DRIYARKARADRIYARKARA

DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARADISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA

Fisikalisme Nonreduktif (FNR) adalah posisi filosofis yang menolak reduksi total terhadap materi namun masih menganggap materi sebagai satu-satunya substansi fundamental. FNR menghadapi masalah akibat komitmennya terhadap materialisme kontemporer, termasuk konflik antara prinsip keterbukaan penjelasan fisik dan keberadaan sebab‑bawah‑atas (causa atas‑bawah). Solusi yang diusulkan adalah Hilomorfisme Thomistik (HT), yang menekankan dua prinsip meta‑sik: materi prima dan forma substansial, sehingga memungkinkan interaksi tubuh‑jiwa (atau otak‑pikiran) melalui sebab formal dan nal, tanpa melanggar ketentuan kausatif fisik. HT dapat menjelaskan keberadaan fenomena emergent, mengatasi masalah “tertutupnya penjelasan dan “kemubaziran determinan, serta menegaskan hubungan holistik antara materi dan entitas non‑material.

HT tidak mengalami problem yang dialami FNR karena tidak menjelaskan kontak tubuh‑jiwa melalui sebab e‑sien, melainkan melalui sebab formal dan nal.HT juga mengatasi masalah ketidakmampuan FNR dan teori kecagunan dalam menjelaskan munculnya tingkat atas dari bawah, dengan menegaskan bahwa bentuk substansial (jiwa) menyediakan struktur dan organisasi pada tingkat bawah.Dengan model kesatuan tubuh‑jiwa, HT mengakomodasi kekuatan FNR sekaligus memberi solusi terhadap keterbatasan FNR.

Penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi bagaimana prinsip formal dan nal yang diusulkan HT dapat direpresentasikan dalam model matematis atau simulasi komputasional untuk memvalidasi interaksi antara materi prima dan forma substansial, sehingga dapat mengukur efektivitas kelayakan model ini dalam menjelaskan fenomena emergent. Selain itu, studi empiris dapat diarahkan untuk mengidentifikasi indikator fisiologis terbukti terkait dengan sebab formal dan nal pada otak manusia, misalnya melalui analisis pola sinaptik atau jaringan otak yang menunjukkan memori atau kapasitas adaptif yang tidak dapat dijelaskan hanya dengan mekanisme fisik deterministik. Akhirnya, kajian interdisipliner antara filsafat, neurosains, dan antropologi dapat meneliti implikasi etis dan epistemologis dari model HT, khususnya bagaimana konsep jiwa dan tanggung jawab moral dipengaruhi oleh pemahaman dualitas materi‑kaku dan bentuk‑non‑material ini.

Read online
File size808.5 KB
Pages26
DMCAReport

Related /

ads-block-test