DRIYARKARADRIYARKARA
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARADISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARAArtikel ini menganalisis pernyataan proverbial (Prov. 3:18) melalui lensa metafora konseptual. Metafora ini bekerja dengan memetakan dua domain konseptual: satu domain asal (mitologi kuno tentang pohon ajaib yang memanjakan rasa haus manusia akan hidup kekal) dan satu domain tujuan (konsep kebijaksanaan dalam kehidupan). Metafora konseptual membantu pembaca memahami bahwa metafora pohon dalam Prov. 3:18 menanamkan imajinasi pembaca terhadap hadiah yang kuat, memberikan motivasi bagi mereka untuk mengejar kebijaksanaan dan bertahan dalam pencarian tersebut. Artikel ini juga menunjukkan bahwa metafora pohon baru-baru ini memperoleh makna penuh melalui referensi lain dalam Kitab Amsal (Prov. 11:30; 13:12; 15:4). Dengan demikian, metafora konseptual memungkinkan pembaca mengamati penyajian holistik Kitab Amsal, yang sering kali dianggap sebagai kumpulan peribahasa terpisah.
Metafora konseptual menggambar hubungan antara pohon magis dan kebijaksanaan, sehingga pembaca didorong untuk menekuni kebijaksanaan dengan tekad yang kuat.Metafora ini berfungsi sebagai insentif bagi pembaca untuk menyelidiki konsep kebijaksanaan secara mendalam dan memperkuat konsentrasi pada tujuan tersebut.Melalui analisis ini, penulis menunjukkan bahwa pemahaman metafora ini dapat meningkatkan persepsi pembaca tentang kesatuan Kitab Amsal.
Satu arah penelitian baru dapat berupa studi komparatif mengenai persepsi pembaca terhadap metafora pohon kehidupan di teks-teks klasik Timur Tengah, dengan tujuan memetakan perbedaan interpretasi dan dampaknya terhadap motivasi belajar. Akibatnya, peneliti dapat mengembangkan instrumen kuantitatif untuk mengukur penguatan kebijaksanaan setelah membaca menggunakan metafora, sehingga dapat dibandingkan efektivitasnya dengan metode instruksional tradisional. Penelitian selanjutnya juga dapat mengeksplorasi penggunaan metafora pohon dalam media digital modern, seperti aplikasi edukasi, untuk melihat apakah penyajian visual meningkatkan retensi konsep kebijaksanaan pada generasi muda.
| File size | 824.75 KB |
| Pages | 14 |
| DMCA | Report |
Related /
DRIYARKARADRIYARKARA Konsep Banalitas Keniscayaan ini menyoroti bagaimana imperatif bertahan hidup mendominasi, membungkam refleksi kritis dan menyerahkan otonomi, sehinggaKonsep Banalitas Keniscayaan ini menyoroti bagaimana imperatif bertahan hidup mendominasi, membungkam refleksi kritis dan menyerahkan otonomi, sehingga
DRIYARKARADRIYARKARA Initium tidak lagi dilarang, melainkan diserap ke dalam logika prediksi dan optimasi. Konsep natalitas pun tampak utopis karena ketakterdugaan yang menandaiInitium tidak lagi dilarang, melainkan diserap ke dalam logika prediksi dan optimasi. Konsep natalitas pun tampak utopis karena ketakterdugaan yang menandai
DRIYARKARADRIYARKARA Ditemukan bahwa penerapan hermeneutika Ricoeur menurut Zimmerman dapat memetakan dinamika linguistik dari perayaan liturgi yang memungkinkan tranformasiDitemukan bahwa penerapan hermeneutika Ricoeur menurut Zimmerman dapat memetakan dinamika linguistik dari perayaan liturgi yang memungkinkan tranformasi
DRIYARKARADRIYARKARA Penelitian ini menggunakan pendekatan lintas disiplin dengan mengintegrasikan perspektif filsafat, sosial, dan teknologis. Pertama-tama, lewat perspektifPenelitian ini menggunakan pendekatan lintas disiplin dengan mengintegrasikan perspektif filsafat, sosial, dan teknologis. Pertama-tama, lewat perspektif
DRIYARKARADRIYARKARA Dalam tulisan ini, penulis akan menunjuk‑kan mengapa argumen‑argumen yang ditujukan untuk menjustifikasi hukuman mati dengan merujuk pada efek jera,Dalam tulisan ini, penulis akan menunjuk‑kan mengapa argumen‑argumen yang ditujukan untuk menjustifikasi hukuman mati dengan merujuk pada efek jera,
DRIYARKARADRIYARKARA Teoris tentang ras dan rasialisasi dalam beberapa dekade terakhir telah terlalu bergantung pada sejarah rasisme di Amerika Utara (Amerika Serikat, Kanada,Teoris tentang ras dan rasialisasi dalam beberapa dekade terakhir telah terlalu bergantung pada sejarah rasisme di Amerika Utara (Amerika Serikat, Kanada,
DRIYARKARADRIYARKARA Kesimpulan ini didasarkan pada argumentasi post-Kantian yang menilai keindahan sebagai pengalaman moral, sublima, dan sempurna yang dapat dicapai melaluiKesimpulan ini didasarkan pada argumentasi post-Kantian yang menilai keindahan sebagai pengalaman moral, sublima, dan sempurna yang dapat dicapai melalui
DRIYARKARADRIYARKARA HT dapat menjelaskan keberadaan fenomena emergent, mengatasi masalah “tertutupnya penjelasan dan “kemubaziran determinan, serta menegaskan hubunganHT dapat menjelaskan keberadaan fenomena emergent, mengatasi masalah “tertutupnya penjelasan dan “kemubaziran determinan, serta menegaskan hubungan
Useful /
DRIYARKARADRIYARKARA Sebetulnya sasaran kritik Latour adalah paradigma modern yang mendikotomikan secara absolut antara ontologi dan epistemologi, seperti pada subjek‑objekSebetulnya sasaran kritik Latour adalah paradigma modern yang mendikotomikan secara absolut antara ontologi dan epistemologi, seperti pada subjek‑objek
DRIYARKARADRIYARKARA Sebagai promotor akomodasi, ia dapat dianggap sebagai pendahulu Konsili Vatikan II dan tokoh penting bagi misi Kristen serta sejarah hubungan lintas budayaSebagai promotor akomodasi, ia dapat dianggap sebagai pendahulu Konsili Vatikan II dan tokoh penting bagi misi Kristen serta sejarah hubungan lintas budaya
DRIYARKARADRIYARKARA Kedua, sedikit menyimpang dari tafsiran progresif dan dengan menimba inspirasi dari pemahaman Yunani dan Romawi kuno, artikel ini hendak menilai kembaliKedua, sedikit menyimpang dari tafsiran progresif dan dengan menimba inspirasi dari pemahaman Yunani dan Romawi kuno, artikel ini hendak menilai kembali
DRIYARKARADRIYARKARA Etika ini mengandaikan konsepsi manusia sebagai Homo Capax, yaitu manusia yang memiliki kesadaran yang terluka (wounded cogito) dan dikonstitusikan olehEtika ini mengandaikan konsepsi manusia sebagai Homo Capax, yaitu manusia yang memiliki kesadaran yang terluka (wounded cogito) dan dikonstitusikan oleh