DRIYARKARADRIYARKARA

DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARADISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA

Artikel ini membahas filsafat politik Arendt yang dibangun melalui interpretasi atas filsafat keindahan (estetika) Kant. Melalui metode rekonstruksi hermeneutis atas teks-teks Arendt, penulis memperlihatkan bagaimana Arendt menafsirkan dan menjadikan dua konsep pertimbangan estetis Kant, yakni pertimbangan (judgment) dan sensus communis, sebagai fondasi filsafat politik. Hasilnya adalah sebuah antropologi politik yang didasarkan atas sensus communis. Politik bagi Arendt adalah manifestasi sensus communis. Manusia menjadi zoon politicon karena dalam dirinya sudah terdapat fakultas apriori sensus communis sebagai syarat kemungkinan politik. Filsafat politik Arendt tetap aktual karena dapat memperlihatkan sekaligus mengingatkan kita: kemerosotan sensus communis atau dimensi pertimbangan bersama antar-warga negara menjadi kondisi bagi kemunculan rezim totaliter. Di tengah dominasi media digital dewasa ini, yang menggerus sensus communis kita dan membuat orang teralienasi satu sama lain, peringatan Arendt penting: kita harus tetap memelihara dan mengembangkan sensus communis melalui komunikasi, dialog dan pertukaran pikiran agar dapat saling memahami dan mencari orientasi bersama dalam kehidupan politik.

Di sini kita melihat bahwa politik adalah ekspresi kemanusiaan kita sebagai mahluk sosial.Artinya, kualitas politik ditentukan oleh kualitas kemanusiaan kita.Kalau misalnya politik lebih banyak ditentukan oleh sensus privatus, dan bukan sensus communis, maka itu adalah tanda kegagalan kita sebagai mahluk politis.Antropologi politik ini menjadi kunci aktualitas pemikiran Arendt.Ia menjangkarkan politik pada kemanusiaan itu sendiri, dan oleh karena itu pemikiran-pemikiran politisnya selalu dapat membantu kalau kita mau memahami fenomena-fenomena politik yang terjadi.Seperti diperlihatkan dalam artikel ini, antropologi politik Arendt sangat relevan dalam mendiagnosa sekaligus menolak tendensi-tendensi anti-politik dalam masyarakat kontemporer.Observasi Seyla Benhabib atas politik di Amerika Serikat memperkuat hipotesa ini.Ia mengatakan, setelah Donald Trump menang sebagai Presiden Amerika Serikat (2017-2021), buku The Origins of Totalitarianism melambung menjadi best seller di AS karena pembaca ingin mengetahui ancaman-ancaman rezim dan politisi otoriter tidak hanya di AS tetapi juga di Hungaria, Turki, Brasil, dan India.

Berdasarkan latar belakang, metode, hasil, keterbatasan, dan juga bagian saran penelitian lanjutan (jika ada), berikut adalah saran penelitian lanjutan yang baru:. . 1. Mengembangkan konsep sensus communis dalam konteks masyarakat digital saat ini, dengan mempertimbangkan dampak teknologi komunikasi terhadap interaksi sosial dan pembentukan opini publik.. . 2. Menganalisis peran media digital dalam menggerus sensus communis dan mendorong munculnya rezim-rezim totaliter, serta mencari strategi untuk memelihara dan mengembangkan sensus communis melalui komunikasi online yang konstruktif.. . 3. Meneliti pengaruh teknologi komunikasi terhadap kemampuan imajinasi dan refleksi dalam masyarakat modern, serta bagaimana hal ini dapat mempengaruhi kualitas pertimbangan dan keputusan politik.

Read online
File size699.11 KB
Pages53
DMCAReport

Related /

ads-block-test