POLNAMPOLNAM

Jurnal Administrasi TerapanJurnal Administrasi Terapan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui saluran pemasaran sagu tumang dan tingkat harga, biaya dan pendapatan pengusaha sagu tumang di Distrik Inanwatan, Kabupaten Sorong Selatan. Masing-masing kampung sampel melibatkan 5 pengusaha sagu tumang. Pengusaha sagu tumang di Distrik Inanwatan dengan studi kasus berjumlah 45 pengusaha sagu tumang. Data primer dilakukan dengan wawacara langsung ke responden melalui Metode Focus Group Discussion (FGD) dengan menggunakan kuesioner (daftar pertanyaan). Terdapat satu saluran pemasaran sagu tumang di lokasi penelitian, yaitu saluran pemasaran I : produsen ke konsumen akhir. Harga sagu tumang kecil dan besar berkisar dari Rp.100,000 sampai Rp. 350,000 dengan pendapatan kotor rata-rata tertinggi perbulan pada Kampung Serkos Rp.4.710.000/org, dikuti oleh Kampung Mate Rp.2.560.000/org, Kampung Mogibi Rp.2.400.000 demikian juga Kampung Siri-siri Rp.2.000.000 dan Kampung Sibae dan Odeari pendapatan kotor sama Rp.1.810.000 sedangkan Kampung Wadoi menerimah pendapatan kotor Rp.1.590.000 selanjutnya di ikuti oleh Kampung Isogo Rp.1.300.000 dan pendapatan kotor terendah terdapat pada Kampung Solta Baru Rp.1.040.000. Biaya yang di keluarkan oleh pengusaha sagu tumang di Distrik Inanwatan berdasarkan kampung yaitu Kampung Wadoi dengan total biaya rata-rata sebesar Rp.456.292.66/org, Kampung Serkos dengan total biaya rata-rata Rp.334.426.22/org, Kampung Odeari dengan total biaya rata-rata Rp.286.959.66/org, Kampung Solta Baru dengan total biaya rata-rata Rp.255.051.03/org, Kampung Mate dengan total biaya rata-rata Rp.249.057.59/org, Kampung Mogibi dengan total rata-rata biaya Rp.244.046.96/org, Kampung Siri-siri dengan total biaya rata-rata Rp.183.735.55/org, Kampung Sibae dengan total biaya rata-rata Rp.170,570.11/org dan Kampung Isogo dengan total biaya rata-rata Rp.151.165.35/org. Pendapatan pengusaha sagu tumang di Distrik Inanwatan tergolong sangat tinggi dari upah Minimum Papua dengan demikian pendapatan tertinggi untuk pengusaha sagu tumang dari Kampung Serkos siri sejumlah Rp. 2,216,264.45/org, Mogibi village income amounting to Rp. 2,155,953.04/org, Odeari Village income amounting to Rp. 1,523,040.34/org, Sibae Village income amounting to Rp. 1,259,429.89/org, Isogo Village amounting to IDR 1,148,834.65, Wadoi Village is IDR 1,133,707.34 and the lowest average income is in Solta Baru Village IDR 784,948.97 /org.

Terdapat satu saluran pemasaran sagu tumang di lokasi penelitian, yaitu saluran pemasaran I.Tingkat harga, biaya dan pendapatan pada pengusaha sagu tumang di Distrik Inanwatan adalah sebagai berikut.Harga sagu tumang di Distrik Inanwatan bervariasi yaitu Rp.Harga sagu tumang kecil dan besar berkisar dari Rp.350,000 dengan pendapatan kotor rata-rata tertinggi perbulan pada Kampung Serkos Rp.000 dan Kampung Sibae dan Odeari pendapatan kotor sama Rp.000 sedangkan Kampung Wadoi menerimah pendapatan kotor Rp.000 selanjutnya di ikuti oleh Kampung Isogo Rp.000 dan pendapatan kotor terendah terdapat pada Kampung Solta Baru Rp.Biaya yang di keluarkan oleh pengusaha sagu tumang di Distrik Inanwatan berdasarkan kampung yaitu Kampung Wadoi dengan total biaya rata-rata sebesar Rp.66/org, Kampung Serkos dengan total biaya rata-rata Rp.22/org, Kampung Odeari dengan total biaya rata-rata Rp.66/org, Kampung Solta Baru dengan total biaya rata-rata Rp.03/org, Kampung Mate dengan total biaya rata-rata Rp.59/org, Kampung Mogibi dengan total rata-rata biaya Rp.96/org, Kampung Siri-siri dengan total biaya rata-rata Rp.55/org, Kampung Sibae dengan total biaya rata-rata Rp.11/org dan Kampung Isogo dengan total biaya rata-rata Rp.Pendapatan pengusaha sagu tumang di Distrik Inanwatan tergolong sangat tinggi dari upah Minimum Papua dengan demikian pendapatan tertinggi untuk pengusaha sagu tumang dari Kampung Serkos siri sejumlah Rp.78, selanjutnya pendapatan kedua tertinggi Kampung Mate sebesar Rp.41/org, dan seterusnya kampung Siri-siri sebesar Rp.34 dan pendapatan rata-rata terendah terdapat di Kampung Solta Baru Rp.

Berdasarkan latar belakang, metode, hasil, keterbatasan, dan juga bagian saran penelitian lanjutan, berikut adalah saran penelitian lanjutan yang baru: Pertama, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai diversifikasi produk olahan sagu tumang untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk. Kedua, penting untuk mengkaji efektivitas program pelatihan pemasaran bagi pengusaha sagu tumang, dengan fokus pada peningkatan kemampuan negosiasi dan akses pasar. Ketiga, disarankan untuk meneliti dampak perubahan iklim terhadap produksi sagu tumang, serta mengembangkan strategi adaptasi yang berkelanjutan bagi masyarakat lokal. Ketiga saran ini saling terkait, karena diversifikasi produk membutuhkan pemahaman pasar yang baik, program pelatihan pemasaran dapat membantu pengusaha mengoptimalkan penjualan produk olahan, dan strategi adaptasi iklim akan memastikan keberlanjutan produksi sagu tumang di masa depan. Dengan menggabungkan ketiga aspek ini, penelitian lanjutan dapat memberikan kontribusi signifikan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat di Distrik Inanwatan dan memastikan keberlanjutan usaha sagu tumang sebagai mata pencaharian utama.

Read online
File size452.93 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test