DRIYARKARADRIYARKARA

DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARADISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA

Pertemuan kebudayaan, salah satunya dalam bentuk masuknya agama baru ke suatu wilayah, memicu dinamika internal dan eksternal pada individu dan masyarakat untuk mencari cara bereksistensi yang paling mengembangkan. Salah satunya adalah adaptasi model interaksi individu dan masyarakat melalui demonisasi. Novel Things Fall Apart karya Chinua Achebe (1959) memperlihatkan demonisasi dalam agama asli suku Igbo di Nigeria melalui desakralisasi yang dinarrasikan secara mengerikan tetapi kaya dan menarik sebagai penodaan topeng egwugwu. Melalui kajian atas demonisasi dalam Things Fall Apart ditemukan pemahaman mengenai agama sebagai relasi komunikasi metaforik di tingkat real dan surreal. Kajian juga memperlihatkan bahwa agama, melalui demonisasi yang memaksa dilahirkannya kosakata dan narasi baru, menjadi agen perubahan sosial. Meskipun demikian, demonisasi yang mengimplikasikan perubahan sosial tersebut tidak dengan sendirinya menjadi tanda berakhirnya agama, sebab agama juga berperan sebagai fiksi yang memberi arah bagi persaudaraan yang dibentuk oleh umat manusia.

Demonisasi dalam agama, seperti perobekan topeng egwugwu, mencerminkan dinamika komunikasi antara realitas dan dimensi transenden dalam masyarakat.Proses ini memicu perubahan sosial melalui penciptaan narasi dan kosakata baru, serta menjadi mekanisme adaptasi terhadap transformasi budaya.Namun, agama tetap bertahan sebagai sumber identitas kolektif dan visi persatuan manusia meskipun mengalami desakralisasi.

Pertama, perlu diteliti bagaimana masyarakat adat membangun narasi baru untuk mempertahankan identitas religius mereka setelah mengalami demonisasi oleh agama mayoritas, dengan fokus pada strategi metaforis yang digunakan dalam tradisi lisan dan seni. Kedua, penting untuk mengkaji peran pendidikan formal dalam mempercepat atau menghambat proses demonisasi agama lokal, khususnya dalam konteks sekolah yang dikelola misionaris dan pengaruhnya terhadap generasi muda. Ketiga, perlu dieksplorasi bagaimana digitalisasi dan media sosial saat ini menjadi alat baru dalam proses demonisasi atau re-sakralisasi agama tradisional, serta bagaimana masyarakat adat menggunakan platform ini untuk merekonstruksi otoritas spiritual mereka di tengah arus globalisasi.

Read online
File size582.19 KB
Pages15
DMCAReport

Related /

ads-block-test