DRIYARKARADRIYARKARA

DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARADISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA

Pendidikan yang berpusat pada anak menjadi kian populer karena sangat menekankan kebebasan, sesuatu yang sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat modern. Pendekatan progresif ini membuat otoritas guru dipertanyakan, karena dianggap terlalu tradisional dan tidak relevan lagi. Artikel ini ingin menelusuri konsep otoritas guru secara lebih mendalam melalui tulisan Hannah Arendt yang berjudul “The Crisis in Education. Pertama, akan diselidiki makna krisis dalam konteks Pendidikan di USA. Kedua, sedikit menyimpang dari tafsiran progresif dan dengan menimba inspirasi dari pemahaman Yunani dan Romawi kuno, artikel ini hendak menilai kembali makna otoritas dan relasinya dengan kebebasan. Ketiga, berdasarkan analisis makna otoritas tersebut, Arendt menegaskan bahwa guru memainkan peran krusial karena merekalah yang menyiapkan siswa untuk mencintai dan peduli kepada dunia sekitarnya (amor mundi). Penulis berpendapat lebih lanjut bahwa otoritas guru harus memperhatikan dimensi privat yang sangat memengaruhi proses pembelajaran siswa di sekolah. Hanya dengan demikian siswa dapat sungguh siap untuk kemudian memikul tanggung jawab sebagai aktor-aktor politis dalam masyarakat.

Artikel menegaskan bahwa otoritas guru tidak dapat diabaikan dalam pendidikan zaman sekarang, karena otoritas tersebut memfasilitasi pemahaman siswa tentang dunia dan membantu mereka menjadi agen politik yang bertanggung jawab.Penggabungan perspektif klasik Yunani-Romawi dan kritik Arendt atas pendidikan progresif memperlihatkan pentingnya otoritas sebagai sumber pengetahuan dan cinta pada dunia.Secara keseluruhan, penulis menekankan perlunya menjaga keseimbangan antara hak cipta guru dan kebebasan belajar siswa, serta memperhatikan dimensi privat agar proses belajar lebih efektif.

Sebelum melakukan penelitian lanjutan, pertimbangkan memperluas cakupan studi dengan menilai dampak otoritas guru terhadap perkembangan kognitif dan emosional siswa di sekolah dasar di wilayah pedesaan dan perkotaan; ini akan membuka pemahaman tentang perbedaan konteks sosial dan kebutuhan pendidikan lokal. Selanjutnya, eksplorasi peran teknologi digital dalam mendukung atau meniadakan otoritas guru dapat memberikan wawasan tentang bagaimana guru dapat memanfaatkan platform pembelajaran daring untuk memperkuat hubungan pedagogis dan membangun rasa tanggung jawab pada siswa. Terakhir, lakukan penelitian longitudinal yang mengkaji hubungan jangka panjang antara pengalaman awal siswa dengan otoritas guru dan partisipasi politik mereka sebagai remaja maupun dewasa, guna mengukur apakah pencitraan positif otoritas guru menghasilkan generasi yang lebih aktif secara demokratis dan bertanggung jawab sosial.

Read online
File size408.88 KB
Pages18
DMCAReport

Related /

ads-block-test