PENERBITPENERBIT

Jurnal Penelitian Agama HinduJurnal Penelitian Agama Hindu

Wariga adalah sistem pengetahuan tradisional masyarakat Bali yang bersumber dari kosmologi Hindu dan diwariskan secara turun-temurun melalui praktik ritual, teks lontar, serta transmisi lisan. Wariga digunakan sebagai panduan untuk menentukan hari baik (dewasa ayu) maupun hari buruk (ala dewasa) dalam pelaksanaan berbagai kegiatan penting seperti upacara keagamaan, pertanian, pembangunan rumah, pernikahan, hingga perjalanan jauh. Dalam masyarakat adat Buleleng, wariga memiliki peran sentral dalam menjaga harmoni antara manusia, alam, dan dimensi spiritual. Namun, seiring dengan berkembangnya modernitas, digitalisasi, dan pergeseran nilai generasi muda, wariga mengalami transformasi signifikan baik dari sisi bentuk, fungsi, maupun pemaknaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk-bentuk transformasi ilmu wariga dalam masyarakat adat Buleleng serta menelaah respons komunitas adat terhadap perubahan tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi partisipatif, wawancara semi terstruktur terhadap juru wariga, tokoh adat, generasi muda, dan pengembang konten digital, serta studi dokumentasi teks dan media daring. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wariga telah bergeser dari sistem sakral berbasis komunitas menjadi alat bantu teknis yang dipraktikkan secara individual melalui aplikasi digital dan media sosial. Generasi muda cenderung mengakses wariga secara pragmatis dan simbolik, sementara tokoh adat menunjukkan kekhawatiran terhadap hilangnya nilai spiritual dan kedalaman filosofisnya. Meskipun demikian, muncul inisiatif kolaboratif lintas generasi untuk merevitalisasi wariga melalui pendekatan edukatif, kontekstual, dan berbasis teknologi. Penelitian ini menegaskan bahwa wariga tidak punah, melainkan sedang mengalami konfigurasi ulang dalam ketegangan antara pelestarian tradisi dan tuntutan modernitas.

Penelitian ini menunjukkan bahwa ilmu wariga sebagai sistem pengetahuan tradisional masyarakat Bali, khususnya di wilayah adat Buleleng, tidak bersifat statis, melainkan mengalami transformasi yang kompleks sebagai respons terhadap modernitas, digitalisasi, dan perubahan nilai-nilai sosial.Wariga yang dahulu dijalankan secara kolektif dan sakral kini mulai dipraktikkan secara individual dan pragmatis, terutama melalui aplikasi digital dan media sosial.Transformasi ini telah menyebabkan pergeseran makna wariga dari sistem epistemologis yang bersifat spiritual menjadi alat bantu teknis yang lebih efisien dan mudah diakses, meskipun berpotensi kehilangan kedalaman filosofisnya.Generasi muda cenderung menggunakan wariga secara simbolik dan praktis, sementara tokoh adat menunjukkan kekhawatiran terhadap melemahnya otoritas juru dewasa serta pemudaran nilai-nilai sakral.Meskipun demikian, muncul upaya kolaboratif yang menggembirakan dari kalangan adat dan pemuda untuk merevitalisasi wariga dengan pendekatan edukatif dan digital, tanpa mengorbankan nilai-nilai lokalnya.Keberadaan wariga dalam konteks masyarakat Buleleng kini berada dalam ruang negosiasi antara pelestarian tradisi dan tuntutan modernitas.Dengan demikian, wariga tidak sedang mengalami kepunahan, tetapi sedang dikonfigurasi ulang secara aktif sebagai sistem pengetahuan yang dinamis.Penelitian ini menegaskan bahwa kunci keberlanjutan wariga terletak pada kesediaan masyarakat adat, generasi muda, akademisi, dan pengambil kebijakan untuk merancang strategi pelestarian yang adaptif, kolaboratif, dan kontekstual terhadap zaman.

Untuk menjaga relevansi dan keberlanjutan ilmu wariga dalam masyarakat adat Buleleng, perlu dikembangkan strategi pelestarian yang adaptif dan kolaboratif. Pertama, perlu ada upaya regenerasi dan peningkatan literasi budaya di kalangan generasi muda agar mereka memahami dan menghargai nilai-nilai tradisional wariga. Kedua, penting untuk mengintegrasikan wariga dalam kurikulum pendidikan formal dan informal, sehingga generasi muda dapat belajar tentang wariga sebagai bagian dari warisan budaya dan filosofi kehidupan masyarakat Bali. Ketiga, diperlukan dokumentasi dan digitalisasi ilmu wariga agar lebih mudah diakses dan dipelajari oleh masyarakat luas. Penerbitan buku, jurnal, dan pembuatan aplikasi edukatif tentang wariga dapat menjadi langkah strategis dalam melestarikan warisan budaya ini. Dengan demikian, wariga dapat tetap relevan dan berkembang dalam era modern tanpa kehilangan substansi spiritual dan nilai lokalnya.

Read online
File size277.19 KB
Pages20
DMCAReport

Related /

ads-block-test