USUUSU

LingPoet: Journal of Linguistics and Literary ResearchLingPoet: Journal of Linguistics and Literary Research

Penelitian ini menganalisis debat pemilihan presiden Amerika Serikat tahun 2024 antara Donald Trump dan Kamala Harris menggunakan kerangka Fungsi Interpersonal, khususnya struktur pertukaran (Move) dari Linguistik Fungsional Sistemik (SFL). Analisis mengidentifikasi lima pola Move: K1, K2^K1, K1^K2F, K1^K2F^K1F, dan A1, serta satu pola move dinamis: Tantangan dan Tanggapan terhadap Tantangan (CH-RCH). Temuan menunjukkan bahwa Donald Trump mengadopsi sikap yang lebih otoritatif dan responsif dalam debat, secara sering mengambil peran Primary Knower (K1) untuk menegaskan pengetahuan dan otoritasnya. Ia lebih banyak terlibat dalam menanggapi tantangan (RCH) daripada memulainya, menunjukkan fokus pada mempertahankan kredibilitasnya. Sebaliknya, Kamala Harris secara aktif menantang (CH) pernyataan Trump, sering kali mengambil peran Secondary Knower (K2) dengan mempertanyakan atau mengkritisi klaimnya sebelum menegaskan posisinya sendiri. Namun, ia juga mengambil peran Primary Knower (K1) untuk menetapkan otoritasnya. Strategi debat Trump berfokus pada pembelaan dan penguatan kredibilitas, sedangkan Harris menggunakan pendekatan yang lebih konfrontatif, menantang pernyataan Trump untuk menimbulkan keraguan. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman dinamika kekuasaan dan strategi interaksional dalam debat politik melalui analisis wacana berbasis SFL.

Dalam debat pemilihan presiden 2024, ditemukan berbagai pola struktur pertukaran seperti K1, K2^K1, K1^K2f, K1^K2^K1F, A1, dan CH^RCH, yang menunjukkan perbedaan strategi komunikasi antara Donald Trump dan Kamala Harris.Donald Trump lebih otoritatif dan responsif dengan sering mengambil peran Primary Knower (K1) serta lebih banyak merespons tantangan daripada melontarkannya, menunjukkan fokus pada pembelaan kredibilitas.Kamala Harris lebih aktif menantang pernyataan Trump dengan sering berperan sebagai Secondary Knower (K2), sekaligus sesekali menegaskan otoritasnya sebagai Primary Knower (K1), dengan strategi konfrontatif untuk menimbulkan keraguan terhadap pernyataan Trump.

Pertama, perlu diteliti bagaimana emosi dan intonasi suara memengaruhi efektivitas strategi pertukaran (move) dalam debat politik, mengingat aspek non-verbal dapat mengubah persepsi otoritas dan kredibilitas kandidat meskipun struktur wacananya serupa. Kedua, penting untuk mengeksplorasi dinamika gender dalam pelaksanaan peran komunikatif seperti K1 dan K2, khususnya bagaimana masyarakat menanggapi perempuan yang mengambil peran otoritatif (Primary Knower) atau menantang lawan secara langsung, mengingat Kamala Harris sebagai wanita dalam konteks politik yang dominan laki-laki. Ketiga, diperlukan penelitian lanjutan yang membandingkan pola move dalam debat lintas budaya, misalnya antara negara kolektivis dan individualis, untuk melihat apakah strategi komunikatif seperti dominasi (K1) atau tantangan (CH) diadopsi secara berbeda tergantung pada nilai sosial budaya yang mendasari. Penelitian-penelitian ini dapat memperdalam pemahaman tentang bagaimana bahasa, identitas, dan kekuasaan saling berinteraksi dalam ranah politik global.

Read online
File size370.91 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test