PAPANDAPAPANDA

Polinomial : Jurnal Pendidikan MatematikaPolinomial : Jurnal Pendidikan Matematika

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sistem kurikulum Amerika Serikat dalam perspektif pendidikan abad ke-21 melalui pendekatan library research. Kajian ini menelaah secara mendalam prinsip-prinsip dasar, struktur, dinamika kebijakan, serta implementasi keterampilan abad ke-21 dalam sistem pendidikan Amerika Serikat. Hasil kajian menunjukkan bahwa sistem kurikulum Amerika Serikat bersifat desentralistik, fleksibel, dan berorientasi pada pengembangan kompetensi. Pemerintah federal berperan sebagai fasilitator kebijakan dan pendanaan, sementara negara bagian serta distrik sekolah memiliki otonomi penuh dalam merancang dan mengimplementasikan kurikulum sesuai konteks lokal. Reformasi kebijakan melalui No Child Left Behind Act (NCLB), Every Student Succeeds Act (ESSA), dan Digital Equity Act menandai pergeseran paradigma dari pendidikan berbasis tes menuju pendidikan berbasis kompetensi, teknologi, dan keadilan sosial. Kurikulum Amerika Serikat menekankan integrasi keterampilan abad ke-21 yang diantaranya critical thinking, creativity, communication, collaboration, serta pembelajaran berbasis proyek, teknologi digital, dan personalized learning. Temuan juga menunjukkan bahwa fleksibilitas sistem ini merupakan kekuatan sekaligus tantangan, karena menimbulkan kesenjangan mutu antarwilayah akibat perbedaan sumber daya lokal. Dalam konteks Indonesia, hasil kajian ini memberikan inspirasi bagi penguatan Kurikulum Merdeka dengan menekankan desentralisasi yang bertanggung jawab, inovasi berbasis kompetensi, dan pemerataan mutu pendidikan nasional. Secara konseptual, studi ini menegaskan bahwa kurikulum abad ke-21 harus dirancang sebagai ekosistem pembelajaran adaptif yang memadukan kebebasan lokal, inovasi pedagogis, dan tanggung jawab sosial.

Kajian literatur ini menegaskan bahwa sistem kurikulum Amerika Serikat merupakan model pendidikan yang desentralistik, adaptif, dan progresif, berlandaskan filosofi educational freedom dan local control, dengan orientasi kuat pada pengembangan kompetensi abad ke-21.Otonomi negara bagian dan distrik sekolah mendorong inovasi serta fleksibilitas pedagogis, meskipun berpotensi menimbulkan ketimpangan mutu akibat disparitas sumber daya, sementara pemerintah federal berperan sebagai fasilitator pemerataan kebijakan dan akses.Transformasi melalui kebijakan seperti NCLB, ESSA, dan Digital Equity Act menunjukkan pergeseran dari penyeragaman menuju pendidikan berbasis kompetensi, teknologi, dan keadilan sosial, dengan penekanan pada 4Cs, integrasi teknologi digital, pembelajaran berbasis proyek, personalized learning, serta penguatan Social-Emotional Learning dan Culturally Responsive Pedagogy.Secara teoretis, kurikulum ini mencerminkan paradigma konstruktivistik dan humanistik yang memandang pembelajaran sebagai ekosistem adaptif untuk menumbuhkan kemandirian, kolaborasi, dan empati sosial.Bagi Indonesia, model ini menawarkan inspirasi dalam mengintegrasikan fleksibilitas dan otonomi lokal ke dalam Kurikulum Merdeka, dengan tetap menjaga arah nasional melalui mekanisme pemerataan mutu dan pengawasan yang kuat.

Berdasarkan analisis literatur, disarankan agar reformasi kurikulum di Indonesia mengadopsi prinsip desentralisasi yang bertanggung jawab dengan tetap menjaga kesetaraan mutu nasional melalui pemerataan sumber daya, penguatan infrastruktur TIK, dan evaluasi berbasis kompetensi abad ke-21. Pendidik dan pengembang kurikulum perlu meningkatkan kompetensi digital serta menerapkan pembelajaran inovatif berbasis proyek, kolaborasi, dan pendekatan kontekstual yang memadukan kearifan lokal dengan tuntutan global, sekaligus menekankan pembentukan karakter dan kewarganegaraan global. Peneliti dan akademisi didorong melakukan studi lanjutan dan komparatif untuk mengkaji adaptasi model desentralisasi, digitalisasi, serta integrasi keterampilan abad ke-21 dalam Kurikulum Merdeka. Selain itu, pemerintah daerah dan satuan pendidikan perlu merancang pengembangan kurikulum berbasis data lokal serta memperkuat kemitraan dengan perguruan tinggi, industri, dan komunitas guna memastikan relevansi dan internalisasi kompetensi global dalam praktik pendidikan.

  1. “Adapting for a Local Space Can be Tricky”: Designing Units for Teachers to Localize... doi.org/10.1002/sce.21978yAAAuAdapting for a Local Space Can be TrickyyAAAy Designing Units for Teachers to Localize doi 10 1002 sce 21978
  2. Article | KnE Open. article kne open social sciences issn 668x latest conference proceedings humanities... kneopen.com/kne-social/article/view/16176Article KnE Open article kne open social sciences issn 668x latest conference proceedings humanities kneopen kne social article view 16176
  3. 미국 뉴욕주 기술교육과정 분석: 역량 기반 교육, 디지털 교육, 학습자 중심... scholar.kyobobook.co.kr/article/detail/4050071513848A Ooi OAaui EEy O o Aau iiAE Aau ioOAa cU scholar kyobobook co kr article detail 4050071513848
  4. INOVAÇÕES EDUCACIONAIS NOS EUA: A REVOLUÇÃO DAS MICROESCOLAS, MICROLEARNING... revistaft.com.br/inovacoes-educacionais-nos-eua-a-revolucao-das-microescolas-microlearning-e-aprendizagem-baseada-em-jogosINOVAyNyiES EDUCACIONAIS NOS EUA A REVOLUyNyEO DAS MICROESCOLAS MICROLEARNING revistaft br inovacoes educacionais nos eua a revolucao das microescolas microlearning e aprendizagem baseada em jogos
  5. Open Journal Systems. open journal systems wayback machine https web archive ejournal arraayah ac skip... ejournal.arraayah.ac.id/index.php/mauriduna/article/view/1320Open Journal Systems open journal systems wayback machine https web archive ejournal arraayah ac skip ejournal arraayah ac index php mauriduna article view 1320
Read online
File size516.01 KB
Pages11
DMCAReport

Related /

ads-block-test