PERADABANPUBLISHINGPERADABANPUBLISHING

Peradaban Journal of Religion and SocietyPeradaban Journal of Religion and Society

Komunikasi kesehatan berbasis agama telah menjadi komponen penting dalam respons kesehatan masyarakat, tetapi bukti yang tersedia masih terfragmentasi pada aktor keagamaan, strategi pesan, saluran komunikasi, dan konteks implementasi. Scoping review ini memetakan literatur untuk mengidentifikasi fungsi-fungsi komunikasi yang berulang, kesenjangan bukti, serta implikasinya bagi penanganan krisis kesehatan masyarakat di masa depan. Penelusuran literatur dilakukan pada basis data Scopus dan Web of Science terhadap publikasi tahun 2021–2026. Setelah proses penyaringan dan penilaian kelayakan, sebanyak 40 studi disintesis menggunakan kerangka Population–Concept–Context (PCC). Meskipun bukti yang dianalisis terutama berasal dari penelitian selama pandemi COVID-19, pandemi tersebut diperlakukan sebagai kasus empiris untuk memahami komunikasi kesehatan berbasis agama dalam berbagai krisis kesehatan masyarakat. Hasil kajian menunjukkan bahwa efektivitas komunikasi tidak hanya ditentukan oleh kredibilitas komunikator atau saluran komunikasi, tetapi oleh interaksi antara otoritas yang sah, penerjemahan pesan kesehatan yang bermakna secara budaya, dan kapasitas kelembagaan untuk mendukung implementasi. Berdasarkan sintesis tersebut, kajian ini mengembangkan kerangka analitis Authority–Translation–Capacity (ATC) sebagai pendekatan untuk memahami komunikasi kesehatan berbasis agama dalam berbagai konteks keagamaan dan kelembagaan. Basis bukti yang tersedia masih didominasi oleh penelitian potong lintang, kualitatif, dan deskriptif, sehingga diperlukan penelitian komparatif, longitudinal, dan berorientasi implementasi. Kerangka ATC yang diusulkan memberikan landasan konseptual untuk memperkuat kesiapsiagaan komunikasi serta mendorong keterlibatan lembaga keagamaan sebagai mitra dalam perancangan, pelaksanaan, dan evaluasi komunikasi kesehatan pada krisis kesehatan masyarakat di masa depan.

Scoping review ini menunjukkan bahwa komunikasi kesehatan berbasis agama adalah sistem yang kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor.Efektivitas komunikasi tergantung pada interaksi antara otoritas yang sah, penerjemahan pesan yang bermakna secara budaya, dan kapasitas kelembagaan untuk mendukung implementasi.Kerangka Authority–Translation–Capacity (ATC) yang diusulkan memberikan landasan konseptual untuk memahami komunikasi kesehatan berbasis agama dalam berbagai konteks.Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi mekanisme dan perilaku yang terkait dengan komunikasi kesehatan berbasis agama, termasuk studi komparatif, longitudinal, dan berorientasi implementasi.Keterlibatan lembaga keagamaan sebagai mitra kolaboratif dalam perancangan, pelaksanaan, dan evaluasi komunikasi kesehatan dapat memperkuat kesiapsiagaan dan respons terhadap krisis kesehatan masyarakat di masa depan.

Untuk memperkuat kesiapsiagaan komunikasi dan meningkatkan efektivitas komunikasi kesehatan berbasis agama dalam krisis kesehatan masyarakat, berikut adalah beberapa saran penelitian lanjutan: Pertama, perlu dilakukan studi komparatif untuk mengeksplorasi efek dari berbagai jenis komunikator, seperti pemimpin agama, klinisi, dan organisasi keagamaan, terhadap perilaku pencegahan. Kedua, penelitian longitudinal diperlukan untuk memahami bagaimana komunikasi kesehatan berbasis agama mempengaruhi perilaku pencegahan dalam jangka panjang. Ketiga, penelitian yang berfokus pada implementasi dan evaluasi komunikasi kesehatan berbasis agama dapat memberikan wawasan tentang bagaimana meningkatkan efektivitas komunikasi dan keterlibatan masyarakat. Selain itu, studi yang menyelidiki peran teknologi digital dalam komunikasi kesehatan berbasis agama juga dapat memberikan kontribusi terhadap pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana memanfaatkan saluran komunikasi yang berbeda untuk mencapai hasil yang lebih efektif. Dengan menggabungkan saran-saran ini, kita dapat meningkatkan kesiapsiagaan komunikasi dan keterlibatan lembaga keagamaan sebagai mitra kolaboratif dalam menghadapi krisis kesehatan masyarakat di masa depan.

  1. Client Challenge. client challenge javascript disabled browser please enable proceed required part site... doi.org/10.1007/s10900-024-01397-8Client Challenge client challenge javascript disabled browser please enable proceed required part site doi 10 1007 s10900 024 01397 8
  2. Web-based COVID-19 risk communication by religious authorities in Uganda: a critical review. web based... doi.org/10.11604/pamj.2021.40.63.27550Web based COVID 19 risk communication by religious authorities in Uganda a critical review web based doi 10 11604 pamj 2021 40 63 27550
  3. Client Challenge. client challenge javascript disabled browser please enable proceed required part site... doi.org/10.1186/s12889-026-27338-9Client Challenge client challenge javascript disabled browser please enable proceed required part site doi 10 1186 s12889 026 27338 9
Read online
File size3.01 MB
Pages26
DMCAReport

Related /

ads-block-test