DRIYARKARADRIYARKARA
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARADISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARAFisikalisme Nonreduktif (FNR) adalah posisi filosofis yang menolak reduksi total terhadap materi namun masih menganggap materi sebagai satu-satunya substansi fundamental. FNR menghadapi masalah akibat komitmennya terhadap materialisme kontemporer, termasuk konflik antara prinsip keterbukaan penjelasan fisik dan keberadaan sebab‑bawah‑atas (causa atas‑bawah). Solusi yang diusulkan adalah Hilomorfisme Thomistik (HT), yang menekankan dua prinsip meta‑sik: materi prima dan forma substansial, sehingga memungkinkan interaksi tubuh‑jiwa (atau otak‑pikiran) melalui sebab formal dan nal, tanpa melanggar ketentuan kausatif fisik. HT dapat menjelaskan keberadaan fenomena emergent, mengatasi masalah “tertutupnya penjelasan dan “kemubaziran determinan, serta menegaskan hubungan holistik antara materi dan entitas non‑material.
HT tidak mengalami problem yang dialami FNR karena tidak menjelaskan kontak tubuh‑jiwa melalui sebab e‑sien, melainkan melalui sebab formal dan nal.HT juga mengatasi masalah ketidakmampuan FNR dan teori kecagunan dalam menjelaskan munculnya tingkat atas dari bawah, dengan menegaskan bahwa bentuk substansial (jiwa) menyediakan struktur dan organisasi pada tingkat bawah.Dengan model kesatuan tubuh‑jiwa, HT mengakomodasi kekuatan FNR sekaligus memberi solusi terhadap keterbatasan FNR.
Penelitian selanjutnya dapat mengeksplorasi bagaimana prinsip formal dan nal yang diusulkan HT dapat direpresentasikan dalam model matematis atau simulasi komputasional untuk memvalidasi interaksi antara materi prima dan forma substansial, sehingga dapat mengukur efektivitas kelayakan model ini dalam menjelaskan fenomena emergent. Selain itu, studi empiris dapat diarahkan untuk mengidentifikasi indikator fisiologis terbukti terkait dengan sebab formal dan nal pada otak manusia, misalnya melalui analisis pola sinaptik atau jaringan otak yang menunjukkan memori atau kapasitas adaptif yang tidak dapat dijelaskan hanya dengan mekanisme fisik deterministik. Akhirnya, kajian interdisipliner antara filsafat, neurosains, dan antropologi dapat meneliti implikasi etis dan epistemologis dari model HT, khususnya bagaimana konsep jiwa dan tanggung jawab moral dipengaruhi oleh pemahaman dualitas materi‑kaku dan bentuk‑non‑material ini.
| File size | 808.5 KB |
| Pages | 26 |
| DMCA | Report |
Related /
DRIYARKARADRIYARKARA Saya bahkan tergoda untuk mengatakan bahwa fenomena massa yang dilukiskan Arendt dalam Ursprünge totaler Herrschaft justru dapat banyak berbicara —lebihSaya bahkan tergoda untuk mengatakan bahwa fenomena massa yang dilukiskan Arendt dalam Ursprünge totaler Herrschaft justru dapat banyak berbicara —lebih
DRIYARKARADRIYARKARA Artikel ini hendak menunjukkan bagaimana etika Emmanuel Levinas yang menjangkarkan tanggung jawab moral pada perjumpaan antar subjek yang bertubuh melepaskanArtikel ini hendak menunjukkan bagaimana etika Emmanuel Levinas yang menjangkarkan tanggung jawab moral pada perjumpaan antar subjek yang bertubuh melepaskan
DRIYARKARADRIYARKARA Lewat pendekatan analitis akan diidentifikasi dan diperiksa isu-isu etis yang mungkin melekat dalam hasil penelitian. Kerangka etika menyediakan lensaLewat pendekatan analitis akan diidentifikasi dan diperiksa isu-isu etis yang mungkin melekat dalam hasil penelitian. Kerangka etika menyediakan lensa
DRIYARKARADRIYARKARA (1) pengandaian kesetaraan akal budi adalah klaim kebenaran yang telah terfalsifikasi. (2) penjelasan tidak menimbulkan ketidaksetaraan akal budi melainkan(1) pengandaian kesetaraan akal budi adalah klaim kebenaran yang telah terfalsifikasi. (2) penjelasan tidak menimbulkan ketidaksetaraan akal budi melainkan
DRIYARKARADRIYARKARA Perubahan tersebut berpotensi mengantar Indonesia menjadi negara yang de facto tidak lagi menerapkan hukuman mati. Menurut penulis, konsekuensi semacamPerubahan tersebut berpotensi mengantar Indonesia menjadi negara yang de facto tidak lagi menerapkan hukuman mati. Menurut penulis, konsekuensi semacam
DRIYARKARADRIYARKARA Faktor input sensitivitas pastoral gereja dan konteks budaya lokal mempengaruhi persepsi tersebut. Kesadaran akan perbedaan pandangan magisteri dapat membantuFaktor input sensitivitas pastoral gereja dan konteks budaya lokal mempengaruhi persepsi tersebut. Kesadaran akan perbedaan pandangan magisteri dapat membantu
DRIYARKARADRIYARKARA 3:18) melalui lensa metafora konseptual. Metafora ini bekerja dengan memetakan dua domain konseptual: satu domain asal (mitologi kuno tentang pohon ajaib3:18) melalui lensa metafora konseptual. Metafora ini bekerja dengan memetakan dua domain konseptual: satu domain asal (mitologi kuno tentang pohon ajaib
DRIYARKARADRIYARKARA Kekerasan seksual tidak hanya berdampak fisik dan psikologis, tetapi juga eksistensial. Pemulihan korban kekerasan seksual menjadi penyintas melibatkanKekerasan seksual tidak hanya berdampak fisik dan psikologis, tetapi juga eksistensial. Pemulihan korban kekerasan seksual menjadi penyintas melibatkan
Useful /
DRIYARKARADRIYARKARA Artinya, kualitas politik ditentukan oleh kualitas kemanusiaan kita. Kalau misalnya politik lebih banyak ditentukan oleh sensus privatus, dan bukan sensusArtinya, kualitas politik ditentukan oleh kualitas kemanusiaan kita. Kalau misalnya politik lebih banyak ditentukan oleh sensus privatus, dan bukan sensus
DRIYARKARADRIYARKARA Tidak juga, karena gagasan ini dapat dipahami pula oleh setiap orang non-Kristiani, mengingat fokusnya pada rasionalitas, dan setiap orang punya akal budiTidak juga, karena gagasan ini dapat dipahami pula oleh setiap orang non-Kristiani, mengingat fokusnya pada rasionalitas, dan setiap orang punya akal budi
DRIYARKARADRIYARKARA Artikel ini menganalisis kisah pertemuan Paulus dan Lidia (Kis. 16:13-15) sebagai contoh praktik pertukaran hadiah timbal balik. Penelitian menggunakanArtikel ini menganalisis kisah pertemuan Paulus dan Lidia (Kis. 16:13-15) sebagai contoh praktik pertukaran hadiah timbal balik. Penelitian menggunakan
DRIYARKARADRIYARKARA Ketidaksamaan perlakuan berdisiplin pada kualitas atau keutamaan penerima, sehingga hanya orang yang layak mendapat hak tersebut. Pendekatan teleologisKetidaksamaan perlakuan berdisiplin pada kualitas atau keutamaan penerima, sehingga hanya orang yang layak mendapat hak tersebut. Pendekatan teleologis