GUNABANGSAGUNABANGSA

Journal of HealthJournal of Health

Latar Belakang: Permasalahan gizi bayi masih menjadi tantangan global. Menurut data UNICEF, WHO, dan Bank Dunia melalui laporan JME tahun 2024, terdapat 82.5 juta balita atau sekitar 12.3% mengalami gizi kurang. Salah satu faktor penting yang memengaruhi kondisi gizi dan pertumbuhan bayi adalah berat badan lahir (BBL), karena berkaitan dengan potensi gangguan pertumbuhan dalam jangka panjang. Dengan dasar tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara BBL dan status gizi bayi 1-6 bulan berdasarkan indeks BB/U di TPMB Evi Fitrianti Tahun 2025. Metode Penelitian: Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain observasional analitik cross sectional. Populasi sebanyak 32 bayi berusia 1-6 bulan dengan teknik total sampling. Data primer dikumpulkan melalui angket dan pengukuran berat badan bayi, sedangkan data sekunder dari buku KIA atau rekam medis. Analisis dilakukan secara univariat (distribusi frekuensi) dan bivariat (Fishers Exact Test). Hasil: Mayoritas responden berusia 3 bulan (25.0%) berjenis kelamin perempuan (68.8%), dan mendapatkan ASI (78.1%). Sebagian besar bayi (90.6%) lahir dengan BBL normal, sedangkan (9.4%) termasuk BBL rendah. Status gizi bayi umumnya baik (93.8%) meskipun (6.3%) tergolong gizi kurang. Hasil uji Fishers Exact Test menunjukkan hubungan signifikan (p = 0.006 < 0.05) antara BBL dan status gizi. Bayi BBL rendah lebih beresiko mengalami gizi kurang karena cadangan energi dan sistem imun belum sempurna. Kesimpulan: Terdapat hubungan signifikan antara BBL dan status gizi bayi 1-6 bulan berdasarkan indeks BB/U. BBL rendah memiliki resiko lebih tinggi mengalami gizi kurang. Diperlukan pemantauan dan intervensi dini untuk meningkatkan status gizi, khususnya pada bayi BBL rendah.

Terdapat hubungan signifikan antara berat badan lahir dan status gizi bayi usia 1-6 bulan berdasarkan indeks BB/U.Bayi dengan berat badan lahir rendah memiliki risiko lebih tinggi mengalami gizi kurang.Diperlukan pemantauan dan intervensi dini untuk meningkatkan status gizi, khususnya pada bayi dengan berat badan lahir rendah.

Penelitian lanjutan dapat mengkaji hubungan antara berat badan lahir dan status gizi pada bayi di bawah 1 bulan atau anak usia 6-12 bulan untuk memperluas cakupan usia. Selain itu, studi perlu dilakukan pada wilayah lain untuk membandingkan faktor lingkungan dan sosial ekonomi yang memengaruhi hubungan tersebut. Terakhir, penelitian dapat menginvestigasi peran pendidikan ibu dan akses layanan kesehatan dalam mempengaruhi status gizi bayi, terutama pada kelompok berat badan lahir rendah.

  1. Hubungan Berat Badan Lahir dengan Status Gizi Bayi 1-6 Bulan Berdasarkan Indeks Bb/U di Tpmb Evi Fitrianti... doi.org/10.30590/joh.v13n2.256Hubungan Berat Badan Lahir dengan Status Gizi Bayi 1 6 Bulan Berdasarkan Indeks Bb U di Tpmb Evi Fitrianti doi 10 30590 joh v13n2 256
  2. Vol. 13 No. 2 (2026): Journal of Health (JoH) - July | Journal of Health. vol journal health joh july... journal.gunabangsa.ac.id/joh/issue/view/15Vol 13 No 2 2026 Journal of Health JoH July Journal of Health vol journal health joh july journal gunabangsa ac joh issue view 15
  3. Hubungan riwayat pemberian ASI dan kejadian wasting pada balita: Analisis data SSGI 2022 | Holistik Jurnal... doi.org/10.33024/hjk.v18i12.694Hubungan riwayat pemberian ASI dan kejadian wasting pada balita Analisis data SSGI 2022 Holistik Jurnal doi 10 33024 hjk v18i12 694
  4. HUBUNGAN BERAT BADAN LAHIR DAN STATUS GIZI BAYI UMUR 1-6 BULAN BERDASARKAN INDEKS BB/U | Indonesian Midwifery... doi.org/10.20473/imhsj.v3i1.2019.62-69HUBUNGAN BERAT BADAN LAHIR DAN STATUS GIZI BAYI UMUR 1 6 BULAN BERDASARKAN INDEKS BB U Indonesian Midwifery doi 10 20473 imhsj v3i1 2019 62 69
Read online
File size263.24 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test