GUBUGJOURNALGUBUGJOURNAL

El Muntashir: Journal of Quranic StudiesEl Muntashir: Journal of Quranic Studies

Tantangan sosial kontemporer seperti penurunan literasi, ketimpangan ekonomi, dan individualisme meningkatkan pertanyaan penting mengenai konsep manusia sebagai makhluk sosial dalam Al-Quran. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi konsep manusia sebagai makhluk sosial dari perspektif Al-Quran melalui interpretasi tematik Surah Al-Alaq (96):3 dan Surah Az-Zukhruf (43):32 serta meninjau relevansinya terhadap realitas sosial kontemporer. Metode penelitian kualitatif menggunakan pendekatan tematik (maudhui) dengan membandingkan perspektif tafsir klasik (al-Tabari, Ibn Kathir, al-Qurtubi) dan kontemporer (M. Quraish Shihab). Temuan menunjukkan bahwa Surah Al-Alaq (96):3 menetapkan pengetahuan sebagai fondasi martabat manusia dan perkembangan sosial, sementara Surah Az-Zukhruf (43):32 menekankan ketergantungan sebagai bagian dari ketertiban ilahi untuk memupuk kerja sama. Paradigma sosial Al-Quran berlandaskan tiga pilar: pengetahuan sebagai fondasi peradaban, diferensiasi sosial sebagai mekanisme kerja sama, dan etika tawhid sebagai pedoman moral struktur sosial. Studi ini menyimpulkan bahwa Al-Quran memandang manusia sebagai makhluk sosial yang bertanggung jawab secara moral, martabatnya diwujudkan melalui pengetahuan dan ketergantungan harmonis. Paradigma ini memberikan kerangka relevan untuk mengatasi isu seperti krisis literasi, ketimpangan ekonomi, dan fragmentasi sosial di era digital.

Az-Zukhruf ayat 32 dari perspektif tafsir klasik dan kontemporer, dapat disimpulkan bahwa QS.Al-Alaq ayat 3 merupakan fondasi epistemologis Islam yang menekankan pentingnya pengetahuan sebagai anugerah ilahi.Az-Zukhruf ayat 32 diinterpretasikan sebagai afirmasi bahwa perbedaan status, kemampuan, dan penghidupan adalah bagian dari ketertiban ilahi untuk memastikan ketergantungan dan kerja sama antarmanusia.Sinergi kedua ayat menghasilkan paradigma sosial Al-Quran berlandaskan tiga prinsip.pengetahuan sebagai fondasi peradaban, diferensiasi sosial sebagai mekanisme kerja sama, dan nilai tawhid sebagai pengontrol moral struktur sosial.Paradigma ini relevan untuk mengatasi isu kontemporer seperti krisis literasi, ketimpangan ekonomi, dan fragmentasi sosial di era digital.

Penelitian lanjutan dapat mengkaji bagaimana prinsip iqra dalam Al-Quran diterapkan dalam gerakan literasi digital untuk meningkatkan kesadaran sosial di era teknologi. Selanjutnya, studi tentang model ekonomi yang sejalan dengan prinsip ketergantungan sosial dalam QS. Az-Zukhruf 32 bisa dilakukan untuk mengevaluasi alternatif sistem ekonomi yang lebih adil. Terakhir, penelitian bisa fokus pada dampak media sosial terhadap individualisme modern melalui lensa tawhid dalam Al-Quran, dengan membandingkan praktik keagamaan dan perilaku sosial di berbagai konteks budaya.

  1. Tujuan Penciptaan Manusia Dalam Kajian Al-Quran | ZAD Al-Mufassirin. penciptaan manusia kajian al quran... jurnal.stiqzad.ac.id/index.php/zam/article/view/54Tujuan Penciptaan Manusia Dalam Kajian Al Quran ZAD Al Mufassirin penciptaan manusia kajian al quran jurnal stiqzad ac index php zam article view 54
Read online
File size471.64 KB
Pages12
DMCAReport

Related /

ads-block-test