DRIYARKARADRIYARKARA

DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARADISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA

Kesan bahwa Bruno Latour menolak epistemologi telah membuat pemikirannya kerap dimasukkan ke kategori pascamodernisme dan relativisme. Tulisan ini hendak menunjukkan bahwa kesan tersebut keliru. Sebetulnya sasaran kritik Latour adalah paradigma modern yang mendikotomikan secara absolut antara ontologi dan epistemologi, seperti pada subjek‑objek dan alam‑masyarakat. Latour memperlihatkan bahwa epistemologi modern itu tidaklah absolut. Cara ia melakukannya adalah dengan memasukkan variabel dua dimensi pada pengutuban satu dimensi, sehingga tercipta penundaan apriori ontologis. Konsep prinsip simetri dan penggunaan bahasa netral yang dapat mencakup pelbagai ontologi menjadi penting untuk memperoleh pengetahuan epistemik secara nyata, seperti kesejajaran manusia‑non‑manusia dan aktor‑aktant. Tulisan ini menutup dengan beberapa catatan kritis dan menawarkan konsekuensi lanjutan atas pemeriksaan epistemologi Bruno Latour.

Latour menolak ontologi dan epistemologi kaku yang sudah ditetapkan oleh paradigma modern dan menawarkan sebuah paradigma non‑modern yang menolak dikotomi absolut antara alam‑masyarakat serta subjek‑objek.Kriminalitas modern terpecah akibat pemisahan tegas antara bidang keilmuan, sehingga Latour menyoroti masalah epistemologi modern yang terkesan dikotomi.Dengan memperkenalkan prinsip simetri dan memperlakukan aktor‑aktant secara setara, Latour berupaya memfasilitasi interaksi antara manusia dan non‑manusia dalam produksi pengetahuan, sehingga menghasilkan epistemologi moluska yang hangat, multiseluler, dan terbuka terhadap kemungkinan ontologis.

Penelitian lanjutan dapat menganalisis bagaimana prinsip simetri dan bahasa netral dapat diimplementasikan dalam studi kasus laboratorium biomedis, dengan pertanyaan apakah penggunaan bahasa netral meningkatkan keragaman perspektif aktor‑aktant di dalam proses penelitian. Penelitian selanjutnya juga dapat mengeksplorasi peran non‑manusia dalam rekonstruksi sejarah ilmiah, misalnya dengan meneliti kontribusi mikroba dalam membentuk narasi medis pada era pembentukan teori ilmiah, serta menilai apakah pengakuan mikroba sebagai aktor dapat mengubah pemahaman publik tentang kesehatan. Akhirnya, studi dapat menilai dampak perubahan paradigma non‑modern terhadap kebijakan ilmiah dan publikasi ilmiah, dengan menanyakan apakah kebijakan yang mempromosikan inklusivitas aktor‑aktant dapat memperkaya kebijakan kesehatan masyarakat secara kuantitatif dan kualitatif.

Read online
File size665.97 KB
Pages37
DMCAReport

Related /

ads-block-test