UMPRUMPR

Anterior JurnalAnterior Jurnal

Perilaku self harm merupakan tindakan menyakiti diri sendiri yang dipicu oleh tekanan batin yang tidak terkendali dan dapat berakibat fatal, termasuk kematian. Mahasiswa tingkat akhir termasuk kelompok rentan terhadap perilaku ini karena tekanan untuk segera lulus, selain dipengaruhi faktor gender, perasaan kesepian, ditinggalkan orang terdekat, hubungan keluarga yang renggang, serta ketimpangan antara harapan dan kenyataan terkait gaya hidup dan kondisi ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dinamika psikologis mahasiswa tingkat akhir yang pernah melakukan self harm. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan tiga subjek mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling yang pernah melakukan self harm dalam empat tahun terakhir. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) orang tua berperan dalam munculnya perilaku self harm melalui kekerasan fisik yang dilakukan terhadap subjek (A, B, C); (2) konflik dengan orang tua, teman, atau pasangan menjadi pemicu dilakukannya self harm oleh ketiga subjek; (3) bentuk self harm yang dilakukan meliputi mengonsumsi obat generik satu hingga tiga butir yang menyebabkan tidur berjam-jam, menarik diri dari lingkungan, membenturkan tubuh ke tembok, menjambak rambut, memukul diri sendiri, mencakar, dan menggigit bagian tubuh.

Dinamika psikologis perilaku self harm pada mahasiswa tingkat akhir telah berlangsung lama dan dipengaruhi oleh pengalaman kekerasan dalam pengasuhan.Perilaku ini muncul kembali saat subjek mengalami konflik dan masih terus berlangsung hingga saat ini.Subjek belum mampu mengendalikan diri atau mencari strategi koping lain untuk mengatasi masalah secara lebih sehat.

Pertama, perlu penelitian lanjutan yang mengeksplorasi efektivitas terapi cognitive behavior therapy (CBT) dalam mengurangi ketergantungan terhadap perilaku self harm pada mahasiswa yang memiliki latar belakang pengasuhan bermasalah, dengan fokus pada perubahan pola pikir dan strategi regulasi emosi. Kedua, diperlukan studi mengenai pengaruh intervensi sosial berbasis komunitas kampus, seperti kelompok dukungan sebaya atau program mentoring, dalam mengurangi perasaan kesepian dan isolasi sosial yang menjadi pemicu utama self harm. Ketiga, disarankan adanya penelitian yang mengkaji peran keluarga dalam proses pemulihan, khususnya bagaimana komunikasi antaranggota keluarga dapat diperbaiki untuk menciptakan lingkungan yang mendukung dan mengurangi konflik berulang yang memicu kambuhnya perilaku self harm, terutama pada mahasiswa yang masih terhubung secara emosional dengan orang tua.

  1. Fenomena Mahasiswa Pelaku Self Harm di Kota Pekanbaru | Jurnal Pendidikan Tambusai. fenomena mahasiswa... doi.org/10.31004/jptam.v6i3.4820Fenomena Mahasiswa Pelaku Self Harm di Kota Pekanbaru Jurnal Pendidikan Tambusai fenomena mahasiswa doi 10 31004 jptam v6i3 4820
  2. Gambaran Kecenderungan Perilaku Self-Harm pada Mahasiswa Tingkat Akhir Studi | Jurnal Keperawatan Karya... doi.org/10.56186/jkkb.98Gambaran Kecenderungan Perilaku Self Harm pada Mahasiswa Tingkat Akhir Studi Jurnal Keperawatan Karya doi 10 56186 jkkb 98
  3. Dampak Kekerasan Orang Tua Terhadap Kondisi Mental Anak Dalam Keluarga dan Penanggulangan | RISOMA :... doi.org/10.62383/risoma.v2i5.339Dampak Kekerasan Orang Tua Terhadap Kondisi Mental Anak Dalam Keluarga dan Penanggulangan RISOMA doi 10 62383 risoma v2i5 339
Read online
File size132.41 KB
Pages5
DMCAReport

Related /

ads-block-test