STAIN TDMSTAIN TDM

MAQASIDI: Jurnal Syariah dan HukumMAQASIDI: Jurnal Syariah dan Hukum

Fenomena Marriage Is Scary di kalangan Generasi Z telah muncul sebagai persepsi yang dibentuk secara sosial melalui paparan terus-menerus terhadap narasi digital tentang pernikahan. Fenomena ini telah berkontribusi pada kecenderungan meningkat untuk menunda pernikahan, yang pada tingkat masyarakat tercermin dalam penurunan angka pernikahan yang diamati dalam beberapa tahun terakhir. Namun, penundaan ini tidak seharusnya ditafsirkan sebagai penolakan terhadap pernikahan; sebaliknya, ini mewakili proses yang hati-hati dan reflektif melalui mana orang muda berusaha untuk memastikan kesiapan psikologis, emosional, dan sosial mereka sebelum memasuki kehidupan pernikahan. Studi ini menyelidiki pengaruh fenomena Marriage Is Scary pada kesiapan menikah Generasi Z melalui lensa Sadd al-Dharāiʿ sebagai kerangka normatif dalam hukum Islam. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-analisis, studi ini menarik dari wawancara dengan mahasiswa universitas yang tinggal di dua lingkungan sosial yang bertolak belakang: lingkungan yang terbuka yang ditandai dengan paparan media sosial yang intensif dan lingkungan pesantren (sekolah Islam) di mana penggunaan media sosial diatur lebih ketat. Temuan mengungkapkan bahwa fenomena Marriage Is Scary terutama mempengaruhi dimensi psikologis dan sosial kesiapan menikah tanpa memupuk sikap anti-pernikahan. Di antara Generasi Z yang dibesarkan di lingkungan keagamaan, fenomena ini justru diinternalisasi sebagai cara untuk menumbuhkan kehati-hatian dan memperkuat kesiapan untuk pernikahan. Dari perspektif Sadd al-Dharāiʿ, fenomena ini dapat dipahami sebagai kondisi yang memerlukan manajemen pencegahan untuk menghindari potensi kerugian sosial (mafsadah) sambil mempromosikan realisasi kesejahteraan pernikahan (maṣlaḥah) sesuai dengan tujuan hukum Islam (maqāṣid al-sharīʿah). Akibatnya, perspektif ini mendorong Generasi Z untuk mengembangkan kesiapan yang lebih besar untuk menghadapi tantangan kehidupan pernikahan dan mendirikan keluarga yang didasarkan pada nilai-nilai sosial dan ideal Islam dari sakinah, mawaddah, dan raḥmah pernikahan.

Temuan studi ini menunjukkan bahwa fenomena Marriage Is Scary di kalangan Generasi Z mewakili realitas yang dibentuk secara sosial yang dibentuk oleh narasi digital tentang pernikahan.Sebaliknya, fenomena ini terutama mengarahkan pemahaman orang muda tentang kesiapan menikah.Paparan terus-menerus terhadap narasi negatif mendorong kehati-hatian yang lebih besar dan berkontribusi pada penundaan pernikahan sebagai cara untuk mencapai kesiapan psikologis, sosial, dan spiritual yang lebih komprehensif.Studi lebih lanjut mengungkapkan bahwa konteks sosial secara signifikan mempengaruhi cara narasi ini ditafsirkan.Individu Generasi Z yang tinggal di lingkungan dengan paparan media sosial yang intens cenderung mengembangkan sikap yang lebih kritis dan reflektif terhadap pernikahan, sedangkan mereka yang tinggal di lingkungan pesantren (sekolah Islam) menafsirkan narasi yang sama melalui lensa nilai-nilai keagamaan dan bimbingan normatif.Akibatnya, lingkungan pesantren berfungsi sebagai filter nilai-nilai yang mengubah narasi berbasis ketakutan menjadi kesempatan untuk refleksi diri, pengembangan pribadi, dan kesiapan menikah yang lebih baik daripada sikap anti-pernikahan.Dari perspektif Sadd al-Dharāiʿ, fenomena Marriage Is Scary dapat dipahami sebagai dharīʿah kontemporer (cara) yang memiliki potensi untuk menyebabkan mafsadah (kerugian sosial) jika dibiarkan tanpa pengelolaan dan bimbingan normatif yang tepat.Sirkulasi luas narasi berbasis ketakutan tentang pernikahan di media sosial pada prinsipnya mubāḥ (diperbolehkan), karena mewakili pengalaman pribadi, opini individu, dan refleksi kolektif tentang kehidupan pernikahan kontemporer.Namun, ketika narasi ini menjadi negatif dan secara bertahap membentuk persepsi kolektif yang melemahkan kepercayaan pada pernikahan sebagai institusi suci, mereka dapat berfungsi sebagai dharīʿah yang mengarah pada kerugian sosial yang lebih luas.Kerugian ini mencakup erosi nilai suci pernikahan dalam Islam dan pergeseran pemahaman orang muda tentang pernikahan dari komitmen keagamaan menjadi sumber ketakutan dan ketidakpastian.

Berdasarkan temuan dan analisis dalam penelitian ini, berikut adalah tiga saran penelitian lanjutan:. . 1. Mengkaji lebih lanjut pengaruh narasi digital tentang pernikahan pada persepsi dan sikap Generasi Z terhadap pernikahan, dengan mempertimbangkan konteks sosial dan budaya yang beragam. Penelitian ini dapat menyelidiki bagaimana narasi digital yang berbeda, seperti konten positif atau negatif, mempengaruhi kesiapan menikah dan sikap terhadap pernikahan.. . 2. Menganalisis dampak lingkungan pesantren (sekolah Islam) dalam membentuk kesiapan menikah Generasi Z. Penelitian ini dapat mengeksplorasi bagaimana nilai-nilai keagamaan, bimbingan normatif, dan pemahaman yang kuat tentang hukum keluarga Islam (fiqh al-usrah) dalam lingkungan pesantren mempengaruhi interpretasi narasi digital dan kesiapan menikah.. . 3. Mempelajari implikasi metodologis dari doktrin Sadd al-Dharāiʿ dalam merespons fenomena digital kontemporer yang mempengaruhi pemuda Muslim. Penelitian ini dapat menyelidiki bagaimana doktrin ini dapat diterapkan untuk mengelola narasi berbasis ketakutan tentang pernikahan, memastikan bahwa diskursus digital tentang pernikahan tetap sejalan dengan tujuan hukum Islam (maqāṣid al-sharīʿah) dan mempromosikan pemahaman yang seimbang tentang pernikahan sebagai tanggung jawab moral dan komitmen seumur hidup yang bermakna.

  1. Marriage Is Scary and Gen Z’s Marriage Readiness: A Sadd al-Dharā'iʿ Perspective | MAQASIDI:... ejournal.staindirundeng.ac.id/index.php/maqasidi/article/view/6319Marriage Is Scary and Gen ZAos Marriage Readiness A Sadd al DharAi Perspective MAQASIDI ejournal staindirundeng ac index php maqasidi article view 6319
Read online
File size410.25 KB
Pages15
DMCAReport

Related /

ads-block-test