UAIUAI

JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORAJURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA

Penulisan artikel penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan Ghouta Timur pasca pembebasan Bashar al-Assad berdasarkan perspektif kajian fenomenologi Edmund Husserl. Adapun permasalahan yang akan diteliti, yaitu: (1) bagaimanakah awal mula konflik Ghouta Timur, Suriah; dan (2) bagaimanakah Ghouta Timur pasca pembebasan Bashar al-Assad. Objek yang dikaji adalah media berita online nasional dan internasional. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Pengumpulan data digunakan dengan teknik tonton dan catat. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis deskriptif. Untuk menguji keabsahan data, teknik yang digunakan adalah teknik triangulasi. Adapun hasil dari penelitian ini adalah (1) konflik Ghouta Timur, Suriah dimulai sejak tanggal 15 Maret 2011. Di samping dilatar belakangi oleh peristiwa Arab Spring, ternyata tingkat emosionalitas sang Presiden, Bashar al-Assad yang cukup menyulut‑nyulut setiap kali ada suatu hal yang tidak berkenan di hatinya, yang pada akhirnya menyebabkan ratusan ribu jiwa masyarakat sipil harus hilang dan jutaan lainnya mengungsi; dan (2) setelah 6 tahun lamanya terpuruk dalam kungkung kekuasaan yang sama sekali tak berkeprimanusiaan, masyarakat Ghouta akhirnya dibebaskan dari belenggu sipir negeri mereka sendiri oleh Bashar al-Assad.

Konflik Ghouta Timur, Suriah dimulai pada 15 Maret 2011, dipicu oleh peristiwa Arab Spring serta emosionalitas Presiden Bashar al‑Assad yang mengakibatkan ratusan ribu korban jiwa sipil dan jutaan pengungsi.Setelah enam tahun berada di bawah rezim yang tidak berkeprimanusiaan, Ghouta Timur akhirnya dibebaskan oleh Bashar al‑Assad, memungkinkan warga untuk kembali bernapas dengan lega.Pembebasan tersebut menandai berakhirnya penindasan dan membuka peluang rekonstruksi sosial di wilayah tersebut.

Penelitian selanjutnya dapat menyelidiki perbedaan pengalaman fenomenologis warga Ghouta Timur antara masa sebelum dan sesudah pembebasan, sehingga dapat mengungkap perubahan persepsi mereka terhadap konflik dan keamanan. Peneliti juga dapat meneliti bagaimana representasi media internasional memengaruhi narasi lokal tentang konflik Ghouta, dengan membandingkan konten pemberitaan dan persepsi masyarakat setempat. Kajian mengenai efektivitas kebijakan rekonstruksi pascakonflik dalam memulihkan kesejahteraan psikososial warga Ghouta Timur dapat memberikan wawasan tentang strategi pemulihan yang paling berdampak. Selanjutnya, analisis komparatif antara pendekatan fenomenologi Husserl dengan metodologi kualitatif lain dapat mengevaluasi kelebihan dan keterbatasan dalam menafsirkan data konflik. Penelitian longitudinal yang melacak perkembangan sosial‑ekonomi Ghouta selama dekade berikutnya dapat membantu menilai keberlanjutan perdamaian dan pertumbuhan komunitas. Terakhir, studi partisipatif yang melibatkan tokoh komunitas lokal dalam perancangan program rehabilitasi dapat memperkuat rasa kepemilikan dan keberlanjutan intervensi.

Read online
File size396.91 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test