JOMPUJOMPU

Jurnal Pendidikan dan Media PembelajaranJurnal Pendidikan dan Media Pembelajaran

Studi ini menganalisis hubungan kekuasaan dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari dengan perhatian khusus pada pengalaman ketidakadilan yang dialami oleh tokoh laki-laki. Penelitian selama ini cenderung menggambarkan perempuan sebagai pihak paling dirugikan oleh sistem patriarki, sementara laki-laki sering dianggap sebagai pihak berkuasa. Tujuan penelitian ini adalah menunjukkan bagaimana diskursus adat, moral, dan ekonomi justru menjadikan laki-laki sebagai individu yang mengalami penindasan, manipulasi, dan kerugian martabat dalam struktur sosial Dukuh Paruk. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui analisis mendalam terhadap teks novel. Proses analisis data menggunakan pendekatan analisis wacana kritis yang dipadukan dengan perspektif sosiologi sastra untuk memahami hubungan kekuasaan dalam konteks sosial dan budaya. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa laki-laki dalam novel mengalami kerugian ekonomi, ketidakmampuan emosional, manipulasi simbolik, penghilangan kemanusiaan, dan kekecewaan akibat hubungan sosial yang bersifat transaksional. Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa hubungan kekuasaan dalam novel tidak statis, di mana laki-laki tidak selalu berada pada posisi lebih tinggi, tetapi juga bisa menjadi korban kekuasaan dalam sistem patriarki dan tradisi sosial yang ada.

Hubungan kekuasaan dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk tidak statis, melainkan dinamis, di mana laki-laki tidak selalu menjadi pelaku kekuasaan tetapi juga dapat menjadi korban.Melalui wacana adat, moral, dan ekonomi, laki-laki di Dukuh Paruk mengalami penindasan sistemik yang menghilangkan kebebasan, harga diri, dan kemampuan bertawar dalam interaksi sosial.Karakter seperti Rasus, Sulam, dan Dower memperlihatkan bagaimana kekuasaan bekerja secara halus dan produktif, membentuk kesadaran untuk menerima subordinasi sebagai hal yang normal.

Penelitian selanjutnya dapat mengkaji bagaimana laki-laki di masyarakat pedesaan lain di Indonesia mengalami tekanan patriarki melalui tradisi atau ritual yang sama, apakah pola penindasan terhadap laki-laki dalam novel ini juga terjadi di tempat lain. Selain itu, penting untuk meneliti bagaimana generasi muda laki-laki di Dukuh Paruk atau daerah serupa memahami dan merespons norma-norma maskulinitas yang menekan mereka, apakah mereka menolak, menyesuaikan, atau menciptakan bentuk baru dari kejantanannya. Terakhir, studi lanjutan bisa membandingkan representasi laki-laki sebagai korban patriarki dalam karya sastra Indonesia lainnya, seperti karya Ahmad Tohari atau penulis seangkatan, untuk melihat apakah pola ini bersifat umum atau khas pada konteks tertentu, sehingga bisa membangun pemahaman lebih luas tentang bagaimana sistem kekuasaan bekerja pada semua gender, bukan hanya perempuan.

  1. #implementasi kurikulum merdeka#implementasi kurikulum merdeka
  2. #hubungan sosial#hubungan sosial
Read online
File size332.76 KB
Pages8
Short Linkhttps://juris.id/p-2XD
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test