IPBIPB
Jurnal Akuakultur IndonesiaJurnal Akuakultur IndonesiaKematian merupakan tantangan dalam meningkatkan produktivitas pada kegiatan budidaya udang vaname (Litopenaeus vannamei) dengan sistem intensif. Pada kolam budidaya dengan dasar kolam tanah sering kali kematian udang disebabkan oleh kualitas air yang buruk, yang dipengaruhi oleh fluktuasi parameter fisikokimia dan perubahan komunitas fitoplankton. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi antara kualitas air, suksesi fitoplankton, dan mortalitas Litopenaeus vannamei. Sampel air kolam budidaya (E9, E10, F9, F10 dan F11) diambil secara berkala untuk mengukur parameter fisikokimia utama, seperti suhu, pH, DO, amonia (NH3), TAN dan nitrit (NO2), serta kelimpahan dan dominansi fitoplankton. Hasil penelitian menunjukkan mortalitas udang memiliki nilai korelasi positif dengan kelimpahan plankton (0,57) dan blue-green algae (0,43) yang ada pada perairan. Selain itu secara deskriptif kematian udang memiliki pola yang sama pada beberapa kolam pengamatan dimana kematian terjadi setelah terjadinya kematian atau berkurangnya kelimpahan blue-green algae dari pengamatan sebelumnya. parameter kualitas air yang memiliki nilai korelasi terhadap kelimpahan plankton dan dominasi blue-green algae yaitu TAN, BOD dan Kecerahan. Pergeseran dominansi fitoplankton ke blue-green algae dapat meningkatkan BOD dan menghasilkan senyawa toksik ketika lisis yang dapat mengganggu fisiologi hingga menyebabkan kematian udang. Temuan ini menekankan pentingnya pengelolaan kualitas air dan pemantauan fitoplankton untuk mengurangi mortalitas udang vaname.
Penelitian ini menunjukkan adanya korelasi positif yang signifikan antara mortalitas udang vaname dan kelimpahan blue-green algae (BGA) di kolam tanah.Pola kematian udang cenderung mengikuti penurunan atau kematian BGA pada pengamatan sebelumnya.Parameter kualitas air seperti TAN, BOD, dan kejernihan memiliki korelasi kuat dengan kelimpahan plankton dan dominansi BGA, yang mengindikasikan pentingnya pengelolaan kualitas air untuk mengurangi risiko mortalitas udang.
Berdasarkan hasil penelitian ini, beberapa saran penelitian lanjutan dapat dipertimbangkan. Pertama, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengidentifikasi jenis-jenis toksin yang dihasilkan oleh BGA yang dominan di kolam budidaya dan dampaknya secara spesifik terhadap fisiologi dan sistem imun udang vaname. Kedua, studi tentang efektivitas berbagai metode pengendalian BGA, seperti penggunaan probiotik, aplikasi zeolit, atau teknologi biofiltrasi, perlu dilakukan untuk menemukan solusi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Ketiga, penelitian mengenai pengaruh variasi rasio karbon dan nitrogen (C/N) dalam pakan terhadap pertumbuhan BGA dan kualitas air kolam dapat memberikan wawasan penting untuk optimasi manajemen pakan dan pencegahan ledakan populasi BGA. Penelitian-penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam meningkatkan keberlanjutan dan produktivitas budidaya udang vaname di Indonesia.
| File size | 3.6 MB |
| Pages | 15 |
| DMCA | Report |
Related /
IPBIPB 3 ± 3. 22 cm) sebanyak 15 ekor/akuarium yang diberi pakan sampai kenyang sebanyak dua kali sehari selama 60 hari. Pengukuran performa pertumbuhan dilakukan3 ± 3. 22 cm) sebanyak 15 ekor/akuarium yang diberi pakan sampai kenyang sebanyak dua kali sehari selama 60 hari. Pengukuran performa pertumbuhan dilakukan
IPBIPB Rancangan penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat taraf perlakuan dan empat ulangan dengan komposisi perlakuan; A (dosis 0 mg/kg),Rancangan penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat taraf perlakuan dan empat ulangan dengan komposisi perlakuan; A (dosis 0 mg/kg),
IPBIPB ferox (400 ppm), dan Z. zerumbet (200 ppm) perbandingan 1:1, selama 40 hari. Studi ini menghasilkan data, bahwa penambahan 5 mL ekstrak ke pakan secaraferox (400 ppm), dan Z. zerumbet (200 ppm) perbandingan 1:1, selama 40 hari. Studi ini menghasilkan data, bahwa penambahan 5 mL ekstrak ke pakan secara
IPBIPB Kesimpulannya, infeksi Aeromonas hydrophila secara signifikan mempengaruhi respons imun ikan kissing gourami, yang ditandai dengan penurunan jumlah eritrositKesimpulannya, infeksi Aeromonas hydrophila secara signifikan mempengaruhi respons imun ikan kissing gourami, yang ditandai dengan penurunan jumlah eritrosit
IPBIPB paracasei kepadatan sel 109 CFU/mL dosis 1% (v/w), dan masing-masing diinfeksi V. parahaemolyticus (104 CFU/mL). Pemeliharaan udang vaname dilanjutkanparacasei kepadatan sel 109 CFU/mL dosis 1% (v/w), dan masing-masing diinfeksi V. parahaemolyticus (104 CFU/mL). Pemeliharaan udang vaname dilanjutkan
IPBIPB Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan tiga ulangan, yang terdiri dari 0, 2, 4, dan 6 g/kg inulin pakan. PenelitianPenelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan tiga ulangan, yang terdiri dari 0, 2, 4, dan 6 g/kg inulin pakan. Penelitian
IPBIPB Kombinasi probiotik herbal Ramuan Barokah dengan dosis 30 mL/kg pakan dan salinitas 4 ppt memberikan pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan lele Sangkuriang,Kombinasi probiotik herbal Ramuan Barokah dengan dosis 30 mL/kg pakan dan salinitas 4 ppt memberikan pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan lele Sangkuriang,
IPBIPB Perlakuan yang digunakan adalah perendaman jeroan teripang dengan dosis 0 ml/L (A), 1 ml/L (B), 3 ml/L (C), 5 ml/L selama 24 jam (D), dan 0,5 ml/L 17α-MTPerlakuan yang digunakan adalah perendaman jeroan teripang dengan dosis 0 ml/L (A), 1 ml/L (B), 3 ml/L (C), 5 ml/L selama 24 jam (D), dan 0,5 ml/L 17α-MT
Useful /
IPBIPB Energi kecernaan pakan LTe pada dosis 1,2 g/kg mencapai 80,20 ± 0,17%, yang merupakan nilai tertinggi di antara perlakuan. Analisis proximate menunjukkanEnergi kecernaan pakan LTe pada dosis 1,2 g/kg mencapai 80,20 ± 0,17%, yang merupakan nilai tertinggi di antara perlakuan. Analisis proximate menunjukkan
IPBIPB A 2×3 factorial experiment was conducted with two variables: protein content (30% and 35%) and citral concentrations (0, 50, and 75 mg/kg). Shrimp (3.A 2×3 factorial experiment was conducted with two variables: protein content (30% and 35%) and citral concentrations (0, 50, and 75 mg/kg). Shrimp (3.
IPBIPB Kadar toleransi glukosa juga memperoleh waktu yang lebih singkat untuk kembali ke level basal setelah injeksi glukosa. Peningkatan aktivitas enzimatikKadar toleransi glukosa juga memperoleh waktu yang lebih singkat untuk kembali ke level basal setelah injeksi glukosa. Peningkatan aktivitas enzimatik
IPBIPB Hal ini disebabkan oleh kesenjangan antara persepsi petani dan realitas ekologis. Petani tambak, sebagai aktor kunci dalam implementasi dan pemeliharaanHal ini disebabkan oleh kesenjangan antara persepsi petani dan realitas ekologis. Petani tambak, sebagai aktor kunci dalam implementasi dan pemeliharaan