LAAROIBALAAROIBA

Reslaj : Religion Education Social Laa Roiba JournalReslaj : Religion Education Social Laa Roiba Journal

Watu gilesan jagung merupakan salah satu peninggalan sejarah yang memiliki kegunaan penting pada masanya, yaitu untuk menggiling biji jagung menjadi beras jagung atau butiran yang lebih kecil. Seiring berkembangnya teknologi, watu gilesan jagung mulai ditinggalkan. Bahkan ada yang dirusak atau dibuang. Padahal, watu gilesan jagung memiliki nilai-nilai simbolis yang relevan untuk pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan, mengungkap eksistensi, menguraikan nilai-nilai simbolis yang relevan untuk pendidikan dan merekomendasikan kebijakan konservasi. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Data dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara, FGD dan pengumpulan dokumen. Analisa data menggunakan interaktif model dan keabsahan data diuji dengan triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan beberapa hal penting. Pertama, watu gilesan jagung memiliki deskripsi/profil yang unik dan berbeda dengan peninggalan lain. Kedua, Eksistensi watu gilesan jagung tergolong terancam, karena banyak yang dibuang, dirusak atau dihilangkan karena dianggap tak terpakai. Ketiga, watu gilesan jagung memiliki nilai-nilai yang relevan dengan pendidikan, yaitu nilai religiusitas, nilai sosial dan nilai perjuangan. Selain itu, terdapat juga potensi pembelajaran yang dapat diterapkan yaitu teknologi tepat guna dan pendidikan karakter. Keempat, untuk rekomendasi kebijakan konservasi kami menyarankan bahwa watu gilesan jagung dapat didaftarkan sebagai benda cagar budaya. Namun, jika rekomendasi ini tidak dapat diterima, kami mengajukan rekomendasi kebijakan konservasi yang lain yaitu dengan pendekatan integrasi, baik integrasi dengan pendidikan, pariwisata, komunitas, dan media sosial.

Hasil penelitian ini menunjukkan beberapa kesimpulan penting.Pertama, watu gilesan jagung memiliki deskripsi/profil yang unik dari aspek penamaan/penyebutan, umur, fungsi, bahan, komponen dan cara kerjanya.Kedua, eksistensi watu gilesan jagung tergolong terancam, karena banyak yang dibuang, dirusak atau dihilangkan.Ketiga, watu gilesan jagung memiliki nilai-nilai yang relevan dengan pendidikan, yaitu nilai religiusitas, nilai sosial dan nilai perjuangan.Selain itu, terdapat juga potensi pembelajaran yang dapat diterapkan yaitu teknologi tepat guna dan pendidikan karakter.Keempat, untuk rekomendasi kebijakan konservasi kami menyarankan bahwa watu gilesan jagung dapat didaftarkan sebagai benda cagar budaya.Namun, jika rekomendasi ini tidak dapat diterima, kami mengajukan rekomendasi kebijakan konservasi yang lain yaitu dengan pendekatan integrasi, baik integrasi dengan pendidikan, pariwisata, komunitas, dan media sosial.

Berdasarkan penelitian ini, terdapat beberapa saran penelitian lanjutan yang dapat dikembangkan. Pertama, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengidentifikasi secara spesifik jenis batu yang digunakan dalam pembuatan watu gilesan jagung melalui analisis laboratorium, sehingga dapat memberikan informasi yang lebih akurat mengenai material dan teknologi pembuatan alat ini. Kedua, penelitian kualitatif mendalam mengenai persepsi masyarakat lokal terhadap nilai-nilai budaya yang terkandung dalam watu gilesan jagung dapat dilakukan, untuk memahami bagaimana peninggalan ini relevan dengan kehidupan sosial dan spiritual mereka saat ini. Ketiga, penelitian komparatif antara watu gilesan jagung dengan alat penggiling biji-bijian serupa di daerah lain dapat dilakukan untuk mengidentifikasi persamaan dan perbedaan, serta memahami evolusi teknologi penggilingan biji-bijian di Indonesia. Dengan menggabungkan ketiga saran ini, diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai nilai historis, budaya, dan teknologi dari watu gilesan jagung, serta mendorong upaya pelestarian yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Read online
File size4.09 MB
Pages13
DMCAReport

Related /

ads-block-test