SCITECHGRUPSCITECHGRUP

Asian Journal of Environmental ResearchAsian Journal of Environmental Research

Latar Belakang: Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) tetap menjadi penyebab utama morbiditas pada anak di bawah lima tahun di Indonesia, dengan lingkungan fisik rumah menjadi faktor penentu signifikan. Data pengawasan dari Puskesmas Tuminting (2025) menunjukkan prevalensi ISPA yang sangat tinggi (79,0%) pada balita di Kecamatan Tuminting, Kota Manado. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara kepadatan penduduk rumah tangga dan luas area ventilasi terhadap insidens ISPA pada balita di wilayah dengan prevalensi tinggi. Metode: Studi potong lintang dilakukan dari Juli hingga November 2025. Sampel purposif sebanyak 62 balita diambil. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner, observasi langsung, dan pengukuran fisik rumah menggunakan meter roler. Analisis univariat menggambarkan karakteristik variabel, dan uji Fishers Exact digunakan untuk analisis bivariat dengan tingkat signifikansi p < 0,05. Hasil: Mayoritas rumah memiliki kepadatan penduduk tidak memenuhi standar (83,9%), sementara sebagian besar memiliki luas area ventilasi yang memadai (91,9%). Prevalensi ISPA adalah 79,0%. Analisis bivariat menunjukkan hubungan signifikan antara kepadatan penduduk tinggi dan insidens ISPA (p = 0,004). Sebaliknya, tidak ada hubungan signifikan antara luas area ventilasi dan ISPA (p = 0,280). Kesimpulan: Kepadatan penduduk adalah faktor risiko lingkungan dominan yang berkontribusi pada tingginya insidens ISPA pada balita di Kecamatan Tuminting. Temuan ini menekankan bahwa intervensi kesehatan masyarakat harus melampaui perbaikan kualitas rumah fisik (misalnya ventilasi) untuk secara aktif menangani kepadatan penduduk melalui kebijakan perumahan sehat dan pendidikan masyarakat yang ditargetkan.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kepadatan perumahan memiliki hubungan signifikan dengan insidens ISPA pada balita di Kecamatan Tuminting, Manado, sedangkan luas area ventilasi tidak menunjukkan hubungan signifikan.Faktor kepadatan penduduk yang sangat buruk (83,9% rumah tidak memenuhi standar) menjadi faktor penentu utama tingginya insidens ISPA (79,0%), di mana kondisi kepadatan ini melebihi efek positif ventilasi yang memenuhi standar teknis (91,9% memenuhi standar).Oleh karena itu, upaya mengatasi ISPA di masa depan perlu memprioritaskan intervensi yang mengatasi masalah kepadatan penduduk, yang melibatkan aspek sosial ekonomi yang lebih kompleks, selain terus mempertahankan kualitas fisik rumah.

Penelitian lanjutan dapat mengkaji dampak kepadatan perumahan terhadap ISPA pada wilayah lain di Indonesia untuk memverifikasi hasil studi ini. Selain itu, studi tentang efektivitas ventilasi yang melibatkan faktor seperti arah aliran udara dan kecepatan angin dapat memberikan wawasan tambahan. Terakhir, penelitian tentang aspek sosial ekonomi yang berkontribusi pada kepadatan penduduk dan dampaknya terhadap insidens ISPA dapat membantu merancang strategi intervensi yang lebih komprehensif.

  1. The Correlation Between Housing Density and House Ventilation Area and the Incidence of Acute Respiratory... doi.org/10.69930/ajer.v3i1.620The Correlation Between Housing Density and House Ventilation Area and the Incidence of Acute Respiratory doi 10 69930 ajer v3i1 620
Read online
File size278.87 KB
Pages8
DMCAReport

Related /

ads-block-test