JURNALEDUKASIAJURNALEDUKASIA

EDUKASIA Jurnal Pendidikan dan PembelajaranEDUKASIA Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran

Kemajuan teknologi digital telah menciptakan peluang yang signifikan untuk inovasi pembelajaran, terutama di institusi pendidikan tinggi yang menghadapi keterbatasan fasilitas fisik, seperti laboratorium komputer. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan mengevaluasi efektivitas model pembelajaran blended yang didukung oleh Google Classroom sebagai solusi untuk mengatasi kekurangan laboratorium komputer dalam kursus Teknologi Informasi dan Komunikasi. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian dan pengembangan dengan pendekatan desain instruksional berdasarkan model ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation). Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, kuesioner, dan analisis lingkungan belajar. Temuan menunjukkan bahwa model pembelajaran blended tidak hanya meningkatkan kemandirian belajar siswa tetapi juga meningkatkan efektivitas pengajaran dengan mengoptimalkan sumber daya digital. Selain itu, implementasi Google Classroom memberikan fleksibilitas dalam mengakses materi, memfasilitasi interaksi yang lebih dinamis, dan mengurangi beban operasional laboratorium komputer. Keunikan penelitian ini terletak pada integrasi strategi instruksional digital dengan kebutuhan spesifik institusi pendidikan tinggi berbasis agama, yang masih kurang dieksplorasi dalam literatur pendidikan tinggi. Dengan demikian, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan model instruksional adaptif yang dapat diterapkan di institusi pendidikan lainnya yang menghadapi kendala infrastruktur serupa.

Temuan penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran blended yang didukung oleh Google Classroom secara signifikan meningkatkan kemandirian belajar siswa dan memperkuat efektivitas pengajaran.Model ini memungkinkan siswa untuk mengakses materi, menyelesaikan tugas, dan berinteraksi dengan dosen secara fleksibel tanpa bergantung pada ketersediaan laboratorium komputer.Melalui pembelajaran blended, siswa dapat menggunakan perangkat pribadi mereka untuk mempelajari konsep-konsep penting, sementara sesi tatap muka lebih difokuskan pada diskusi, pemecahan masalah, dan bimbingan akademik mendalam.Selain itu, penggunaan Google Classroom memudahkan distribusi materi, pengumpulan tugas, dan evaluasi hasil belajar secara efisien.Implementasi model ini terbukti meningkatkan kemandirian belajar siswa, memperkuat efektivitas pengajaran, dan mengoptimalkan penggunaan sumber daya yang tersedia di institusi pendidikan tinggi.Meskipun masih ada tantangan dalam implementasinya, seperti kesiapan siswa dan dosen dalam mengadopsi teknologi, temuan penelitian menunjukkan bahwa dengan pelatihan yang tepat dan adaptasi, pembelajaran blended dapat menjadi metode pengajaran inovatif, efektif, dan berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi.

Berdasarkan temuan penelitian, beberapa rekomendasi dapat diberikan kepada pembuat kebijakan untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran berbasis teknologi. Pertama, program pelatihan harus disediakan untuk dosen dan siswa dalam penggunaan teknologi pendidikan. Pelatihan ini harus mencakup penggunaan Google Classroom, pengembangan materi instruksional digital, dan strategi pengajaran berbasis teknologi yang interaktif. Dengan pelatihan ini, dosen dan siswa akan lebih siap untuk mengoptimalkan penggunaan pembelajaran blended sebagai bagian integral dari aktivitas akademik mereka. Kedua, perbaikan infrastruktur digital di institusi pendidikan tinggi sangat penting untuk memastikan keberlanjutan model ini. Universitas dapat menyediakan laboratorium komputer tambahan yang dapat diakses siswa di luar jam pelajaran reguler dan memperkuat jaringan internet kampus untuk menjamin akses yang lebih stabil ke pembelajaran online. Selain itu, universitas dapat berkolaborasi dengan penyedia layanan internet untuk menawarkan paket data khusus bagi siswa yang mengikuti kursus online. Ketiga, kurikulum harus lebih dikembangkan untuk mendukung implementasi pembelajaran blended. Kurikulum harus dirancang untuk memungkinkan kombinasi efektif antara pembelajaran online dan tatap muka. Kursus terkait teknologi khususnya perlu dikembangkan dengan pendekatan inovatif agar siswa dapat memperoleh pengalaman belajar yang lebih relevan dengan kemajuan saat ini. Keempat, evaluasi kontinu terhadap model pembelajaran blended harus dilakukan secara teratur untuk mengidentifikasi kekuatan serta tantangan yang masih perlu diatasi. Institusi pendidikan tinggi dapat melakukan survei dan wawancara dengan siswa dan dosen untuk menilai efektivitas model ini dan menyesuaikan metode pengajaran berdasarkan umpan balik yang diterima. Melalui evaluasi rutin, model pembelajaran blended dapat terus berkembang dan disesuaikan dengan kebutuhan akademik yang berubah.

  1. Impact of Digital Resources on ESP Academic Performance - Chaves‐Yuste - 2025 - TESOL Journal... onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/tesj.70037Impact of Digital Resources on ESP Academic Performance ChavesyAAAaYuste 2025 TESOL Journal onlinelibrary wiley doi 10 1002 tesj 70037
Read online
File size506.36 KB
Pages16
DMCAReport

Related /

ads-block-test