BDKJAKARTABDKJAKARTA
Wawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan JakartaWawasan: Jurnal Kediklatan Balai Diklat Keagamaan JakartaPenelitian ini dimotivasi oleh permasalahan pelaksanaan tugas pejabat penyetaraan dalam Kementerian Agama di Kalimantan Barat, baik di IAIN Pontianak maupun Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Barat. Analisis didasarkan pada empat aspek yang dikemukakan Hoogerwerf yang berkontribusi pada kegagalan implementasi kebijakan: isi kebijakan, tingkat informasi yang diterima aktor, dukungan kebijakan, dan distribusi potensi. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan data yang dikumpulkan melalui diskusi kelompok terfokus dan wawancara. Temuan mengungkap beberapa isu: pada aspek isi kebijakan terdapat kesenjangan kompetensi di antara pejabat dan penilaian kinerja sering tidak selaras dengan tugas sebenarnya; informasi yang diterima pejabat cenderung suboptimal; dukungan kebijakan cukup, namun terdapat kesenjangan pendapatan serta persyaratan ujian kompetensi, formasi, dan pelatihan yang menghambat promosi; serta distribusi potensi menunjukkan banyak pejabat masih melaksanakan tugas administratif yang lebih bersifat organisasi umum. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian memberikan rekomendasi: pertama, redistribusi pejabat ke unit fungsional yang tepat harus diprioritaskan, bersamaan dengan penerapan sistem kerja dinamis, diversifikasi uraian pekerjaan fungsional agar lebih sesuai dengan tugas organisasi, serta memfasilitasi mutasi pekerjaan strategis; kedua, kesenjangan kompetensi harus ditangani melalui peningkatan berkelanjutan; ketiga, restrukturisasi menyeluruh posisi fungsional oleh BKN dan Kemenpan RB diperlukan untuk menjamin kepastian karier dan kesetaraan kesejahteraan.
Implementasi kebijakan penyetaraan jabatan di IAIN Pontianak dan Kantor Wilayah Kementerian Agama Kalimantan Barat telah mentransformasikan 43 jabatan administrasi menjadi fungsional, namun terdapat kesenjangan kompetensi, ketidaksesuaian tugas, dan beban tugas administratif yang masih tinggi.Dukungan kebijakan yang memadai tidak cukup mengatasi hambatan terkait pendapatan, persyaratan kompetensi, dan distribusi potensi, sehingga menghambat produktivitas pejabat fungsional.Oleh karena itu, diperlukan redistribusi ke unit kerja yang relevan, program pelatihan berkelanjutan, dan restrukturisasi kebijakan karier untuk memastikan kesetaraan kesejahteraan dan kinerja yang optimal.
Penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi bagaimana penerapan alat penilaian kompetensi digital dapat meningkatkan kesesuaian antara uraian pekerjaan fungsional dan tugas sebenarnya bagi pejabat penyetaraan di Kalimantan Barat. Dengan menguji efektivitas sistem penilaian berbasis data, studi tersebut dapat mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi akurasi penempatan jabatan dan memberikan rekomendasi kebijakan teknologi informasi. Selanjutnya, sebuah penelitian dapat menyelidiki dampak program mentorship terstruktur terhadap penutupan kesenjangan kompetensi dan penyelarasan penilaian kinerja bagi pejabat fungsional yang baru diangkat. Pendekatan kualitatif‑kuantitatif yang melibatkan survei dan studi kasus di beberapa institusi akan membantu menilai perubahan motivasi, kepuasan kerja, dan tingkat keberhasilan promosi. Selain itu, penting untuk mengkaji kerangka koordinasi kebijakan multi‑tingkat antara Kementerian Agama pusat, kantor wilayah provinsi, dan institusi pendidikan tinggi dalam menyeimbangkan distribusi potensi dan mengurangi beban tugas administratif. Penelitian ini dapat menggunakan analisis jaringan institusional untuk mengungkap hambatan komunikasi dan peluang sinergi yang dapat meningkatkan efisiensi kerja fungsional. Hasil tiga studi tersebut diharapkan memberikan dasar empiris bagi pembuat kebijakan dalam merancang mekanisme redistribusi pejabat, program pelatihan berkelanjutan, dan reformasi struktural yang lebih responsif. Dengan demikian, kebijakan penyetaraan jabatan dapat lebih efektif mendukung profesionalisme, kesejahteraan, dan akuntabilitas dalam layanan publik Kementerian Agama.
| File size | 349.63 KB |
| Pages | 20 |
| DMCA | Report |
Related /
STAKATNPONTIANAKSTAKATNPONTIANAK Studi ini menggunakan model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) sebagai upaya intervensi. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilakukan dalam dua siklus, masing-masingStudi ini menggunakan model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) sebagai upaya intervensi. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilakukan dalam dua siklus, masing-masing
UMPWRUMPWR Model pembelajaran Problem-Based Learning (PBL) berbantuan simulasi PhET terbukti efektif dalam mengurangi miskonsepsi dan meningkatkan pemahaman konseptualModel pembelajaran Problem-Based Learning (PBL) berbantuan simulasi PhET terbukti efektif dalam mengurangi miskonsepsi dan meningkatkan pemahaman konseptual
UNISAPUNISAP Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia siswa kelas V sekolah dasar melalui penerapan model pembelajaran Problem BasedPenelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia siswa kelas V sekolah dasar melalui penerapan model pembelajaran Problem Based
PCMKRAMATJATIPCMKRAMATJATI Temuan menunjukkan bahwa kedua model ini mendorong keterlibatan aktif siswa dalam pembelajaran kooperatif dan pemecahan masalah kontekstual. Meskipun terdapatTemuan menunjukkan bahwa kedua model ini mendorong keterlibatan aktif siswa dalam pembelajaran kooperatif dan pemecahan masalah kontekstual. Meskipun terdapat
STITMUBOSTITMUBO Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Hasil analisis menunjukkan bahwa Penerapan model pembelajaran PBL pada pembelajaran telahPenelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Hasil analisis menunjukkan bahwa Penerapan model pembelajaran PBL pada pembelajaran telah
JURNALDIDAKTIKAJURNALDIDAKTIKA Latar belakang penelitian ini adalah rendahnya kemampuan berpikir kritis. Jenis penelitian yang digunakan yaitu studi literatur. Studi literatur adalahLatar belakang penelitian ini adalah rendahnya kemampuan berpikir kritis. Jenis penelitian yang digunakan yaitu studi literatur. Studi literatur adalah
ARKAINSTITUTEARKAINSTITUTE Terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar siswa yang dibelajarkan menggunakan model Problem Based Learning berbantuan Bahan Ajar Terintegrasi NilaiTerdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar siswa yang dibelajarkan menggunakan model Problem Based Learning berbantuan Bahan Ajar Terintegrasi Nilai
UNIDAUNIDA Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran berbasis masalah terhadap kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita matematikaPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran berbasis masalah terhadap kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal cerita matematika
Useful /
BDKJAKARTABDKJAKARTA Sebanyak 60 responden dipilih secara purposif dari masing-masing rumpun. Hasil uji Shapiro-Wilk menunjukkan bahwa data tidak terdistribusi normal, sehinggaSebanyak 60 responden dipilih secara purposif dari masing-masing rumpun. Hasil uji Shapiro-Wilk menunjukkan bahwa data tidak terdistribusi normal, sehingga
BDKJAKARTABDKJAKARTA Studi menemukan penulis aktif, karya paling berpengaruh, dan kontribusi dominan dari Indonesia serta institusi Malaysia. Fokus penelitian berada pada aspekStudi menemukan penulis aktif, karya paling berpengaruh, dan kontribusi dominan dari Indonesia serta institusi Malaysia. Fokus penelitian berada pada aspek
BDKJAKARTABDKJAKARTA Implikasi praktisnya menekankan pentingnya penguatan infrastruktur digital, pengembangan kurikulum berbasis data, dan kemitraan strategis untuk mengoptimalkanImplikasi praktisnya menekankan pentingnya penguatan infrastruktur digital, pengembangan kurikulum berbasis data, dan kemitraan strategis untuk mengoptimalkan
UMPWRUMPWR Komik digital berbasis kearifan lokal yang dikembangkan telah terbukti valid dan layak digunakan dalam pembelajaran konsep fluida. Hasil validasi dariKomik digital berbasis kearifan lokal yang dikembangkan telah terbukti valid dan layak digunakan dalam pembelajaran konsep fluida. Hasil validasi dari