IAIQHIAIQH

At-Ta'dib: Jurnal Pendidikan Agama IslamAt-Ta'dib: Jurnal Pendidikan Agama Islam

Perkembangan teknologi di era Society 5.0 membawa perubahan besar dalam kehidupan sosial, budaya, dan pendidikan, termasuk bagi mahasiswa Muslim di PTKIN. Integrasi manusia dengan teknologi cerdas mempermudah akses informasi dan menunjang peningkatan kemampuan akademik, tetapi juga menimbulkan tantangan serius bagi keteguhan identitas keislaman. Arus informasi global yang masif, masuknya nilai-nilai lintas budaya, penyebaran disinformasi keagamaan, serta budaya digital yang permisif dapat menghambat internalisasi nilai Islam, melemahkan spiritualitas, dan memengaruhi orientasi moral mahasiswa. Berbagai fenomena seperti kecanduan digital, FOMO, perilaku bermedia yang tidak etis, hingga polarisasi sosial akibat algoritma turut memperumit proses pembentukan karakter religius. Melalui observasi terhadap sejumlah mahasiswa PTKIN, penelitian ini menemukan bahwa kemampuan mempertahankan identitas keislaman sangat dipengaruhi oleh literasi digital Islami, keterampilan tabayyun dalam menilai informasi, serta kesiapan spiritual dan intelektual menghadapi budaya digital. Temuan tersebut menegaskan perlunya penguatan kurikulum bernilai keislaman, peningkatan etika digital, dan dukungan kelembagaan yang menyeimbangkan pemanfaatan teknologi dengan pembinaan karakter.

Transformasi digital, melalui teknologi seperti AI dan media sosial, memberikan peluang besar untuk pengembangan ilmu dan dakwah, tetapi secara bersamaan menciptakan tantangan serius bagi mahasiswa Muslim berupa krisis identitas keagamaan, degradasi moral, dan lemahya etika bermedia.Mahasiswa Muslim dituntut untuk menguasai teknologi sambil mempertahankan keteguhan spiritual dan karakter Islami agar mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati diri.Upaya strategis yang diperlukan meliputi penguatan etika digital dan spiritualitas berbasis tasawuf dan akhlak, peningkatan literasi digital Islami, serta integrasi prinsip Islam dalam pendidikan teknologi.Langkah-langkah ini harus didukung melalui kolaborasi antara lembaga pendidikan, keluarga, dan tokoh agama untuk menciptakan ekosistem digital yang moderat dan etis.Pengembangan kepemimpinan digital juga penting agar mahasiswa dapat memanfaatkan teknologi secara kreatif untuk dakwah dan pengabdian.Tujuannya adalah membentuk mahasiswa Muslim menjadi Ulul Albab digital—generasi yang berpengetahuan, berakhlak mulia, dan menggunakan teknologi untuk menegakkan nilai Islam dan membangun peradaban digital yang berkeimanan dan beretika.

Untuk memperkuat dimensi spiritual, moral, dan intelektual mahasiswa Muslim di era transformasi digital, diperlukan evaluasi lebih lanjut mengenai efektivitas berbagai upaya, seperti internalisasi etika digital berlandaskan nilai-nilai Islam, penguatan literasi digital Islami, serta kolaborasi antara lembaga pendidikan, keluarga, dan tokoh agama. Pengembangan kepemimpinan digital dan strategi pembelajaran yang inovatif juga perlu dipertimbangkan untuk membentuk mahasiswa Muslim yang adaptif, berkarakter Islami, dan mampu memanfaatkan teknologi secara kreatif untuk dakwah dan pengabdian. Selain itu, penting untuk menyeimbangkan pemanfaatan teknologi dengan pembinaan karakter dan spiritualitas, serta mengintegrasikan prinsip Islam dalam pendidikan teknologi. Dengan demikian, mahasiswa Muslim dapat menjadi agen perubahan yang mampu menghadapi tantangan era digital tanpa kehilangan identitas dan nilai keislaman.

  1. #ilmu pengetahuan#ilmu pengetahuan
  2. #ilmu pengetahuan alam#ilmu pengetahuan alam
Read online
File size373.71 KB
Pages15
Short Linkhttps://juris.id/p-2Zo
Lookup LinksGoogle ScholarGoogle Scholar, Semantic ScholarSemantic Scholar, CORE.ac.ukCORE.ac.uk, WorldcatWorldcat, ZenodoZenodo, Research GateResearch Gate, Academia.eduAcademia.edu, OpenAlexOpenAlex, Hollis HarvardHollis Harvard
DMCAReport

Related /

ads-block-test