DRIYARKARADRIYARKARA
DISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARADISKURSUS - JURNAL FILSAFAT DAN TEOLOGI STF DRIYARKARAPenelitian ini bertujuan mengkaji dampak disinformasi digital terhadap disparitas pengetahuan dan memeriksa strategi yang diterapkan untuk memajukan keadilan epistemik. Pemeriksaan temuan akan melibatkan eksplorasi komprehensif terhadap berbagai kerangka teori dan etika. Lewat pendekatan analitis akan diidentifikasi dan diperiksa isu-isu etis yang mungkin melekat dalam hasil penelitian. Kerangka etika menyediakan lensa terstruktur melalui mana kita dapat mengevaluasi implikasi temuan terhadap pemangku kepentingan yang berbeda, memastikan pemahaman menyeluruh terhadap potensi dilema etis. Penelitian ini menggunakan pendekatan lintas disiplin dengan mengintegrasikan perspektif filsafat, sosial, dan teknologis. Pertama-tama, lewat perspektif filsafat akan diperiksa konsep keadilan epistemik dan implikasinya dalam era digital. Kedua, penelitian ini akan menyelidiki peran disinformasi digital dalam menciptakan ketidaksetaraan pengetahuan, khususnya bagaimana disinformasi digital berkontribusi pada disparitas dalam akses dan distribusi pengetahuan. Dengan memahami mekanisme melalui mana informasi palsu atau menyesatkan menyebar di ruang digital, penelitian ini berusaha mengidentifikasi pelbagai strategi dan intervensi yang dapat mengeliminasi akar ketidakadilan epistemik dan memajukan lanskap pengetahuan yang lebih adil dan mencerahkan bagi semua orang.
Dalam lanskap digital kontemporer, disparitas akses terhadap informasi akurat dan dapat dipercaya menimbulkan masalah mendalam yang dikenal sebagai ketidakadilan pengetahuan, yang secara langsung menantang prinsip-prinsip dasar epistemologi yang mengatur pencarian pengetahuan secara adil.Penyebaran disinformasi digital merupakan ancaman signifikan terhadap keandalan sumber informasi yang telah mapan, sehingga meruntuhkan fondasi kepercayaan dalam lanskap informasi.Masyarakat menunjukkan spektrum tingkat akses terhadap informasi, di mana beberapa individu menikmati akses yang lebih kuat, sementara yang lain menghadapi keterbatasan dalam upaya pencarian informasi mereka.Fenomena ini memicu ketidakadilan epistemik, di mana individu dengan akses terbatas menghadapi tantangan besar dalam pencarian pengetahuan yang autentik dan dapat dipercaya.Pada dasarnya, ketidakadilan epistemik merupakan tantangan langsung terhadap prinsip-prinsip dasar epistemologi, cabang filsafat yang berkonsentrasi pada pemahaman sifat pengetahuan dan proses perolehan pengetahuan.Ketidaksetaraan dalam akses informasi secara kritis melemahkan prinsip-prinsip keadilan yang tertanam dalam proses pencarian pengetahuan, prinsip-prinsip yang telah lama dianggap sebagai fondasi esensial dalam epistemologi.
Untuk mengatasi ketidakadilan epistemik, diperlukan transformasi sosial yang mendalam. Ini berarti menciptakan lingkungan di mana pengetahuan dihargai dan setiap individu memiliki kesempatan yang adil untuk berkontribusi dan memperoleh manfaat dari kumpulan pengetahuan kolektif. Perlu ada upaya untuk mereformasi institusi, mengurangi kesenjangan ekonomi, mengatasi diskriminasi sistemik, dan mempromosikan inklusi sosial dalam institusi pendidikan dan pengetahuan. Dengan demikian, kita dapat membangun kerangka kerja yang lebih adil dan inklusif yang mengakui nilai intrinsik kontribusi pengetahuan yang beragam. Melalui perjalanan transformasi ini, masyarakat dapat berharap untuk meruntuhkan akar-akar ketidakadilan epistemik dan menumbuhkan lanskap pengetahuan yang lebih adil dan terang benderang.
| File size | 342.86 KB |
| Pages | 35 |
| DMCA | Report |
Related /
DRIYARKARADRIYARKARA Dengan menggunakan kerangka materialis yang mengacu pada konsep alienasi Marx dan nirsadar politik Jameson, artikel ini melakukan kritik fenomenologisDengan menggunakan kerangka materialis yang mengacu pada konsep alienasi Marx dan nirsadar politik Jameson, artikel ini melakukan kritik fenomenologis
DRIYARKARADRIYARKARA Hal ini terungkap antara lain dalam pengakuan atas transendensi Yang Lain dan penolakan atas segala bentuk totalisasi. Etika Levinas dianggap sebagai moralitasHal ini terungkap antara lain dalam pengakuan atas transendensi Yang Lain dan penolakan atas segala bentuk totalisasi. Etika Levinas dianggap sebagai moralitas
DRIYARKARADRIYARKARA Kriminalitas modern terpecah akibat pemisahan tegas antara bidang keilmuan, sehingga Latour menyoroti masalah epistemologi modern yang terkesan dikotomi.Kriminalitas modern terpecah akibat pemisahan tegas antara bidang keilmuan, sehingga Latour menyoroti masalah epistemologi modern yang terkesan dikotomi.
DRIYARKARADRIYARKARA Estimasi Ricci terhadap kebudayaan Tiongkok melalui pengungkapan Tuhan—sebagaimana Ricci percaya—merupakan contoh besar bagi inkulturasi modern danEstimasi Ricci terhadap kebudayaan Tiongkok melalui pengungkapan Tuhan—sebagaimana Ricci percaya—merupakan contoh besar bagi inkulturasi modern dan
DRIYARKARADRIYARKARA Menurut penulis, konsekuensi semacam ini layak disambut baik lantaran hukuman mati itu sendiri secara etis tidak dapat dibenarkan. Dalam tulisan ini, penulisMenurut penulis, konsekuensi semacam ini layak disambut baik lantaran hukuman mati itu sendiri secara etis tidak dapat dibenarkan. Dalam tulisan ini, penulis
DRIYARKARADRIYARKARA Pada bagian akhir, saya akan mempertimbangkan ketidaksamaan perlakuan dengan menganalisis kasus konkret berbagai model subsidi yang diberikan oleh negara-negaraPada bagian akhir, saya akan mempertimbangkan ketidaksamaan perlakuan dengan menganalisis kasus konkret berbagai model subsidi yang diberikan oleh negara-negara
DRIYARKARADRIYARKARA Pendekatan progresif ini membuat otoritas guru dipertanyakan, karena dianggap terlalu tradisional dan tidak relevan lagi. Artikel ini ingin menelusuriPendekatan progresif ini membuat otoritas guru dipertanyakan, karena dianggap terlalu tradisional dan tidak relevan lagi. Artikel ini ingin menelusuri
DRIYARKARADRIYARKARA Pendekatan ini menegaskan bahwa pendekatan desain yang memperhitungkan hukum alam lokal serta kebudayaan dapat meningkatkan nilai estetika bangunan danPendekatan ini menegaskan bahwa pendekatan desain yang memperhitungkan hukum alam lokal serta kebudayaan dapat meningkatkan nilai estetika bangunan dan
Useful /
DRIYARKARADRIYARKARA Metodologi yang digunakan dalam makalah ini adalah studi pustaka dengan mendialogkan pemikiran Zimmerman dengan pemikir-pemikir lainnya yang berfokus padaMetodologi yang digunakan dalam makalah ini adalah studi pustaka dengan mendialogkan pemikiran Zimmerman dengan pemikir-pemikir lainnya yang berfokus pada
DRIYARKARADRIYARKARA Namun, hari ini dunia semakin terhubung, dan kerangka teoritis kritis yang menjembatani keragaman ide ras sangat dibutuhkan. Namun, apakah ide global tentangNamun, hari ini dunia semakin terhubung, dan kerangka teoritis kritis yang menjembatani keragaman ide ras sangat dibutuhkan. Namun, apakah ide global tentang
DRIYARKARADRIYARKARA Dengan demikian, metafora konseptual memungkinkan pembaca mengamati penyajian holistik Kitab Amsal, yang sering kali dianggap sebagai kumpulan peribahasaDengan demikian, metafora konseptual memungkinkan pembaca mengamati penyajian holistik Kitab Amsal, yang sering kali dianggap sebagai kumpulan peribahasa
DRIYARKARADRIYARKARA Kekerasan seksual tidak hanya berdampak fisik dan psikologis, tetapi juga eksistensial. Pemulihan korban kekerasan seksual menjadi penyintas melibatkanKekerasan seksual tidak hanya berdampak fisik dan psikologis, tetapi juga eksistensial. Pemulihan korban kekerasan seksual menjadi penyintas melibatkan