IICETIICET
JPGI (Jurnal Penelitian Guru Indonesia)JPGI (Jurnal Penelitian Guru Indonesia)Penelitian tindakan sekolah ini dilakukan sebanyak 2 siklus yang masing-masing siklus terdiri dari 4 kegiatan, yaitu perencanaan (planning), pelaksanaan (acting), pengamatan (observing), dan refleksi (reflecting). Setelah dilaksanakan Penelitian Tindakan Sekolah (PTS) sebanyak 2 kali putaran atau 2 siklus, maka hasil-hasilnya adalah: meningkatkan kemampuan dan ketrampilan guru dalam menerapkan pembelajaran dengan pendekatan Pembelajaran Kontekstual. Hal ini dibuktikan dengan perolehan skor dari siklus satu ke siklus yang lain terjadi kenaikan yang cukup signifikan, yaitu dari siklus I kemampuan guru (3,03), siklus II (3,77) sudah mendekati target ketercapaian kemampuan guru dalam menerapkan pembelajaran kontekstual. Disamping itu peningkatan kemampuan dapat kita lihat dari kenaikan prosentase tingkat kemampuan dari para guru, yaitu: bahwa pada siklus I para guru yang berkemampuan sangat baik masih belum ada atau 0 %, pada siklus II naik menjadi 8,57 %.
1) Upaya Kepala sekolah dalam kegiatan KKG kepada guru mampu meningkatkan kemampuan dan ketrampilan guru dalam menerapkan pembelajaran dengan pendekatan Pembelajaran Kontekstual.2) Semakin intensif melakukan KKG bersama para guru mata pelajaran oleh Kepala sekolah, semakin meningkatkan kemampuan guru dalam menerapkan pendekatan pembelajaran kontekstual.3) Pendekatan pembelajaran kontekstual sangat sesuai untuk menumbuhkan kekritisan siswa dalam menganalisis, membedakan, menggeneralisasikan, dan menghipotesis permasalahan.
Penelitian selanjutnya dapat mengevaluasi dampak jangka panjang KKG terhadap prestasi belajar siswa, dengan mengumpulkan data akademik selama setidaknya dua tahun setelah intervensi; selanjutnya, perbandingan efektivitas KKG dengan model pengembangan profesional guru lain, seperti workshop intensif atau mentoring daring, dapat dilakukan pada sampel sekolah yang lebih luas untuk menguji generalisasi temuan; terakhir, studi kualitatif yang menggali persepsi, motivasi, dan hambatan guru dalam mengimplementasikan pembelajaran kontekstual melalui KKG dapat memberikan wawasan mendalam untuk memperbaiki desain program dan meningkatkan keberlanjutan praktik di kelas.
| File size | 384.61 KB |
| Pages | 5 |
| DMCA | Report |
Related /
UMBUMB Penelitian kualitatif adalah penelitian yang digunakan untuk menyelidiki, menemukan, menggambarkan, dan menjelaskan kualitas atau keistimewaan dari pengaruhPenelitian kualitatif adalah penelitian yang digunakan untuk menyelidiki, menemukan, menggambarkan, dan menjelaskan kualitas atau keistimewaan dari pengaruh
IDJOURNALIDJOURNAL Pelatihan ini berhasil mengubah paradigma evaluasi dari yang semula seragam dan berorientasi kurikulum menjadi berfokus pada tingkat kemampuan aktual siswa.Pelatihan ini berhasil mengubah paradigma evaluasi dari yang semula seragam dan berorientasi kurikulum menjadi berfokus pada tingkat kemampuan aktual siswa.
PUBLIKASIINDONESIAPUBLIKASIINDONESIA Penelitian ini menekankan pentingnya standardisasi manajemen SDM di pesantren sebagai upaya meningkatkan daya saing lembaga pendidikan Islam dalam menghadapiPenelitian ini menekankan pentingnya standardisasi manajemen SDM di pesantren sebagai upaya meningkatkan daya saing lembaga pendidikan Islam dalam menghadapi
WESTSCIENCESWESTSCIENCES Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru agama islam dapat melakukan hal-hal berikut untuk meningkatkan motivasi siswa: memberikan ganjaran, menumbuhkanHasil penelitian menunjukkan bahwa guru agama islam dapat melakukan hal-hal berikut untuk meningkatkan motivasi siswa: memberikan ganjaran, menumbuhkan
PENERBITPENERBIT Instrumen penelitian menggunakan angket kompetensi pedagogi guru yang terdiri dari lima indikator. Data dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitianInstrumen penelitian menggunakan angket kompetensi pedagogi guru yang terdiri dari lima indikator. Data dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian
UNRAMUNRAM Hasil sosialisasi ini relatif telah mampu menambah kualitas pemahaman dan kesadaran para guru mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah menengah atasHasil sosialisasi ini relatif telah mampu menambah kualitas pemahaman dan kesadaran para guru mata pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah menengah atas
STKIP JBSTKIP JB Metode pelaksanaan pengbadian terdiri dari persiapan, pelaksanaan dan evaluasi. Indikator keberhasilan dari kegiatan bahwa hasil angket lebih dari 70%.Metode pelaksanaan pengbadian terdiri dari persiapan, pelaksanaan dan evaluasi. Indikator keberhasilan dari kegiatan bahwa hasil angket lebih dari 70%.
UNCMUNCM Media pembelajaran yang saat ini digunakan, seperti buku dua dimensi (2D) kurang interaktif dan tidak mampu memberikan respon yang cukup. Dengan menggunakanMedia pembelajaran yang saat ini digunakan, seperti buku dua dimensi (2D) kurang interaktif dan tidak mampu memberikan respon yang cukup. Dengan menggunakan
Useful /
UIN SUKAUIN SUKA Pengecualian sejumlah hadis oleh para penyusun al-Shaykhān (Sahīh al-Bukhārī dan Sahīh Muslim), meskipun mereka menerima periwayatan dari perawi yangPengecualian sejumlah hadis oleh para penyusun al-Shaykhān (Sahīh al-Bukhārī dan Sahīh Muslim), meskipun mereka menerima periwayatan dari perawi yang
UIN SUKAUIN SUKA Artikel ini mengkaji fenomena tafsir Bugis, baik tulis maupun lisan, yang dihasilkan oleh ulama Asadiyah dalam islamisasi di Indonesia Timur. AsadiyahArtikel ini mengkaji fenomena tafsir Bugis, baik tulis maupun lisan, yang dihasilkan oleh ulama Asadiyah dalam islamisasi di Indonesia Timur. Asadiyah
PENERBITPENERBIT Dengan karakter umat hindu yang baik memudahkan hubungan sosial antar, intern dan ekstern umat beragama di Indonesia sehingga toleransi, ketertiban danDengan karakter umat hindu yang baik memudahkan hubungan sosial antar, intern dan ekstern umat beragama di Indonesia sehingga toleransi, ketertiban dan
PENERBITPENERBIT Penanaman nilai-nilai karakter yang yang dilakukan dalam tradisi Ngendar antara lain (1) Rasa terima kasih (Ktajñatâ), (2) Menjaga Kesucian dan kebersihanPenanaman nilai-nilai karakter yang yang dilakukan dalam tradisi Ngendar antara lain (1) Rasa terima kasih (Ktajñatâ), (2) Menjaga Kesucian dan kebersihan