UNNESUNNES

JSIJSI

Studi ini bertujuan untuk menentukan miskonsepsi yang terjadi pada siswa sekolah menengah pertama di Kota Medan dalam mata pelajaran sains tentang getaran dan gelombang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Populasi penelitian adalah seluruh siswa sekolah menengah pertama di Kota Medan. Sekolah yang diambil sebagai sampel menggunakan teknik sampling wilayah, yaitu pusat kota, tengah kota, dan pinggiran kota. SMP Negeri 02 Medan dipilih untuk area pusat kota, SMP Negeri 34 Medan untuk area tengah kota, dan SMP Negeri 29 Medan untuk area pinggiran kota. Kelompok responden dari masing-masing sekolah dipilih menggunakan teknik sampling acak kluster dengan detail masing-masing sekolah sebanyak 29, 27, dan 29 siswa. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes pilihan ganda yang dilengkapi dengan CRI. Soal tes diberikan sebanyak 20 pertanyaan tentang getaran dan gelombang. Sebelum soal tes digunakan, instrumen divalidasi dan diuji reliabilitasnya. Setelah tes dilakukan di tiga sekolah, data yang diperoleh dianalisis menggunakan metode CRI. Data keseluruhan miskonsepsi yang terjadi pada tiga sekolah yang diteliti adalah 23,1%, siswa yang tidak memahami konsep sebesar 63%, dan siswa yang memahami konsep sebesar 13,9%. Sementara itu, miskonsepsi tertinggi terjadi pada soal nomor 7 sebesar 43,5% dan miskonsepsi terendah pada nomor 2 sebesar 8,2%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tingkat miskonsepsi siswa tentang sains (getaran dan gelombang) secara umum di kota tempat tiga sampel yang diteliti termasuk kategori rendah.

Metode CRI merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat keyakinan siswa dalam menjawab setiap soal yang diberikan dan untuk membedakan siswa yang tidak tahu konsep, miskonsepsi, dan tahu konsep.Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa miskonsepsi secara keseluruhan yang terjadi untuk ketiga sekolah yang diteliti adalah sebesar 23,1%, siswa yang tidak memahami konsep sebesar 63%, dan siswa yang mengetahui konsep 13,9%.Dapat ditarik kesimpulan bahwa tingkat miskonsepsi siswa terhadap IPA (materi getaran dan gelombang) secara umum di kota tempat ketiga sampel yang diteliti tergolong kategori rendah (0 < Miskonsepsi < 30% = Rendah).Sedangkan berdasarkan soal, miskonsepsi tertinggi terjadi pada soal nomor 7 sebesar 43,5% dan miskonsepsi terendah pada nomor 2 sebesar 8,2%.Perbandingan antara siswa yang Tidak Tahu Konsep, Miskonsepsi, dan Tahu Konsep berdasarkan analisis data dan pembahasan diketahui bahwa siswa yang Tidak Tahu Konsep lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang mengalami Miskonsepsi maupun Tahu Konsep.

Penelitian lanjutan dapat dilakukan dengan memperluas cakupan wilayah penelitian untuk membandingkan tingkat miskonsepsi siswa di berbagai kota atau daerah. Selain itu, penggunaan metode lain seperti wawancara mendalam atau observasi langsung dapat dikembangkan untuk memperkaya data dalam mengidentifikasi miskonsepsi. Selanjutnya, fokus penelitian dapat diperdalam pada konsep-konsep spesifik yang sering mengalami miskonsepsi, seperti perbedaan antara gelombang transversal dan longitudinal, serta dampak perubahan variabel pada cepat rambat gelombang. Penelitian ini juga dapat mengintegrasikan pendekatan pembelajaran berbasis teknologi untuk mengatasi miskonsepsi yang ditemukan. Terakhir, penelitian dapat mengkaji efektivitas intervensi pembelajaran yang khusus dirancang untuk memperbaiki miskonsepsi siswa, seperti penggunaan simulasi atau eksperimen sederhana yang relevan dengan materi getaran dan gelombang.

  1. Identification of Students' Misconceptions on Vibration and Wave Material by Using the Certainty... doi.org/10.15294/jsi.v8i2.39867Identification of Students Misconceptions on Vibration and Wave Material by Using the Certainty doi 10 15294 jsi v8i2 39867
Read online
File size676.01 KB
Pages16
DMCAReport

Related /

ads-block-test