sociodemographic risk factors of under five stunting in Bangladesh Assessing the role of interactions journals plos plosone article id 10 1371 journal pone 0256729
Read online
File size370.02 KB
Pages13
DMCAReport

Related /

ads-block-test