ALFITHRAHALFITHRAH
Jurnal TARBAWIJurnal TARBAWIKompleksnya permasalahan bangsa Indonesia membuat pendidikan menjadi garda terdepan untuk menjadi solusi jangka panjang. Korupsi, anarkisme, isu primordialisme, penyalahgunaan narkotika hingga degradasi moral menjadi kenyataan demikian tentu saja sangat memprihatinkan. Oleh karena itu, upaya perbaikan perlu segera dilakukan. Salah satu upayanya adalah melalui revitalisasi pendidikan karakter. Upaya ini selain menjadi bagian dari proses pembentukan karakter anak bangsa, juga diharapkan mampu menjadi fondasi utama dalam mensukseskan Indonesia di masa mendatang. Melalui artikel ini, penulis memandang terdapat beberapa nilai-nilai yang harus ditanamkan dalam proses pendidikan. Nilai-nilai tersebut adalah religius, toleransi, mandiri, demokratis, semangat kebangsaan, cinta tanah air, bersahabat/komunikatif, gemar membaca. Adapun tujuan penanaman nilai-nilai tersebut adalah membangun kehidupan kebangsaan yang multikultural; membangun peradaban bangsa yang cerdas, berbudaya luhur, dan mampu berkontribusi terhadap pengembangan kehidupan ummat manusia, mengembangkan potensi dasar agar berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik serta keteladanan yang baik; membangun sikap warga negara yang mencintai damai, kreatif, mandiri, dan mampu hidup berdampingan dengan bangsa lain dalam suatu harmoni. Sementara, pendekatan instruksional yang melengkapi nilai-nilai tersebut di antaranya: pendekatan penanaman nilai (inculcation approach), pendekatan perkembangan moral kognitif (cognitive moral development approach), pendekatan analisis nilai (values analysis approach), pendekatan pembelajaran berbuat (action learning approach), dan pendekatan klarifikasi nilai (values clarification approach).
Penulis mengidentifikasi delapan nilai karakter utama yang perlu ditanamkan dalam pendidikan, yaitu religius, toleransi, mandiri, demokratis, semangat kebangsaan, cinta tanah air, bersahabat/komunikatif, dan gemar membaca.Tujuan penanaman nilai‑nilai tersebut meliputi pembangunan kebangsaan multikultural, peradaban bangsa yang cerdas dan berbudaya, serta pembentukan warga negara yang damai, kreatif, mandiri, dan mampu hidup harmonis dengan bangsa lain.Pendekatan instruksional yang mendukung pencapaian nilai‑nilai tersebut meliputi pendekatan penanaman nilai, perkembangan moral kognitif, analisis nilai, pembelajaran berbuat, dan klarifikasi nilai.
Penelitian selanjutnya dapat mengkaji bagaimana implementasi lima pendekatan instruksional (penanaman nilai, perkembangan moral kognitif, analisis nilai, pembelajaran berbuat, dan klarifikasi nilai) berpengaruh terhadap pengembangan delapan nilai karakter yang diidentifikasi pada siswa sekolah menengah pertama di Indonesia, dengan menggunakan metode kuasi‑eksperimental untuk mengukur perubahan perilaku dan sikap. Selain itu, studi kualitatif dapat meneliti tantangan serta faktor pendukung dalam integrasi pendidikan karakter ke dalam kurikulum K‑13 di beragam wilayah budaya Indonesia, sehingga dapat menghasilkan rekomendasi kebijakan yang kontekstual dan efektif. Selanjutnya, penelitian campuran dapat mengevaluasi peran platform pembelajaran digital dalam meningkatkan efektivitas pendekatan action learning dan values clarification, dengan menggabungkan analisis data penggunaan aplikasi serta wawancara mendalam dengan guru dan siswa untuk menilai dampak teknologi terhadap pembangunan karakter.
| File size | 371.76 KB |
| Pages | 14 |
| DMCA | Report |
Related /
DINUSDINUS Iklan tersebut secara efektif menggambarkan bagaimana selfie telah menjadi media utama untuk mengekspresikan diri, perasaan, dan berbagi aktivitas sehari-hariIklan tersebut secara efektif menggambarkan bagaimana selfie telah menjadi media utama untuk mengekspresikan diri, perasaan, dan berbagi aktivitas sehari-hari
UBHARAJAYAUBHARAJAYA Dengan masuknya investasi ke Indonesia, berbagai jenis pekerjaan baru bermunculan. Pendidikan moral dan nilai-nilai karakter sangat penting untuk mencerdaskanDengan masuknya investasi ke Indonesia, berbagai jenis pekerjaan baru bermunculan. Pendidikan moral dan nilai-nilai karakter sangat penting untuk mencerdaskan
PENERBITPENERBIT Namun, diperlukan strategi penguatan seperti pengembangan kurikulum yang responsif, peningkatan kompetensi guru dalam pemanfaatan teknologi, serta keterlibatanNamun, diperlukan strategi penguatan seperti pengembangan kurikulum yang responsif, peningkatan kompetensi guru dalam pemanfaatan teknologi, serta keterlibatan
STAITHAWALIBSTAITHAWALIB Anak-anak menunjukkan rasa hormat yang baik kepada orang tua (4,20), meskipun kenakalan masih rendah (3,40). Kemandirian dalam kebersihan (4,30), pengetahuanAnak-anak menunjukkan rasa hormat yang baik kepada orang tua (4,20), meskipun kenakalan masih rendah (3,40). Kemandirian dalam kebersihan (4,30), pengetahuan
PENERBITPENERBIT Guru yang profesional memahami dan mampu menerapkan empat kompetensi guru yaitu kompetensi pedagogi, profesional, sosial dan kepribadian. Penelitian iniGuru yang profesional memahami dan mampu menerapkan empat kompetensi guru yaitu kompetensi pedagogi, profesional, sosial dan kepribadian. Penelitian ini
PENERBITPENERBIT Pemahaman ajaran Bhagawad Gita menjadi kunci dalam menerapkan Tri Kaya Parisudha untuk mencapai moderasi beragama. Pustaka suci Sarasamuscaya menjelaskanPemahaman ajaran Bhagawad Gita menjadi kunci dalam menerapkan Tri Kaya Parisudha untuk mencapai moderasi beragama. Pustaka suci Sarasamuscaya menjelaskan
IAINFMPAPUAIAINFMPAPUA Oleh karena itu, pendidikan karakter di Era 5. 0 yang berwawasan Al-Quran dapat membentuk generasi yang berkualitas dan tangguh menghadapi tantangan zaman.Oleh karena itu, pendidikan karakter di Era 5. 0 yang berwawasan Al-Quran dapat membentuk generasi yang berkualitas dan tangguh menghadapi tantangan zaman.
UINSIUINSI Implementasi nilai agama dan moral dilakukan melalui pembiasaan, sementara perkembangan kognitif didukung dengan berbagai media pembelajaran.meskipun demikian,Implementasi nilai agama dan moral dilakukan melalui pembiasaan, sementara perkembangan kognitif didukung dengan berbagai media pembelajaran.meskipun demikian,
Useful /
UMLAUMLA Metode: Penelitian deskriptif korelasi dengan pendekatan cross‑sectional, melibatkan 38 pasien prolanis diabetes tipe 2 berusia >26 tahun dengan totalMetode: Penelitian deskriptif korelasi dengan pendekatan cross‑sectional, melibatkan 38 pasien prolanis diabetes tipe 2 berusia >26 tahun dengan total
UMLAUMLA Intervensi dilakukan dengan penerapan terapi foot massage selama 15-20 menit setiap hari, disertai observasi skala nyeri dan tanda-tanda vital. EvaluasiIntervensi dilakukan dengan penerapan terapi foot massage selama 15-20 menit setiap hari, disertai observasi skala nyeri dan tanda-tanda vital. Evaluasi
STKIPPGRI LUBUKLINGGAUSTKIPPGRI LUBUKLINGGAU Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang degradasi Betangas pada masyarakat di Kecamatan Selangit Kabupaten Musi Rawas. Tradisi BetangasPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang degradasi Betangas pada masyarakat di Kecamatan Selangit Kabupaten Musi Rawas. Tradisi Betangas
UBUB Pengendalian akuntansi adalah proses pengendalian yang menggunakan data akuntansi. Komitmen organisasi ialah keinginan yang kuat untuk menjadi anggotaPengendalian akuntansi adalah proses pengendalian yang menggunakan data akuntansi. Komitmen organisasi ialah keinginan yang kuat untuk menjadi anggota