DRIYARKARADRIYARKARA

DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARADISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA

Tulisan ini mempertanyakan pernyataan termasyhur Einstein bahwa Allah adalah ungkapan kelemahan manusia dan agama tak lain merupakan penjelmaan takhayul primitif. Dibenarkan bahwa perkembangan-perkembangan di alam raya dapat dijelaskan dengan hukum alam, bukan dengan campur tangan Allah. Tulisan ini fokus pada pengandaian dalam argumentasi Einstein, yaitu bahwa kepercayaan kepada “Yang-Di-Seberang merupakan penjelasan manusia atas pengalaman‑pengalaman yang tidak dapat mereka jelaskan. Namun, bahwa manusia mengacu kepada “Yang-Di-Seberang mengandaikan bahwa ia sudah percaya pada adanya “Yang-Di-Seberang“. Dengan bertolak dari pemikiran Levinas, akan ditunjukkan bahwa kesadaran moral, hati nurani, itulah yang membuka horizon manusia akan “Yang‑Di‑Seberang. Sebagai penutup akan ditunjukkan fakta bahwa munculnya alam raya dan perkembangan kehidupan di bumi secara ekstrem tidaklah probabil, dan jika alam raya diciptakan oleh Allah, ketidakprobabilitasan itu hilang.

Einstein dan Hawking menegaskan bahwa hukum alam dapat menjelaskan semua fenomena, sehingga penolakan terhadap keberadaan Tuhan tidak dapat diterima secara logis.Secara epistimologis, penekanan pada ketiadaan bukti empiris tidak mempertimbangkan kepercayaan terhadap Yang‑Di‑Seberang yang muncul dari kesadaran moral manusia.Akibatnya, argumentasi ateisme ilmiah tersebut melemah ketika mempertimbangkan kemungkinan keberadaan Tuhan dan implikasi moral yang terkait.

Melihat keterbatasan argumen ateisme ilmiah dalam menghitung probabilitas eksistensi alam dan kehidupan, penelitian berikutnya dapat memfokuskan tiga lintasan: pertama, mengembangkan metode statistik multivers yang dapat mengukur frekuensi kemungkinan alam raya yang mendukung kehidupan; kedua, melakukan studi interdisipliner antara filsafat moral dan sains realist untuk menguji keterkaitan antara kesadaran moral dan eksistensi metafisik; ketiga, mengeksplorasi model teologis yang konsisten dengan hukum alam modern untuk menentukan apakah konsep penciptaan bertindak secara non‑intervensi namun teleologis. Pendekatan‑pendekatan ini diharapkan dapat memperluas pemahaman tentang hubungan alam, moralitas, dan kemungkinan keilahian tanpa berpegang pada asumsi a priori.

Read online
File size301.25 KB
Pages21
DMCAReport

Related /

ads-block-test