UIN Ar-RaniryUIN Ar-Raniry

Jurnal Samarah: Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum IslamJurnal Samarah: Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam

Artikel ini membahas hubungan antara ajaran Islam dan budaya lokal dalam konteks Kerajaan Bone pada abad ke-19. Fokus penelitian diarahkan pada tantangan integrasi ajaran Islam dengan adat setempat. Metode yang digunakan adalah deskriptif-analisis dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan timbal balik antara Islam dan adat dalam kehidupan sosial dan politik kerajaan. Ajaran Islam yang bersifat toleran dan fleksibel memungkinkan terjadinya proses integrasi dengan budaya lokal. Peran ulama sangat penting dalam mengakomodasi ajaran Islam ke dalam tradisi masyarakat Bone, sementara perangkat adat dan kerajaan berperan dominan dalam mengakulturasi norma serta tata pergaulan dengan nilai-nilai Islam. Sinergi antara keduanya menciptakan tatanan sosial yang harmonis, sehingga Kerajaan Bone dapat dipandang sebagai kerajaan multikultural. Penelitian ini menegaskan bahwa integrasi Islam dan adat di Kerajaan Bone bukan sekadar proses adaptasi, melainkan juga pembentukan identitas budaya yang unik dan berkelanjutan.

Local customs frequently shape the practice of religion, as evidenced by celebrations such as the Prophets birthday, which in certain regions are intertwined with indigenous traditions including processions, dances, and the preparation of traditional foods.Many customary expressions are deeply inspired by religious beliefs, and both religion and custom commonly utilize symbols imbued with significant meaning.Within religious contexts, these symbols may manifest as objects, animals, or colors that are believed to possess spiritual power or represent core traditional values.Religion often adapts to local customs, facilitating greater acceptance within the community.In multicultural societies, however, the convergence of custom and religion may encounter challenges, particularly in the form of intolerance towards diversity.Certain religious groups may reject specific traditional practices upheld by others, resulting in prejudice and discrimination.A notable example of this dynamic occurred in the Bone Kingdom, where Islamic Sharia principles were integrated into the existing customary law system.The concept of pangadereng, the customary legal framework of the Bugis people began to incorporate Sharia elements following Islamization.This integration is evident in areas such as inheritance and marriage, where Islamic regulations were applied alongside indigenous customary values.Moreover, local religious scholars established intellectual connections with Islamic centers of learning in Makassar, Wajo, and even the Holy Land, fostering the emergence of an Islamic intellectual elite within Bone.This group played a critical role in harmoniously blending Islamic principles with local customs, thereby facilitating an organic Islamization of culture without provoking social discord.The nineteenth century, in particular, marked a significant period in consolidating the integration of Islam and indigenous traditions within the Bone Kingdom.

Untuk penelitian lanjutan, dapat diusulkan beberapa arah studi. Pertama, bagaimana peran ulama dalam proses integrasi Islam dan adat di Bone, khususnya dalam konteks pendidikan dan penyebaran ajaran Islam. Kedua, bagaimana dinamika interaksi antara Islam dan adat dalam kehidupan sosial dan politik Bone, termasuk dalam hal kepemimpinan dan pengambilan keputusan. Ketiga, bagaimana pengaruh integrasi Islam dan adat terhadap identitas budaya Bone, termasuk dalam hal ekspresi seni dan tradisi lokal. Dengan menggabungkan ketiga saran ini, penelitian lanjutan dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang proses integrasi Islam dan adat di Bone, serta kontribusinya terhadap identitas budaya dan sosial-politik di wilayah tersebut.

Read online
File size344.92 KB
Pages20
DMCAReport

Related /

ads-block-test