EDUJAVAREEDUJAVARE

International Assulta of Research and Engagement (IARE)International Assulta of Research and Engagement (IARE)

Dalam diskursus negara-bangsa modern, kewarganegaraan tidak lagi dapat dipahami sebagai status hukum formal dan final. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi konstruksi makna Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dalam pengalaman hidup sehari-hari orang Papua asli (OAP), dengan menekankan ambivalensi antara finalitas hukum negara dan pengalaman subjektif warga negara. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif, menerapkan metode fenomenologis-hermeneutik. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipan, dan analisis dokumen di berbagai wilayah Papua, termasuk Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Kabupaten Keerom, Kabupaten Manokwari, Kabupaten Jayawijaya, dan Kabupaten Merauke. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna NKRI bagi orang Papua asli bersifat situasional, historis, dan relasional. NKRI muncul secara paradoks: sebagai struktur administratif dan simbol nasional yang diikuti secara prosedural, tetapi seringkali tidak beresonansi secara afektif. Proses eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi negara menimbulkan makna yang bertentangan yang dinegosiasikan setiap hari melalui praktik sosial, simbol, dan pengalaman tubuh. Ambivalensi ini mempengaruhi pengalaman kewarganegaraan, menandakan legitimasi negara yang rapuh secara emosional meskipun sah secara hukum. Temuan ini menekankan bahwa nasionalisme dan kewarganegaraan bukan identitas final, tetapi proses makna yang terus dinegosiasikan. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman akademik dengan memperluas pemahaman tentang kewarganegaraan sebagaimana manifestasinya dalam konteks pasca-kolonial dan konflik, serta dengan menekankan pentingnya mengakui pengalaman subjektif warga negara dalam membangun legitimasi negara.

Berdasarkan hasil penelitian, kesimpulan akademik dari studi ini dapat dirumuskan sebagai berikut.Temuan penelitian menunjukkan bahwa makna Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bagi Orang Asli Papua (OAP) tidak terbentuk hanya melalui internalisasi diskursus konstitusional atau ideologi nasional.Makna tersebut muncul dari pengalaman tubuh bagaimana individu merasakan kehadiran negara dan dari ruang hidup yang dimediasi oleh interaksi sosial, kebijakan, dan proyek pembangunan.sebagai pelindung dan ancaman, sebagai sumber trauma dan harapan.Ambivalensi ini menegaskan bahwa pengalaman kewarganegaraan bersifat tubuh dan relasional, bukan hanya status hukum formal.Proses eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi narasi negara tidak linear.Negara muncul melalui simbol, kebijakan, dan layanan publik, tetapi ini diterima secara selektif oleh OAP.OAP mengakui negara secara hukum, tetapi secara eksistensial mereka terus merasakan jarak emosional.Konflik makna muncul dari kurangnya sinkronisasi antara logika negara modern dan ontologi masyarakat adat, menunjukkan bahwa kewarganegaraan Papua bersifat rapuh dan terus dinegosiasikan.Ambivalensi dalam sikap OAP terhadap NKRI mencerminkan bentuk legitimasi negara yang rapuh secara emosional.Keberadaan negara diakui, tetapi tidak selalu dirasakan sebagai kehadiran yang adil atau empati.Pengalaman sehari-hari OAP menunjukkan bahwa legitimasi institusional tidak selalu berjalan beriringan dengan legitimasi emosional atau simbolis.Hal ini memperkuat gagasan bahwa stabilitas formal tidak selalu mencerminkan integrasi sosial atau penerimaan di tingkat komunitas.Temuan studi ini menegaskan kebutuhan akan pendekatan fenomenologis dan konstruktivis sosial dalam memahami hubungan negara-masyarakat di Papua.Perspektif ini memungkinkan pembacaan makna hidup, ambivalen, dan situasional.Kewarganegaraan dipahami sebagai praktik, bukan hanya status hukum.negara dirasakan melalui tubuh, ruang, dan memori, bukan hanya sebagai institusi formal.Sesuai dengan itu, studi ini mengusulkan agar kewarganegaraan di Papua dipahami sebagai kewarganegaraan liminal dan afektif, di mana pengakuan hukum oleh negara tidak secara otomatis berubah menjadi rasa memiliki, kepercayaan, atau keterikatan simbolis.

Berdasarkan latar belakang, metode, hasil, dan keterbatasan penelitian ini, berikut adalah tiga saran penelitian lanjutan:. . 1. Mengembangkan penelitian yang berfokus pada pengalaman emosional dan simbolis orang Papua asli dalam membangun legitimasi negara. Penelitian ini dapat mengeksplorasi bagaimana pengalaman emosional dan simbolis tersebut mempengaruhi persepsi mereka terhadap NKRI dan bagaimana negara dapat membangun legitimasi yang lebih kuat melalui pendekatan empati dan relasional.. . 2. Melakukan studi komparatif antara berbagai wilayah di Papua untuk memahami bagaimana konteks sosial, budaya, dan sejarah lokal mempengaruhi konstruksi makna NKRI. Penelitian komparatif ini dapat membantu mengidentifikasi faktor-faktor spesifik yang berkontribusi terhadap ambivalensi dan negosiasi makna yang terjadi di setiap wilayah.. . 3. Mempertimbangkan pendekatan interdisipliner yang menggabungkan ilmu sosial, antropologi, dan psikologi dalam memahami dinamika kewarganegaraan di Papua. Pendekatan ini dapat membantu mengungkap faktor-faktor psikologis dan sosial yang mempengaruhi pengalaman kewarganegaraan orang Papua asli, serta bagaimana negara dapat merancang kebijakan yang lebih inklusif dan sensitif terhadap kebutuhan dan aspirasi mereka.

  1. THE IMPLEMENTATION OF PARTICIPATORY LEADERSHIP STYLE IN MICRO, SMALL AND MEDIUM ENTERPRISES (MSMES) (CASE... doi.org/10.33019/jia.v5i2.3965THE IMPLEMENTATION OF PARTICIPATORY LEADERSHIP STYLE IN MICRO SMALL AND MEDIUM ENTERPRISES MSMES CASE doi 10 33019 jia v5i2 3965
  2. Teacher Performance Pay and Student Learning: Evidence from a Nationwide Program in Peru | Economic Development... journals.uchicago.edu/doi/10.1086/714012Teacher Performance Pay and Student Learning Evidence from a Nationwide Program in Peru Economic Development journals uchicago edu doi 10 1086 714012
Read online
File size473.22 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test