PERADABANPUBLISHINGPERADABANPUBLISHING

Peradaban Journal of Religion and SocietyPeradaban Journal of Religion and Society

Simbol-simbol keagamaan semakin memainkan peran penting dalam mengonstruksi legitimasi politik, namun perhatian terhadap implikasi normatif dari instrumentalisi politik taabbudiyyah dari perspektif Maqasid al-Shariah masih relatif terbatas. Artikel ini menganalisis bagaimana taabbudiyyah, yang pada mulanya dipahami sebagai pengabdian tulus kepada Allah, ditransformasikan menjadi sumber daya simbolis untuk legitimasi politik, sekaligus mengembangkan kerangka kerja berbasis Maqasid al-Shariah untuk mengevaluasi fenomena tersebut. Menggunakan pendekatan kualitatif normatif-konseptual berbasis studi pustaka, penelitian ini mengandalkan karya-karya klasik fiqh, usul al-fiqh, dan Maqasid al-Shariah, yang dilengkapi dengan literatur kontemporer tentang sosiologi agama dan legitimasi politik. Temuan penelitian menunjukkan bahwa instrumentalisi politik taabbudiyyah bekerja melalui empat mekanisme yang saling terhubung: desakralisasi dan komodifikasi simbol-simbol ibadah, naturalisasi wacana kesalehan, serta konversi modal simbolis menjadi legitimasi politik. Dari perspektif Maqasid al-Shariah, mekanisme-mekanisme ini berisiko mengikis pemeliharaan agama (hifz al-din), akal (hifz al-aql), jiwa (hifz al-nafs), dan harta (hifz al-mal), sehingga membenarkan penerapan prinsip pencegahan sadd al-dharai. Studi ini berkontribusi pada kajian hukum Islam kontemporer dengan menawarkan kerangka kerja evaluatif yang membedakan antara keterlibatan agama yang autentik dalam politik dengan manipulasi instrumental ibadah untuk pencitraan politik.

Penelitian ini menunjukkan bahwa instrumentalisasi taabbudiyyah dalam kontestasi politik mengubah ibadah dari ekspresi ketulusan menjadi sumber daya simbolis untuk legitimasi politik.Mekanisme seperti desakralisasi, komodifikasi, dan naturalisasi simbol keagamaan berpotensi merusak nilai-nilai agama, akal, jiwa, dan harta.Dari perspektif Maqasid al-Shariah, praktik ini memerlukan pencegahan melalui prinsip sadd al-dharai.Studi ini memberikan kerangka kerja normatif untuk mengevaluasi hubungan antara agama dan politik, serta pentingnya menjaga integritas ibadah dari penggunaan pragmatis.

Penelitian lanjutan dapat mengkaji dampak jangka panjang instrumentalisasi taabbudiyyah terhadap otoritas agama dan kredibilitas lembaga keagamaan. Selain itu, analisis peran media dalam memperkuat simbol-simbol keagamaan sebagai alat politik perlu dikembangkan. Terakhir, studi komparatif tentang praktik serupa di berbagai wilayah dapat memberikan wawasan mendalam tentang dinamika hubungan agama dan politik dalam konteks global.

  1. Reassessing the Legitimacy of Civil Disobedience: A Maqasid al-Shari’ah and Sociological Analysis... doi.org/10.29240/jhi.v11i1.14452Reassessing the Legitimacy of Civil Disobedience A Maqasid al ShariAoah and Sociological Analysis doi 10 29240 jhi v11i1 14452
  2. Instrumentalizing Ta'abbudiyyah for Political Legitimacy | Peradaban Journal of Religion and Society.... jurnal.peradabanpublishing.com/index.php/pjrs/article/view/1254Instrumentalizing Taabbudiyyah for Political Legitimacy Peradaban Journal of Religion and Society jurnal peradabanpublishing index php pjrs article view 1254
  3. Manuel Castells: Communication Power. Oxford: Oxford University Press. 2009. | MedieKultur: Journal of... mediekultur.dk/article/view/5712Manuel Castells Communication Power Oxford Oxford University Press 2009 MedieKultur Journal of mediekultur dk article view 5712
  4. Wayback Machine. wayback machine pharosjot.com/uploads/7/1/6/3/7163688/article_14_105_2__april_indonesia.pdfWayback Machine wayback machine pharosjot uploads 7 1 6 3 7163688 article 14 105 2 april indonesia pdf
Read online
File size502.8 KB
Pages15
DMCAReport

Related /

ads-block-test