DRIYARKARADRIYARKARA
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARADISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARAKant memandang tinggi keindahan lingkungan alam dan menobatkannya sebagai derajat keindahan tertinggi bila dibandingkan dengan objek estetis lainnya seperti lukisan, patung, gedung, serta—dapat kita inferensikan—lingkungan buatan manusia. Argumen Kant terjangkar pada pemikiran transendentalnya, di mana keindahan murni hanya dapat didapatkan melalui penilaian imparsial, tanpa konsep, dan lain-lain. Walaupun pernyataannya tentang lingkungan alam valid, kita tidak dapat menggunakannya untuk menjustifikasi derajat keindahan lingkungan buatan manusia. Sebuah modificasi atas pikiran Kant diperlukan untuk dapat menilai lingkungan buatan manusia. Penelitian ini menggunakan teori estetika Kant untuk menjustifikasi derajat keindahan lingkungan buatan. Tesis yang hendak diajukan adalah bahwa lingkungan buatan manusia memiliki derajat keindahan yang sangat mendekati, bahkan sama, dengan lingkungan alami jika, dan hanya jika, lingkungan buatan tersebut mengadopsi konsep bioregionalisme dan ecomimicry, di mana totalitas dari lingkungan buatan manusia mengakomodasi hukum alam yang terdapat di lokasi tersebut, sehingga derajat keindahan lingkungan buatan tersebut setara dengan keindahan lingkungan alami.
Penelitian ini menunjukkan bahwa lingkungan buatan manusia dapat memiliki tingkat keindahan yang serupa, bahkan setara, dengan lingkungan alam jika didesain berdasarkan prinsip bioregionalisme dan ecomimicry.Pendekatan ini menegaskan bahwa pendekatan desain yang memperhitungkan hukum alam lokal serta kebudayaan dapat meningkatkan nilai estetika bangunan dan ruang terbangun.Kesimpulan ini didasarkan pada argumentasi post-Kantian yang menilai keindahan sebagai pengalaman moral, sublima, dan sempurna yang dapat dicapai melalui integrasi prinsip-prinsip alam dan kebudayaan.
Bagaimana efektivitas penerapan prinsip bioregionalisme dalam meningkatkan persepsi keindahan warga di kota yang memiliki karakteristik iklim tropis? Apakah pendekatan ecomimicry dapat disesuaikan secara kontekstual untuk menciptakan ruang publik yang tidak hanya mempertahankan keindahan tetapi juga fungsi ekologis di wilayah perkotaan yang padat? Sejauh mana kolaborasi lintas disiplin antara arsitek, urban planner, dan ilmuwan lingkungan dapat memperkuat implementasi desain berbasis bioregionalisme, dan bagaimana metrik kuantitatif dapat dikembangkan untuk menilai keberhasilan inisiatif tersebut?.
| File size | 732.81 KB |
| Pages | 28 |
| DMCA | Report |
Related /
DRIYARKARADRIYARKARA Berpikir merupakan dialog batin yang meneliti dan meluruhkan keyakinan yang tidak ditanyakan, sehingga memberikan ruang bagi pembentukan nilai moral. KetiadaanBerpikir merupakan dialog batin yang meneliti dan meluruhkan keyakinan yang tidak ditanyakan, sehingga memberikan ruang bagi pembentukan nilai moral. Ketiadaan
DRIYARKARADRIYARKARA Pada akhirnya, gagasan persaudaraan universal ini penting bagi kita di Indonesia dengan ciri pluralitasnya. Titik temu antara Stoa dan Paulus ada padaPada akhirnya, gagasan persaudaraan universal ini penting bagi kita di Indonesia dengan ciri pluralitasnya. Titik temu antara Stoa dan Paulus ada pada
DRIYARKARADRIYARKARA Perkembangan pesat kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), yang mampu meniru fungsi kognitif dan afektif manusia, memunculkan pertanyaan mendasar:Perkembangan pesat kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), yang mampu meniru fungsi kognitif dan afektif manusia, memunculkan pertanyaan mendasar:
DRIYARKARADRIYARKARA Cara ia melakukannya adalah dengan memasukkan variabel dua dimensi pada pengutuban satu dimensi, sehingga tercipta penundaan apriori ontologis. KonsepCara ia melakukannya adalah dengan memasukkan variabel dua dimensi pada pengutuban satu dimensi, sehingga tercipta penundaan apriori ontologis. Konsep
DRIYARKARADRIYARKARA Dalam tulisan ini, penulis akan menunjuk‑kan mengapa argumen‑argumen yang ditujukan untuk menjustifikasi hukuman mati dengan merujuk pada efek jera,Dalam tulisan ini, penulis akan menunjuk‑kan mengapa argumen‑argumen yang ditujukan untuk menjustifikasi hukuman mati dengan merujuk pada efek jera,
DRIYARKARADRIYARKARA Pendekatan yang ditawarkan Silva adalah membaca representasi modern dalam teks modern sebagai strategi ilmiah yang dapat melengkapi, membentuk, dan menggangguPendekatan yang ditawarkan Silva adalah membaca representasi modern dalam teks modern sebagai strategi ilmiah yang dapat melengkapi, membentuk, dan mengganggu
DRIYARKARADRIYARKARA Meskipun demikian, demonisasi yang mengimplikasikan perubahan sosial tersebut tidak dengan sendirinya menjadi tanda berakhirnya agama, sebab agama jugaMeskipun demikian, demonisasi yang mengimplikasikan perubahan sosial tersebut tidak dengan sendirinya menjadi tanda berakhirnya agama, sebab agama juga
DRIYARKARADRIYARKARA HT tidak mengalami problem yang dialami FNR karena tidak menjelaskan kontak tubuh‑jiwa melalui sebab e‑sien, melainkan melalui sebab formal dan nal.HT tidak mengalami problem yang dialami FNR karena tidak menjelaskan kontak tubuh‑jiwa melalui sebab e‑sien, melainkan melalui sebab formal dan nal.
Useful /
DRIYARKARADRIYARKARA Analisis menunjukkan bahwa konsumsi total atas tubuh (Tohari), komodifikasi diri (Ishiguro), dan kolonisasi waktu (Kafka) secara struktural menghalangiAnalisis menunjukkan bahwa konsumsi total atas tubuh (Tohari), komodifikasi diri (Ishiguro), dan kolonisasi waktu (Kafka) secara struktural menghalangi
DRIYARKARADRIYARKARA Di era digital ini, bentuk-bentuk kekuasaan juga mengalami perubahan, sehingga heroisme republikan ala Arendt terlihat konyol. Jika dahulu pembatasan danDi era digital ini, bentuk-bentuk kekuasaan juga mengalami perubahan, sehingga heroisme republikan ala Arendt terlihat konyol. Jika dahulu pembatasan dan
DRIYARKARADRIYARKARA Hal ini terungkap antara lain dalam pengakuan atas transendensi Yang Lain dan penolakan atas segala bentuk totalisasi. Etika Levinas dianggap sebagai moralitasHal ini terungkap antara lain dalam pengakuan atas transendensi Yang Lain dan penolakan atas segala bentuk totalisasi. Etika Levinas dianggap sebagai moralitas
DRIYARKARADRIYARKARA 3:18) melalui lensa metafora konseptual. Metafora ini bekerja dengan memetakan dua domain konseptual: satu domain asal (mitologi kuno tentang pohon ajaib3:18) melalui lensa metafora konseptual. Metafora ini bekerja dengan memetakan dua domain konseptual: satu domain asal (mitologi kuno tentang pohon ajaib