HAMZANWADIHAMZANWADI

Jurnal ElemenJurnal Elemen

Kemampuan pemecahan masalah matematika merupakan kompetensi inti dalam pendidikan dasar, namun bagaimana efikasi diri, regulasi diri, dan kecemasan matematika bersama-sama mempengaruhi kinerja pada tugas dengan tingkat permintaan kognitif berbeda masih belum jelas. Studi ini menilai 180 siswa kelas lima dari lima sekolah dasar negeri di Kota Medan, Indonesia, menggunakan tiga alat: Tes Kemampuan Matematika (6 LOTS dan 4 HOTS), Skala Efikasi Diri dan Regulasi Diri (10 item per subskal), dan Skala Kecemasan Matematika Singkat Modifikasi (mAMAS). Regresi linier berganda menunjukkan bahwa efikasi diri (βLOTS = 0,279; βHOTS = 0,261) dan regulasi diri (βLOTS = 0,214; βHOTS = 0,223) secara signifikan memprediksi kinerja pada tugas berpikir rendah dan tinggi (p < 0,001), menjelaskan 63,7% dan 55,2% varians, masing-masing. Kecemasan matematika tidak menjadi prediktor yang signifikan (p > 0,23). Temuan menunjukkan bahwa memupuk kepercayaan dan strategi metakognitif siswa lebih efektif daripada mengurangi kecemasan untuk meningkatkan pemecahan masalah matematika di berbagai tingkat kompleksitas kognitif. Intervensi pendidikan harus memprioritaskan penguatan efikasi diri dan regulasi diri untuk mendukung pengembangan matematika yang solid di kelas utama.

Studi ini menunjukkan bahwa efikasi diri, regulasi diri, dan kecemasan matematika memengaruhi secara berbeda kemampuan pemecahan masalah matematika siswa SD.Efikasi diri menjadi prediktor utama positif untuk tugas LOTS dan HOTS, sementara regulasi diri meningkatkan kinerja pada tugas HOTS.Kecemasan matematika tidak terbukti signifikan, tetapi lingkungan kelas kolektif dapat memoderasi efek negatifnya.Intervensi pendidikan dianjurkan untuk menggabungkan pelatihan metakognitif dan pengurangan kecemasan untuk mengoptimalkan hasil belajar.

Penelitian lanjut dapat mengkaji efek jangka panjang efikasi dan regulasi diri terhadap kemampuan matematika melalui pendekatan longitudinal, menguji generalisasi hasil di wilayah kultural berbeda di Indonesia, dan mengembangkan studi campuran untuk memahami mekanisme psikologis di balik hubungan tersebut. Selain itu, eksplorasi prediktor lain seperti pola pikir pertumbuhan atau dukungan sosial dari keluarga bisa memperkaya kerangka teoritis. Pendekatan tersebut akan memberikan dasar yang lebih kuat untuk intervensi yang terarah.

  1. APA PsycNet. psycnet loading doi.org/10.1037/a0025510APA PsycNet psycnet loading doi 10 1037 a0025510
  2. The content validity index: Are you sure you know what's being reported? critique and recommendations... doi.org/10.1002/nur.20147The content validity index Are you sure you know whats being reported critique and recommendations doi 10 1002 nur 20147
  3. Pluralizing the Paraphrase: Reconsidering Meaning via a Typology of Linguistic Changes - Mori - 2019... onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1002/tesq.514Pluralizing the Paraphrase Reconsidering Meaning via a Typology of Linguistic Changes Mori 2019 onlinelibrary wiley doi 10 1002 tesq 514
  4. APA PsycNet. psycnet loading doi.org/10.1037/a0026838APA PsycNet psycnet loading doi 10 1037 a0026838
  5. 21st-Century Readers | OECD. 21st century readers oecd skip main content developing literacy skills digital... doi.org/10.1787/a83d84cb-en21st Century Readers OECD 21st century readers oecd skip main content developing literacy skills digital doi 10 1787 a83d84cb en
Read online
File size669.78 KB
Pages23
DMCAReport

Related /

ads-block-test