UNRIYOUNRIYO

medika respati: Jurnal Ilmiah Kesehatanmedika respati: Jurnal Ilmiah Kesehatan

Latar belakang: Stunting merupakan masalah gizi kronis yang dipengaruhi oleh berbagai faktor sejak masa kehamilan hingga lingkungan tempat anak tumbuh. Identifikasi faktor yang ditemukan pada balita stunting berdasarkan data verifikasi lapangan diperlukan untuk memperoleh gambaran kondisi yang lebih kontekstual di tingkat masyarakat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menggambarkan distribusi faktor yang ditemukan pada balita stunting di Kalurahan Purwomartani, Kabupaten Sleman, tahun 2025. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel terdiri atas 61 balita stunting yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Data diperoleh melalui wawancara terstruktur, observasi, verifikasi data Posyandu dan Puskesmas, pengukuran antropometri, serta penilaian asupan gizi menggunakan Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQFFQ). Data dianalisis secara univariat dan disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase. Hasil: Faktor yang paling banyak ditemukan adalah paparan asap rokok dalam rumah tangga (70,5%), diikuti asupan gizi tidak adekuat (60,7%), riwayat Kekurangan Energi Kronis (KEK) ibu selama kehamilan (26,2%), riwayat Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) (16,4%), riwayat kecacingan (11,5%), dan riwayat kelahiran prematur (9,8%). Kesimpulan: Paparan asap rokok dalam rumah tangga dan asupan gizi tidak adekuat merupakan faktor yang paling banyak ditemukan pada balita stunting di Kalurahan Purwomartani. Temuan ini mendukung perlunya penguatan intervensi berbasis keluarga melalui penciptaan rumah tangga bebas asap rokok, peningkatan praktik Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA), serta pemantauan pertumbuhan balita secara berkelanjutan.

Paparan asap rokok dalam rumah tangga (70,5%) dan asupan gizi yang tidak adekuat (60,7%) merupakan kondisi yang paling banyak ditemukan pada balita stunting di Kalurahan Purwomartani.Sementara itu, riwayat KEK pada ibu selama kehamilan (26,2%), BBLR (16,4%), kecacingan (11,5%), dan kelahiran prematur (9,8%) ditemukan dalam proporsi yang lebih rendah.Temuan tersebut menunjukkan bahwa stunting merupakan masalah multifaktorial yang perlu ditangani melalui pendekatan terpadu, terutama dengan memperbaiki kecukupan asupan gizi, meningkatkan praktik Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA), menciptakan lingkungan rumah bebas asap rokok, serta melakukan pemantauan pertumbuhan balita secara berkala.

Untuk penelitian lanjutan, disarankan menggunakan desain analitik dengan cakupan wilayah dan jumlah sampel yang lebih besar serta mempertimbangkan variabel sosial ekonomi, tinggi badan orang tua, praktik PMBA, sanitasi, dan riwayat penyakit infeksi untuk memperoleh gambaran determinan stunting yang lebih komprehensif. Selain itu, perlu dilakukan pendekatan yang lebih terarah kepada keluarga balita stunting dengan melibatkan kader, tokoh masyarakat, dan tokoh agama dalam meningkatkan kesadaran mengenai pola asuh, pemenuhan gizi, dan lingkungan rumah yang sehat. Edukasi keluarga mengenai bahaya paparan asap rokok perlu dilakukan bersamaan dengan penguatan praktik pemberian makan anak dan pemantauan kecukupan asupan. Pemantauan pertumbuhan balita secara berkala melalui Posyandu juga perlu diperkuat oleh Puskesmas untuk memperkuat upaya promotif dan preventif.

  1. Risk Factors for Childhood Stunting in 137 Developing Countries: A Comparative Risk Assessment Analysis... doi.org/10.1371/journal.pmed.1002164Risk Factors for Childhood Stunting in 137 Developing Countries A Comparative Risk Assessment Analysis doi 10 1371 journal pmed 1002164
  2. Can water, sanitation and hygiene help eliminate stunting? Current evidence and policy implications -... onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/mcn.12258Can water sanitation and hygiene help eliminate stunting Current evidence and policy implications onlinelibrary wiley doi 10 1111 mcn 12258
Read online
File size282.68 KB
Pages14
DMCAReport

Related /

ads-block-test