SARI MUTIARASARI MUTIARA

JURNAL MUTIARA KESEHATAN MASYARAKATJURNAL MUTIARA KESEHATAN MASYARAKAT

Usia remaja merupakan tahap transisi penting karena adanya perubahan sosial, psikologis, dan biologis yang signifikan. Pada tahapan ini, mulai terjadi perkembangan identitas diri, termasuk pemahaman dan rasa ingin tahu terhadap seksualitas. Namun, keterbatasan pengetahuan serta kontrol diri yang belum matang sering kali membuat remaja rentan terhadap perilaku seksual berisiko. Di berbagai negara, termasuk Indonesia, masalah kesehatan reproduksi remaja masih menjadi isu serius karena tingginya angka kehamilan pada usia muda. Berdasarkan data Riskesdas (2018), terdapat 2.867 kasus kehamilan pada remaja berusia 10–19 tahun, dengan mayoritas terjadi pada kelompok usia 15–19 tahun (1). Pada tingkat regional, Provinsi Kalimantan Barat menghadapi tantangan besar terkait pernikahan dan kehamilan dini. Sekitar 43,55% perempuan muda telah menjadi ibu sebelum usia 21 tahun, terutama di wilayah pedesaan dengan akses pendidikan terbatas (2). Selain itu, tercatat 29,8% remaja di Indonesia mengalami kehamilan pada usia muda (3). Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian remaja di Kalimantan Barat mulai terjerumus dalam tindakan seksual yang tidak diiringi dengan pengetahuan dan kesadaran yang layak untuk membuat keputusan yang bertanggung jawab. Kondisi ini remaja merupakan permasalahan seksual multidimensional yang membutuhkan perhatian lintas sektor, terutama di bidang pendidikan dan kesehatan.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap perilaku seksual.Namun, sikap memiliki hubungan yang signifikan lebih besar terhadap perilaku seksual remaja.Penemuan ini menegaskan bahwa perubahan perilaku seksual tidak dapat dicapai hanya melalui peningkatan pengetahuan, tetapi membutuhkan pembentukan sikap yang positif dan kemampuan pengendalian diri.

Untuk penelitian lanjutan, disarankan menggunakan desain longitudinal dengan ukuran sampel yang lebih besar untuk memahami hubungan sebab-akibat antara pengetahuan, sikap, dan perilaku seksual secara lebih mendalam. Selain itu, perlu diteliti faktor-faktor lain seperti pengaruh media sosial, religiusitas, dan komunikasi keluarga terhadap perilaku seksual remaja di berbagai konteks sosial budaya. Sekolah dan tenaga kesehatan perlu berkolaborasi dalam merancang program pendidikan seksual yang komprehensif, kontekstual, dan berbasis nilai, yang mendorong komunikasi terbuka antara remaja, keluarga, dan pendidik. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat perilaku seksual sehat, aman, dan bertanggung jawab di kalangan remaja Indonesia.

  1. Understanding Adolescent Sexuality: A Developmental Perspective - Anupama Hegde, Suhas Chandran, Jigyansa... journals.sagepub.com/doi/10.1177/26318318221107598Understanding Adolescent Sexuality A Developmental Perspective Anupama Hegde Suhas Chandran Jigyansa journals sagepub doi 10 1177 26318318221107598
Read online
File size263.66 KB
Pages10
DMCAReport

Related /

ads-block-test