UNSIKAUNSIKA

Wahana Karya Ilmiah PendidikanWahana Karya Ilmiah Pendidikan

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan peran konselor dalam mengatasi tantangan siswa di SMPN 1 Teluk Jambe Timur, Karawang. Fokus penelitian ini adalah pada pelaksanaan layanan Bimbingan dan Konseling (BK) serta tantangan yang dihadapi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Subjek penelitian terdiri dari satu guru BK dan tiga siswa kelas IX. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konselor berperan penting sebagai fasilitator dan motivator melalui layanan bimbingan klasikal dan konseling responsif. Konselor juga bekerja sama dengan wali kelas serta guru mata pelajaran dalam menangani permasalahan siswa. Siswa menilai layanan BK sebagai tempat aman untuk konsultasi. Tantangan utama yang dihadapi adalah keterbatasan jumlah konselor, hanya dua orang untuk 1.300 siswa dan pelaksanaan layanan di luar jam sekolah yang dinilai kurang efektif.

Berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan bahwa konselor di SMPN 1 Teluk Jambe Timur memegang peran krusial sebagai fasilitator dan motivator dalam membantu siswa mengatasi tantangan mereka.Peran ini diwujudkan melalui dua layanan utama, yaitu bimbingan klasikal terjadwal dan konseling responsif untuk masalah mendesak, serta didukung oleh kolaborasi aktif dengan wali kelas dan guru mata pelajaran.Siswa secara positif memandang layanan BK sebagai tempat yang aman dan penting untuk berkonsultasi.Meskipun demikian, efektivitas peran konselor tersebut menghadapi hambatan sistemik yang berat.Tantangan terbesar adalah kesenjangan rasio yang ekstrem antara jumlah konselor dan siswa (2 konselor untuk 1.300 siswa), yang membuat pelayanan tidak optimal dan merata.Tantangan ini diperburuk oleh pelaksanaan layanan di luar jam sekolah, yang terbukti kurang efektif karena rendahnya partisipasi siswa.

Untuk meningkatkan efektivitas layanan bimbingan dan konseling di sekolah, perlu dilakukan beberapa langkah. Pertama, meningkatkan rasio konselor dengan siswa agar pelayanan dapat menjangkau seluruh peserta didik secara optimal. Kedua, merancang strategi inovatif untuk menjangkau lebih banyak siswa, misalnya dengan memanfaatkan waktu jam kosong atau menggunakan pendekatan konseling kelompok. Ketiga, memperkuat kolaborasi antara konselor dengan guru mata pelajaran dan wali kelas dalam menangani siswa bermasalah, agar deteksi dini terhadap masalah siswa dapat dilakukan dan proses intervensi dapat dipercepat. Dengan demikian, layanan bimbingan dan konseling dapat menjadi lebih efektif dan mendukung kesejahteraan psikologis peserta didik.

Read online
File size412.29 KB
Pages7
DMCAReport

Related /

ads-block-test