USUUSU

LingPoet: Journal of Linguistics and Literary ResearchLingPoet: Journal of Linguistics and Literary Research

Penelitian ini berjudul analisis makna ilokusi dari ucapan ritual Saeba Bunuk Hau No di Desa Spaha, Kecamatan Kolbano, Kabupaten Tengah Selatan Timor dengan permasalahan: (1) Jenis makna ilokusi apa saja yang terdapat dalam ucapan ritual berjudul Saeba Bunuk Hau No, dan (2) Jenis ucapan ritual ilokusi apa yang paling banyak digunakan dalam ucapan ritual berjudul Saeba Bunuk Hau No. Tujuan penelitian ini adalah: (1) Mengetahui jenis-jenis ilokusi yang digunakan dalam ucapan ritual berjudul Saeba Bunuk Hau No, dan (2) Mengetahui jenis ucapan ritual ilokusi yang paling banyak digunakan dalam ucapan ritual tersebut. Teori yang digunakan adalah teori tindak tutur, yang mengkaji bagaimana makna ilokusi dapat ditemukan. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui membaca hasil penelitian sebelumnya, menemukan ujaran, serta menganalisis makna ujaran untuk mengidentifikasi jenis ilokusi dan mengetahui jenis ilokusi yang paling dominan dalam ucapan ritual Saeba Bunuk Hau No di Desa Spaha, Kecamatan Kolbano, Kabupaten Tengah Selatan Timor. Hasil penelitian menunjukkan terdapat lima jenis makna ilokusi dalam Saeba Bunuk Hau No, yaitu: asertif, direktif, ekspresif, komisif, dan deklaratif. Jenis ilokusi yang paling banyak digunakan adalah asertif, direktif, dan deklaratif karena jenis-jenis ini digunakan untuk menyampaikan tujuan tertentu.

Terdapat tiga tahap yang harus dilalui sebelum menuju pernikahan, yaitu tahap awal, tahap inti dalam ritual, dan tahap akhir.Penutur dari kedua belah pihak memainkan peran aktif dalam bertanya dan menjawab, serta menggunakan gaya bahasa berima dalam menyampaikan maksud dan tujuan.Terdapat lima jenis tindak ilokusi yang digunakan dalam ritual tersebut, yaitu asertif, komisif, direktif, ekspresif, dan deklaratif.

Pertama, perlu diteliti bagaimana pergeseran makna ilokusi dalam ritual Saeba Bunuk Hau No terjadi di kalangan generasi muda saat ini, mengingat pengaruh globalisasi dan modernisasi terhadap bentuk dan fungsi ujaran tradisional. Kedua, perlu dikaji lebih lanjut bagaimana perempuan berperan dalam tindak tutur ritual ini, baik secara verbal maupun nonverbal, karena data saat ini lebih menonjolkan suara laki-laki sebagai penutur utama. Ketiga, penting untuk mengeksplorasi efek perlokusi dari ujaran ritual ini terhadap penerima, khususnya dalam pembentukan komitmen sosial dan ikatan antarkeluarga, agar dapat memahami dampak jangka panjang dari ritual ini di luar konteks komunikasi langsung. Penelitian-penelitian ini dapat memperdalam pemahaman mengenai dinamika komunikasi ritual, melestarikan budaya lisan, serta membuka ruang bagi perspektif gender dan dampak sosial yang lebih inklusif.

Read online
File size335.29 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test