UMSRAPPANGUMSRAPPANG

MALLOMO: Journal of Community ServiceMALLOMO: Journal of Community Service

Kondisi lingkungan sekolah yang kurang tertata serta penumpukan sampah domestik menjadi kendala dalam menciptakan atmosfer belajar yang kondusif di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Pakumbulan, Buaran, Pekalongan. Kurangnya area resapan air juga memicu genangan saat musim hujan, sehingga diperlukan intervensi terpadu untuk memperbaiki kualitas lingkungan sekolah. Kegiatan ini bertujuan mengoptimalisasi lingkungan belajar yang sehat melalui edukasi pengelolaan sampah, penghijauan, serta pembuatan lubang biopori. Pengabdian dilakukan melalui tiga tahap: sosialisasi teori pemilahan sampah 3R (Reuse, Reduce, Recycle), praktik penanaman tanaman hias dan produktif, serta pelatihan teknis pembuatan lubang resapan biopori di area rawan genangan. Kegiatan ini berhasil meningkatkan kesadaran ekologis warga madrasah, ditandai dengan terbentuknya sistem pemilahan sampah mandiri dan bertambahnya luasan area hijau sekolah. Selain itu, pemasangan 10 titik lubang biopori terbukti efektif mempercepat daya serap air tanah sekaligus menjadi wadah pengolahan sampah organik menjadi kompos. Siswa dan guru menunjukkan peningkatan keterampilan dalam merawat tanaman dan mengelola limbah sekolah secara produktif. Program ini secara signifikan mengubah wajah madrasah menjadi lebih asri, sehat, dan edukatif sebagai lingkungan belajar. Disarankan agar pihak madrasah membentuk tim Laskar Hijau dari unsur siswa untuk menjamin keberlanjutan perawatan biopori dan tanaman secara mandiri serta mengintegrasikan nilai-nilai lingkungan ke dalam kurikulum pembelajaran.

Kegiatan pengabdian masyarakat di MI Muhammadiyah Pakumbulan Buaran Pekalongan telah berhasil mengoptimalisasi lingkungan belajar yang sehat melalui integrasi pengelolaan sampah, penghijauan, dan teknologi biopori.Intervensi yang melibatkan 70 siswa ini terbukti efektif meningkatkan literasi ekologi peserta secara signifikan, di mana pemahaman teknis mengenai fungsi biopori meningkat hingga 112%.Secara fisik, program ini telah menghasilkan 10 titik lubang resapan biopori sebagai solusi drainase mikro dan revitalisasi taman madrasah seluas 50 meter persegi.Meskipun menghadapi hambatan teknis berupa karakteristik tanah yang keras dan kendala cuaca hujan, modifikasi alat serta manajemen jadwal yang fleksibel memastikan seluruh target program tercapai.Sinergi antara edukasi kognitif dan aksi fisik ini berhasil mengubah wajah madrasah menjadi lebih asri, sehat, dan edukatif.Untuk menjaga keberlanjutan dampak program, disarankan agar pihak MI Muhammadiyah Pakumbulan Buaran Pekalongan membentuk struktur Laskar Hijau yang melibatkan siswa secara bergantian untuk memantau pengisian sampah organik ke dalam biopori dan perawatan tanaman.

Penelitian lanjutan dapat mengkaji dampak jangka panjang program Laskar Hijau dalam menjaga keberlanjutan pengelolaan lingkungan di madrasah. Selain itu, perlu dilakukan eksplorasi desain biopori yang lebih efektif untuk tanah berbatu atau daerah dengan risiko genangan tinggi. Terakhir, studi tentang integrasi pendidikan lingkungan ke dalam kurikulum sekolah dasar dapat menjadi arah penelitian baru untuk memperkuat kesadaran ekologis siswa secara sistematis.

Read online
File size617.55 KB
Pages9
DMCAReport

Related /

ads-block-test