STAI YPBWISTAI YPBWI

Journal of Early Childhood Education StudiesJournal of Early Childhood Education Studies

Penelitian ini bertujuan untuk melihat sejauh mana fenomena sharenting telah menjadi platform bagi orang tua untuk mengabadikan pertumbuhan dan perkembangan anak-anak mereka. Sharenting merupakan tren pengasuhan anak saat ini. Beberapa orang tua bahkan telah terbiasa mengunggah dan membagikan informasi detail tentang anak-anak mereka secara teratur di dunia maya. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya unggahan orang tua yang berbagi momen bahagia bersama anak-anak mereka yang beredar bebas di media sosial. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Sampel penelitian yang digunakan difokuskan pada orang tua berusia 28-34 tahun yang memiliki anak berusia 3-5 tahun. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam tidak terstruktur pada sampel penelitian. Analisis data dilakukan dengan menerapkan teknik Miles & Huberman melalui tiga tahap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenomena sharenting telah diterapkan oleh orang tua sejak anak mereka masih dalam kandungan dan berlanjut hingga anak memasuki pendidikan. Lebih lanjut, beberapa anak yang menjadi objek sharenting orang tua mereka tidak keberatan jika aktivitas sehari-hari mereka diunggah ke media sosial.

Fenomena sharenting telah menjadi bagian integral bagi orang tua milenial untuk mendokumentasikan momen anak di dunia maya.Meskipun demikian, sangat penting untuk menjaga batasan dan kerahasiaan data pribadi anak, serta memperoleh persetujuan mereka, mengingat hak privasi anak dilindungi negara.Penelitian ini juga mengonfirmasi bahwa sharenting dimulai sejak anak dalam kandungan dan seringkali mendapat persetujuan positif dari anak.

Penelitian ini telah mengungkap bagaimana praktik sharenting mengakar kuat di kalangan orang tua milenial, namun sekaligus menyoroti celah penting dalam pemahaman kita tentang dampak jangka panjangnya. Untuk penelitian selanjutnya, ada baiknya jika fokus diperluas untuk menyelidiki secara mendalam dampak psikologis dan emosional sharenting pada anak di usia remaja atau dewasa, yang mungkin timbul dari jejak digital yang tidak bisa dihapus, serta bagaimana pengalaman mereka dengan sharenting saat kecil memengaruhi identitas dan interaksi sosial mereka di kemudian hari. Selain itu, mengingat temuan bahwa anak-anak usia dini seringkali tidak keberatan dengan sharenting, penelitian lanjutan dapat membandingkan persepsi orang tua mengenai persetujuan anak dengan pemahaman dan perasaan sebenarnya dari anak itu sendiri ketika mereka mencapai usia yang lebih matang dan mampu mengartikulasikan privasi mereka. Penting juga untuk melakukan studi komparatif tentang efektivitas kebijakan perlindungan data anak di Indonesia dibandingkan dengan regulasi yang lebih ketat seperti COPPA di Amerika Serikat atau GDPR di Eropa, serta merumuskan rekomendasi konkret untuk pengembangan kerangka hukum dan edukasi digital yang lebih komprehensif dan sesuai konteks lokal guna melindungi privasi anak dari potensi ancaman kejahatan siber yang terus berkembang.

  1. APA PsycNet. psycnet loading doi.org/10.1037/tmb0000051APA PsycNet psycnet loading doi 10 1037 tmb0000051
Read online
File size409.74 KB
Pages18
DMCAReport

Related /

ads-block-test