DRIYARKARADRIYARKARA

DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARADISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA

Kekerasan seksual tidak hanya berdampak fisik dan psikologis, tetapi juga eksistensial. Pemulihan korban kekerasan seksual menjadi penyintas melibatkan etika belarasa, yang membantu korban memulihkan eksistensi dan daya eksistensial mereka. Artikel ini mengajukan tesis bahwa etika belarasa diperlukan untuk membantu proses pemulihan korban kekerasan seksual menjadi penyintas, dan etika ini mengandaikan konsepsi manusia sebagai Homo Capax, atau manusia yang mampu, dalam pemikiran Paul Ricoeur.

Kekerasan seksual merupakan peristiwa traumatis yang menghancurkan asumsi fundamental korban tentang dunia, diri, dan makna kehidupan.Pemulihan korban menjadi penyintas membutuhkan etika belarasa, yang terlahir dari dorongan emosional untuk berbelarasa kepada korban.Etika ini mengandaikan konsepsi manusia sebagai Homo Capax, yaitu manusia yang memiliki kesadaran yang terluka (wounded cogito) dan dikonstitusikan oleh kapabilitas dan kerentanan.Dalam diri korban masih terkandung kapabilitas yang akan membebaskannya dari ketidakberdayaan, dan etika belarasa memungkinkan korban meraih pembebasan itu dan menjalani kehidupan sebagai penyintas.

Untuk penelitian lanjutan, dapat diusulkan studi yang lebih mendalam tentang peran emosi dalam proses pemulihan korban kekerasan seksual, khususnya emosi belarasa. Selain itu, penelitian dapat dilakukan untuk mengeksplorasi bagaimana budaya dan konteks sosial mempengaruhi proses pemulihan dan bagaimana budaya empati dapat dikembangkan untuk mendukung pemulihan korban. Terakhir, penelitian dapat dilakukan untuk menganalisis lebih lanjut konsepsi manusia berkemampuan dalam pemikiran Paul Ricoeur dan bagaimana konsepsi ini dapat diterapkan dalam konteks pemulihan korban kekerasan seksual.

Read online
File size803.29 KB
Pages35
DMCAReport

Related /

ads-block-test