LPPM UNBAJALPPM UNBAJA

Jurnal Intent: Jurnal Industri dan Teknologi TerpaduJurnal Intent: Jurnal Industri dan Teknologi Terpadu

PT EDS Manufacturing Indonesia berdedikasi untuk menyediakan produk berkualitas tinggi kepada pelanggannya. Sistem kontrol kualitas yang diterapkan memastikan bahwa perusahaan untuk tidak : Menerima produk defect, Memproduksi produk defect, dan Meloloskan produk defect. Pada rentang waktu Januari-november 2022 terjadi peningkatan defect dengan rata-rata 2,2%, yang sebelumnya ditahun 2021 hanya berada di angka 1,7%. Agar produk yang dihasilkan sesuai dengan harapan konsumen, maka perusahaan harus melakukan tindakan efektif kualitas yang dibuat dan menghindari banyaknya produk rusak atau cacat yang dipasok ke pasar. Quality Control Circle (QCC) adalah bentuk instrumen penekanan yang umum digunakan dibanyak perusahaan untuk mengelola dan meningkatkan kualitas produk dengan menggunakan siklus PDCA (Plan, Do, Check, Action). Jenis cacat yang sering terjadi pada produksi wirring harness (suzuki) pada periode Januari-November 2022 yaitu : cacat not click connector sebesar 1486, not click docking connector sebesar 726 dan missing spot sebesar 473. Diketahui faktor penyebab terjadinya not click connector yaitu : faktor manusia, faktor metode, dan faktor lingkungan. Faktor penyebab terjadinya not click docking connector yaitu : faktor manusia, faktor metode, dan faktor mesin. Adapun faktor penyebab terjadinya missing spot yaitu : faktor manusia dan faktor metode. Setelah adanya perbaikan. terjadi penurunan tingkat cacat dari kondisi sebelumnya dengan rata-rata 2,2%, menjadi 1,4%. Pada tahap yang telah dilakukan, untuk mendapatkan hasil yang berkelanjutan dan mengendalikan kualitas produk yang dihasilkan, perbaikan yang dilakukan perlu dijadikan sebuah standar. Standarisasi tersebut dibuat dalam bentuk sop dan harus diterapkan pada seluruh elemen yang berkaitan.

Produk wiring harness di PT EDS Manufacturing Indonesia mengalami beberapa jenis cacat seperti not click connector, not click docking connector, dan missing spot.Faktor penyebab cacat meliputi manusia, metode, dan lingkungan.Penerapan metode QCC dan 5W 1H berhasil menurunkan tingkat cacat dari 2,2% menjadi 1,4%.Untuk mempertahankan hasil ini, standarisasi prosedur melalui SOP diperlukan.

Berdasarkan penelitian ini, beberapa saran penelitian lanjutan dapat dikembangkan. Pertama, penelitian dapat mengkaji efektivitas penerapan metode QCC dan 5W 1H di industri lain yang memiliki proses produksi serupa, seperti manufaktur komponen elektronik. Kedua, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengevaluasi dampak pelatihan karyawan berbasis teknologi informasi dalam mengurangi kesalahan produksi. Ketiga, studi tentang integrasi sistem otomasi dengan metode pengendalian kualitas tradisional dapat dilakukan untuk meningkatkan akurasi dan efisiensi proses produksi. Saran-saran ini bertujuan untuk mengembangkan metode yang lebih inovatif dan berkelanjutan dalam pengendalian kualitas produk.

  1. Analisis Pengendalian Kualitas Produk 4L45W 21.5 MY Menggunakan Seven Tools dan Kaizen | Go-Integratif... doi.org/10.35261/gijtsi.v2i2.5651Analisis Pengendalian Kualitas Produk 4L45W 21 5 MY Menggunakan Seven Tools dan Kaizen Go Integratif doi 10 35261 gijtsi v2i2 5651
  2. Klasifikasi Pertanyaan Bidang Akademik Berdasarkan 5W1H menggunakan K-Nearest Neighbors | JEPIN (Jurnal... doi.org/10.26418/jp.v7i1.45322Klasifikasi Pertanyaan Bidang Akademik Berdasarkan 5W1H menggunakan K Nearest Neighbors JEPIN Jurnal doi 10 26418 jp v7i1 45322
Read online
File size436.48 KB
Pages19
DMCAReport

Related /

ads-block-test