DRIYARKARADRIYARKARA

DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARADISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARA

Apakah demokrasi yang rusak di era digital ini masih dapat dipulihkan? Hannah Arendt yang mengalami demokrasi yang dirusak oleh rezim totaliter Jerman memberi cahaya harapan yang sangat kuat untuk pemulihan demokrasi. Lewat pendekatan fenomenologis ia memandang manusia sebagai makhluk yang mampu membuat permulaan baru, kemampuan yang disebutnya natalitas. Berbeda dari gambaran kelabu dalam Ursprünge totaler Herrschaft (1955) —di mana Arendt menganalisis proses runtuhnya republik melalui penghancuran ruang publik—konsep natalitas dalam Vita activa (1960) membuka kemungkinan bagi pemulihan dan penguatan kembali republik. Namun penulis berpendapat bahwa gagasan republikan Arendt ini mendapat tantangannya di era komunikasi digital, sehingga sebelum menyarankan cara pemulihan demokrasi dalam perspektif Arendtian penulis lebih dahulu menjelaskan kesulitan-kesulitan baru bagi demokrasi di era digital. Penulis akan memaknai kembali natalitas dalam konteks baru ini sebagai praktik resistensi atas determinasi algoritmik. Di era digital manusia tidak kehilangan natalitas; ia selalu dapat membuka kembali kemungkinan untuk memulai sesuatu yang baru.

Di era digital ini, bentuk-bentuk kekuasaan juga mengalami perubahan, sehingga heroisme republikan ala Arendt terlihat konyol.Jika dahulu pembatasan dan pengawasan berciri eksternal dan dilakukan oleh struktur institusional yang tampak, seperti ditunjukkan Foucault pada institusi penjara, pendidikan, rumah sakit, dst., di era digital ini kekuasaan beroperasi tidak lagi dengan larangan, melainkan justru dengan dorongan, tidak lagi dengan disiplinisasi tubuh, melainkan dengan eksploitasi psikis.Tak ada lagi pengawas, seperti sipir, guru, dokter, dst., melainkan, seperti ditunjukkan oleh Han, para warga tidak merasa diawasi sebab mereka mengawasi diri dan menyerahkan data mereka secara sukarela.Ruang publik digital bukanlah ruang penampakan, melainkan menjadi ruang manipulasi perhatian lewat pencitraan.Di sini kekuasaan justru beroperasi lewat kebebasan.Dalam situasi baru ini heroisme warga gampang diserap menjadi konten-konten digital yang entertaining, tetapi tidak transforming.Politikpun, yang diyakini Arendt sebagai locus kebebasan manusia, berubah menjadi teknologi sosial berbasis survei, polling, dan algoritma untuk kontrol perilaku warga yang pada akhirnya memberi keuntungan bagi perusahaan-perusahaan media dalam sistem baru yang disebut Zuboff “surveillance capitalism.Sambung dengan pemahaman Arendt sendiri, wilayah bertindak (Handeln) di era digital semakin diokupasi oleh berkarya (Herstellen).Dalam lanskap baru ini kemampuan natalitas tidak lenyap, tetapi tereduksi menjadi variasi dalam sistem yang telah memetakan kemungkinan sebelumnya.Initium tidak lagi dilarang, melainkan diserap ke dalam logika prediksi dan optimasi.Konsep natalitas pun tampak utopis karena ketakterdugaan yang menandai initium dalam politik hilang dan diganti dengan prediksi dan kalkulasi algoritmik.Saya bahkan tergoda untuk mengatakan bahwa fenomena massa yang dilukiskan Arendt dalam Ursprünge totaler Herrschaft justru dapat banyak berbicara —lebih daripada ulasannya dalam Vita activa— untuk apa yang terjadi dalam ruang digital dewasa ini, seperti.hubungan satu arah antara inß uencer dan viewers, kesepian, ketakberakaran, polarisasi kawan-lawan politis, retorika posttruth, dan cyber-bullying, sehingga memang dalam ruang digital yang algoritmis itu manusia tampak tidak penting atau —dalam kata Arendt—“berlebihan (überß uϐig).Ada sekurangnya tiga paralelisme antara politik digital dan politik totaliter yang patut diperhatikan sebelum kita dapat menjawab pertanyaan tentang pemulihan demokrasi.

Untuk memulihkan demokrasi yang rusak di era digital, diperlukan strategi resistensi terhadap determinasi algoritmik. Natalitas politis di era digital dapat diartikan sebagai praktik resistensi terhadap determinasi algoritmik. Strategi ini dapat dilakukan melalui berbagai bentuk, seperti memperbanyak ruang hening di tengah kegaduhan politis, pembelaan hak privasi data, praktik slow movements, dan pertemuan dalam embodied communities. Selain itu, pemakaian media sosial sebagai sarana deliberasi publik juga dapat menjadi sarana untuk memulihkan demokrasi. Namun, penting untuk mempertimbangkan bahwa manusia tidak selalu bersikap heroik dan promethean dalam menghadapi kondisi determinasi algoritmik. Ada kemungkinan bahwa determinasi algoritmik justru memberikan rasa aman dan kepastian bagi manusia. Oleh karena itu, pertanyaan tentang pemulihan demokrasi melalui natalitas tetap terbuka dan memerlukan diskusi lebih lanjut.

  1. DOI Name 10.4067 Values. doi name values index type timestamp data hs serv 15z crossref desc 11z comision... doi.org/10.4067DOI Name 10 4067 Values doi name values index type timestamp data hs serv 15z crossref desc 11z comision doi 10 4067
Read online
File size602.59 KB
Pages30
DMCAReport

Related /

ads-block-test