UNSRIUNSRI

Jurnal EmpirikaJurnal Empirika

Mamak dalam masyakat yang menganut sistem matrilineal di Minangkabau memiliki kedudukan utama sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap keluarga utama maupun keluarga asalnya, termasuk pada kemenakannya. Peran tersebut tidak hanya sebatas paman, namun juga sebagai pemimpin, penjaga harta pusaka, namun hal ini tidak dapat optimal dilakukan dalam kondisi mamak yang tinggal diperantauan karena berada jauh dari daerah asalnya. Media sosial menjadi alternative bagi mamak untuk tetap dapat berkomunikaasi, menjaga hubungan, membina tradisi keluarga dan memberikan perhatian pada kemenakan. Akan tetapi, komunikasi via virtual memiliki hambatan untuk mamak dapat menjalankan perannya dengan maksimal. Penelitian ini menggunakan kualitatif deskriptif. Teknik penentuan informan purposive sampling dengan 7 informan perantau. Adapun hasil penelitian menunjukan bahwa hambatan yang ditemukan yaitu kedekatan emosional dan interaksi dengan kemenakan yang tidak efektif, adaptasi peralihan dari komunikasi konvensional ke virtual menjadikan mamak kesulitan dalam menggunakan media sosial, jaringan internet yang kadang kala tidak lancar dan biaya kuota internet yang terbatas. Dalam komunikasi virtual ini hambatan tersebut mempengaruhi simbol-simbol sosial dan kedekatan emosional yang dapat dimaknai dan diterjemahkan dalam interksi secara langsung untuk menjaga relasi kekeluargaan dengan kemenakan.

Penelitian ini menunjukkan bahwa proses komunikasi antara mamak dan kemenakan melalui media sosial, khususnya WhatsApp, merupakan bentuk interaksi sosial yang sarat makna dan dipengaruhi oleh konteks budaya Minangkabau.Dalam perspektif interaksionisme simbolik Herbert Blumer, tindakan komunikasi mamak tidak hanya dilihat sebagai pertukaran pesan semata, tetapi juga sebagai proses interpretasi makna terhadap simbol-simbol sosial yang terkandung dalam pesan tersebut.Sebagai figur sosial yang memiliki tanggung jawab moral terhadap kemenakan dan kaumnya, mamak menafsirkan penggunaan media sosial sebagai sarana alternatif untuk menjalankan peran sosialnya ketika keterbatasan jarak menjadi penghalang komunikasi langsung.Tindakan mamak dalam menggunakan WhatsApp didorong oleh makna yang melekat pada dirinya sebagai seorang pembimbing, pekerja, dan anggota kaum.Namun, proses komunikasi ini juga diwarnai oleh berbagai hambatan, baik sosiologis maupun teknis, seperti keterbatasan adaptasi terhadap teknologi, gangguan jaringan internet, keterbatasan kemampuan menggunakan fitur aplikasi, serta hilangnya unsur nonverbal dalam komunikasi digital.Hambatan-hambatan tersebut berimplikasi pada terjadinya gangguan semantik dan interpretatif yang dapat menyebabkan kesalahpahaman makna pesan.Meskipun demikian, melalui proses self-indication, mamak tetap berperan aktif dalam menilai, memberi makna, dan menentukan tindakan yang dianggap tepat dalam setiap interaksi.Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi yang terjadi bersifat reflektif, dinamis, dan bergantung pada interpretasi simbolik yang dibentuk oleh pengalaman sosial dan nilai budaya yang dimiliki mamak.Dengan demikian, komunikasi antara mamak dan kemenakan di ranah digital tidak hanya merepresentasikan adaptasi teknologi, tetapi juga merupakan bentuk keberlanjutan nilai-nilai sosial budaya Minangkabau di era modern.Interaksi ini menegaskan bahwa simbol, makna, dan interpretasi tetap menjadi inti dari hubungan sosial, sekalipun dijembatani oleh teknologi komunikasi baru seperti media sosial.

Untuk penelitian lanjutan, dapat dilakukan studi komparatif tentang hambatan komunikasi virtual antara mamak dan kemenakan di berbagai daerah perantauan Minangkabau, dengan mempertimbangkan perbedaan konteks sosial dan budaya di masing-masing daerah. Selain itu, penelitian dapat fokus pada strategi adaptasi yang digunakan mamak dalam mengatasi hambatan komunikasi virtual, serta dampak dari adaptasi tersebut terhadap hubungan kekerabatan dan nilai-nilai budaya Minangkabau. Terakhir, penelitian juga dapat mengeksplorasi peran media sosial lain selain WhatsApp dalam komunikasi mamak dan kemenakan, serta bagaimana perbedaan fitur dan budaya komunikasi di masing-masing platform mempengaruhi interaksi dan pemaknaan simbolik dalam hubungan kekerabatan.

  1. Minangkabau Matriliny and Gender Equality: Cultural Contribution to Sustainable Development Goals | Nasir... ajis.fisip.unand.ac.id/index.php/ajis/article/view/389Minangkabau Matriliny and Gender Equality Cultural Contribution to Sustainable Development Goals Nasir ajis fisip unand ac index php ajis article view 389
  2. Mobile Apps WhatsApp Sebagai Media Komunikasi dan Informasi: Studi Literatur Sistematik | CoverAge: Journal... journal.univpancasila.ac.id/index.php/coverage/article/view/6238Mobile Apps WhatsApp Sebagai Media Komunikasi dan Informasi Studi Literatur Sistematik CoverAge Journal journal univpancasila ac index php coverage article view 6238
  3. Penyebab Perempuan Minangkabau Merantau dan Pengaruh Relasi Sosial Keluarga Inti dalam Sistem Kekerabatan... doi.org/10.35134/jpsy165.v15i4.204Penyebab Perempuan Minangkabau Merantau dan Pengaruh Relasi Sosial Keluarga Inti dalam Sistem Kekerabatan doi 10 35134 jpsy165 v15i4 204
Read online
File size478.46 KB
Pages20
DMCAReport

Related /

ads-block-test