169169

Jurnal Seni MakalanganJurnal Seni Makalangan

Penelitian ini membahas praktik koreografi dalam karya tari Orang-orangan Orang melalui pendekatan fenomenologi dan konsep embodied knowledge, dengan menempatkan tubuh sebagai pusat pengalaman dan produksi makna artistik. Penelitian menggunakan pendekatan Arts-Based Research (ABR) dan metode Penciptaan Relasi Artistik ciptaan Alfiyanto sebagai landasan metodologis dalam proses penciptaan karya. Kedua pendekatan tersebut digunakan untuk membangun proses kreatif yang tidak hanya berorientasi pada pembentukan estetika pertunjukan, tetapi juga pada produksi pengetahuan melalui pengalaman tubuh yang bersifat embodied dan reflektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa koreografi dalam karya ini berkembang melalui pengalaman tubuh yang repetitif, fragmentatif, dan situasional. Tubuh penari hadir sebagai arsip pengalaman yang menyimpan memori, afeksi, dan respons terhadap tekanan sosial serta perubahan lingkungan. Melalui metafora orang-orangan, karya ini merepresentasikan tubuh manusia kontemporer yang berada di antara keterasingan, kerentanan, dan resistensi sosial. Dengan demikian, tubuh dipahami sebagai locus of creation yang memiliki kapasitas kreatif, reflektif, dan epistemologis dalam praktik koreografi kontemporer.

Karya tari Orang-orangan Orang memperlihatkan pergeseran paradigma dalam tari kontemporer, dari tubuh sebagai objek representasi menuju tubuh sebagai subjek aktif yang memproduksi pengalaman estetik, pengetahuan artistik, dan makna sosial.Pendekatan Arts-Based Research (ABR) dan metode Penciptaan Relasi Artistik ciptaan, proses penciptaan tidak hanya dipahami sebagai aktivitas artistik, tetapi juga sebagai praktik penelitian berbasis tubuh yang bersifat embodied, reflektif, dan kontekstual.Tubuh menjadi ruang pengalaman yang menyimpan memori, afeksi, serta respons terhadap perubahan sosial dan ekologis.Koreografi dibangun melalui eksplorasi gerak repetitif, fragmentatif, dan ketidakstabilan tubuh yang menghadirkan pengalaman keterasingan, tekanan sosial, dan relasi manusia dengan kehidupan modern.Repetisi, jeda, dan momen diam menjadi strategi performatif yang menghadirkan pembacaan kritis mengenai politik tubuh dan kerentanan manusia.Metafora orang-orangan merepresentasikan tubuh manusia kontemporer yang berada di antara kontrol, keterbatasan, resistensi, dan kemampuan bertahan.Karya tari ini menegaskan bahwa tubuh bukan sekadar medium pertunjukan, melainkan locus penciptaan yang mampu membangun pengalaman artistik dan refleksi sosial.

Saran penelitian lanjutan yang dapat dikembangkan adalah: . 1. Menganalisis lebih lanjut bagaimana praktik koreografi kontemporer dapat digunakan sebagai sarana untuk mengeksplorasi dan mengartikulasikan pengalaman sosial, emosional, dan kultural yang kompleks. . 2. Meneliti lebih dalam tentang bagaimana tubuh dalam tari kontemporer dapat berfungsi sebagai ruang refleksi kritis terhadap tatanan estetika dan sosial yang dominan, serta bagaimana tubuh dapat menjadi agen perubahan dalam praktik seni pertunjukan. . 3. Mengembangkan penelitian tentang bagaimana pendekatan Arts-Based Research dan metode Penciptaan Relasi Artistik dapat diterapkan dalam berbagai disiplin seni pertunjukan, dan bagaimana pendekatan ini dapat meningkatkan kreativitas, reflektivitas, dan produksi pengetahuan dalam praktik seni.

Read online
File size545.51 KB
Pages16
DMCAReport

Related /

ads-block-test