PERADABANPUBLISHINGPERADABANPUBLISHING

Peradaban Journal of Religion and SocietyPeradaban Journal of Religion and Society

Restorasi Saṅgha Bhikkhunī Theravāda di Indonesia menyajikan kasus pertumbuhan keagamaan yang menarik di dalam lingkungan tempat penahbisan institusional masih terkontestasi. Dengan menggunakan desain fenomenologi transendental kualitatif, penelitian ini menguji bagaimana para Bhikkhunī di Indonesia mengonstruksi legitimasi keagamaan melalui agensi keagamaan (religious agency) di tengah kontestasi institusional yang masih berlangsung. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumentasi bersama para Bhikkhunī, penyokong awam (lay supporters), serta otoritas monastik. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa legitimasi keagamaan dikonstruksi melalui tiga dimensi agensi yang saling terhubung: (1) pembentukan diri secara spiritual (spiritual self-formation) melalui penghayatan disiplin Vinaya dan praktik etis, yang melandasi kredibilitas moral; (2) peningkatan kapasitas kolektif (collective capacity building) melalui pendidikan Dhamma, pembangunan vihara/biara, dan jaringan transnasional, yang memperluas kehadiran sosial; serta (3) negosiasi otoritas relasional (relational authority negotiation) melalui keterlibatan non-konfrontatif, komunikasi digital, dan aliansi strategis, yang menavigasi hambatan-hambatan struktural. Secara bersama-sama, praktik-praktik ini menunjukkan bahwa legitimasi bukanlah sekadar status yang diberikan oleh institusi formal, melainkan sebuah proses sosial dinamis dari bawah ke atas (bottom-up) yang diperoleh melalui praktik harian dan keterlibatan komunitas. Secara konseptual, penelitian ini memajukan kerangka kerja legitimasi keagamaan berbasis agensi (agency-based framework), yang menawarkan wawasan analitis lebih luas untuk memahami bagaimana aktor keagamaan yang dipulihkan, baru muncul, atau terpinggirkan membangun otoritas di bawah keterbatasan struktural.

Legitimasi keagamaan dalam konteks restorasi Saṅgha Bhikkhunī Theravāda di Indonesia tidak hanya bergantung pada pengakuan institusional formal, tetapi juga pada proses dinamis yang dibentuk melalui praktek harian, keterlibatan komunitas, dan pengembangan kapasitas kolektif.Proses ini menunjukkan bahwa otoritas keagamaan dapat dibangun melalui ketiga dimensi agensi.pembentukan spiritual, kapasitas kolektif, dan negosiasi otoritas relasional.Penelitian ini menegaskan bahwa legitimasi keagamaan adalah hasil dari interaksi kompleks antara praktik etis, kredibilitas moral, dan peran aktif dalam masyarakat.

Penelitian lanjutan dapat mengeksplorasi dampak komunikasi digital dalam memperkuat legitimasi keagamaan para Bhikkhunī melalui platform media sosial. Selain itu, studi tentang dinamika gender dalam jaringan monastik transnasional dapat memberikan wawasan baru tentang peran perempuan dalam tradisi Buddha. Terakhir, analisis peran masyarakat lokal dalam mendukung keberlanjutan Saṅgha Bhikkhunī dapat menjadi fokus untuk memahami interaksi antara otoritas institusional dan praktik keagamaan harian.

  1. Sage Research Methods - Phenomenological research methods. sage research methods skip main content internet... doi.org/10.4135/9781412995658Sage Research Methods Phenomenological research methods sage research methods skip main content internet doi 10 4135 9781412995658
  2. DOI Name 10.3390 Values. name values index type timestamp data serv crossref desc prefix mdpi email admin... doi.org/10.3390DOI Name 10 3390 Values name values index type timestamp data serv crossref desc prefix mdpi email admin doi 10 3390
  3. Constructing Religious Legitimacy through Religious Agency | Peradaban Journal of Religion and Society.... jurnal.peradabanpublishing.com/index.php/pjrs/article/view/1291Constructing Religious Legitimacy through Religious Agency Peradaban Journal of Religion and Society jurnal peradabanpublishing index php pjrs article view 1291
Read online
File size462 KB
Pages15
DMCAReport

Related /

ads-block-test