DRIYARKARADRIYARKARA

DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARADISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA

Di era postmodern, gagasan mengenai teori yang bersifat mutlak atau ide tentang kebenaran absolut tidak bisa diterima lagi. Hal ini menimbulkan persoalan: bagaimana menjelaskan agama yang memiliki peran penting dalam hidup manusia. Sebagian besar pemikir postmodern sebetulnya percaya bahwa ada kerinduan spiritual dalam tiap manusia yang mencari pemenuhannya dalam Diri Yang Sepenuhnya Lain (Wholly Other). Dengan cara mereka yang khas, mereka berusaha menjelaskan kerinduan mistik ini. Derrida merupakan salah satu pemikir postmodern yang berkontribusi pada Filsafat Ketuhanan kontemporer. Sejatinya proyek dekonstruksi yang dikembangkannya bersifat religius. Dekonstruksi agama bukanlah destruksi agama, melainkan penemuan kembali agama. Metode ini membuat manusia bersikap terbuka pada Diri Yang Sepenuhnya Lain, yang mungkin hadir atau tidak hadir namun memaksa kita menghayatinya seolah-olah telah hadir. Agama yang digambarkan Derrida ini merupakan potret iman postmodern. Bertolak dari latar belakang Yahudi, Derrida mengalami agama sebagai sebuah dekonstruksi, yang masih menunggu Apa Yang Sepenuhnya Nyata atau Kebenaran Absolut. Melalui dekonstruksi ia menyingkapkan aspek mistik agama.

Agama menurut Derrida bukanlah bentuk dogmatis atau institusional, melainkan sebuah kerinduan mistik dan kesiapan terhadap kedatangan Diri Yang Sepenuhnya Lain, seperti keadilan, perdamaian, atau keramahan.Iman postmodern ini berlandaskan pada penantian tanpa kepastian, namun tetap mengharuskan manusia bertindak seolah-olah yang ditunggu telah datang.Meskipun dikritik karena bersifat tidak pasti dan tidak berdasar pengalaman ilahi yang nyata, konsep ini berhasil menangkap esensi iman dalam konteks postmodern melalui pendekatan dekonstruksi.

Pertama, perlu diteliti bagaimana konsep messianicity tanpa messianism dapat diterapkan dalam agama-agama non-Abrahim, seperti Hindu atau Buddha, untuk melihat apakah kerinduan akan Yang Sepenuhnya Lain muncul dalam bentuk serupa meski tanpa narasi mesias. Kedua, penting untuk mengkaji dampak dari iman postmodern Derrida terhadap praktik keagamaan sehari-hari, seperti doa, ibadah, dan ritual, dengan pertanyaan: apakah ritual masih relevan jika maknanya terus terbuka dan tidak pasti? Ketiga, diperlukan penelitian tentang bagaimana sikap menunggu yang mustahil dapat memengaruhi gerakan sosial seperti keadilan lingkungan atau hak asasi manusia, khususnya dalam konteks aktivisme yang mengandalkan harapan tanpa jaminan hasil. Penelitian-penelitian ini dapat memperluas pemahaman tentang agama tanpa agama dan mengeksplorasi relevansi filosofis dekonstruksi dalam kehidupan spiritual dan sosial kontemporer.

Read online
File size317.85 KB
Pages16
DMCAReport

Related /

ads-block-test